cerita dewasa - Bagi pembaca sekalian yang telah membaca pengalamanku di awalnya berjudul “Score kita Nol-Nol” pasti telah menyadari bagaimana awalnya.
Aku mempunyai rencana ulang ke Jakarta untuk urusan Imigrasi. Sheena gembira mendengar saya dapat ulang ke Jakarta. Tapi untuk ubah suasana, saya usulkan untuk bercinta di daerah lain yang kita berdua belum dulu kunjungi. Seteh pilih-pilih daerah dan sesuai bersama ukuran kantong kami, kita lalu menentukan Kuala Lumpur, sekalian meninjau Petronas Twin-Towers.

Jadilah saya terbang ke Jakarta. Setibanya di Jakarta, Sheena langsung kukabari tetapi dikarenakan Sheena tetap masuk kantor dan akupun repot urusan imigrasiku, kita baru mampu janjian ketemu terhadap hari sabtu, padahal esoknya hari minggu telah musti berangkat ke Kuala Lumpur. Bagi pembaca yang rela menyadari pertemuan kita ini bacalah kisah “Membuat Score Bersama” cerita sex
Singkat Cerita, kita berdua berjumpa di Cengkareng, tanpa ciuman dan gandeng tangan, kita menuju counter check-in, tak lama lantas kita berdua telah duduk di kursi pesawat yang siap berangkat ke Kuala Lumpur. Setelah pesawat mengudara dan seat-belt telah boleh dilepas, tangan Sheena singgah di pahaku, otomatis batangku menjadi tegang. Karena saya manfaatkan Jeans, batang kemaluanku menjadi agak sakit. Ia rupanya telah paham.
“Adikmu sakit ya Mas?” tanyanya bercanda sambil mengelus-elus pahaku. Batang kemaluanku menjadi jadi tegang. Aku lalu berharap selimut kepada awak cabin, bukan kedinginan dikarenakan AC, tetapi sehingga tidak ada yang menyaksikan saya melonggarkan kuncir pinggang dan menurunkan resletingku. Karena manfaatkan selimut tangan Sheena menjadi lebih berani masuk ke celah resletingku, kelanjutannya capai batang kemaluanku yang tetap ditutup celana dalamku yang telah basah setempat.
Meskipun Sheena sungguh pintar dalam memiliki rencana rangsangan, posisi kursi pesawat tidak amat mungkin berbuat macam-macam tanpa ‘bikin heboh’. Dengan terpaksa kutahan nafsu birahiku, tetapi saya selalu rela balas biar iapun menjadi ‘susah’. Dari dalam selimut, tanganku mengelus-elus dadanya. Sengaja saya tidak memasukkan jari-jariku ke dalam bajunya, memadai kuelus dari luarnya saja. Setelah kulihat Sheena menjadi agak “tidak tenang”. Ia mendengus pelan, “Enghh.. hh..”
Tanganku kuturunkan ke pahanya dan tetap ke antara kedua pahanya. Aku berhasil membuatnya merasakan rangsangan birahi yang saya menyadari tak mampu disalurkan. Ia hanya mampu mendesah, “Hhh.. hh.. hh..”
Setengah perjalanan telah berlalu, kita berdua tetap tetap saling meraba bersama target merangsang pasangan tiap-tiap sehingga terhadap ‘nggak tahan’ lagi. Tapi tiba tiba mesti kita stop dikarenakan ada seorang wanita berharap bantuan, rupanya TKW yang tidak menyadari cara isi kartu registrasi kehadiran untuk bandara Kuala Lumpur. Karena terganggu nafsu kita menjadi hilang dan kita berdua menjadi senyum-senyum sendiri.
Tiba di Kuala Lumpur, kita langsung menuju hotel MLA di kira-kira jantung kota Kuala Lumpur. Seperti kebanyakan check-in, diantar oleh pelayan hotel ke kamar, pakai sinyal DO NOT DISTURB di gagang pintu, kunci pintu.
“Sayang.. kelanjutannya sampai juga ya,” mengakses keheningan.
Aku mulai badanku agak hangat dan sendi-sendiku agak linu layaknya rela sakit flu. Soalnya baru perjalanan jauh dari Brisbane ditambah kemarin (Sabtu, baca kisah “Membuat Score Bersama”) baru saja ML ‘keluar bareng’ di Jakarta.
“Ehm..”
Aku menyadari kalu ia telah malas ngomong bermakna saya mesti menyadari diri jangan kaya NATO (No Action Talk Only) yang dulu. Kupeluk ia bersama lembut dan mesra dari belakang, kedua telapak tanganku menelungkupi kedua buah dadanya, kucium belakang telinganya lalu turun ke leher kanan, kukecup dan kusedot lehernya.
“Enghh.. sshh..,” ia mulai mendesis, ia tak cemas ulang dapat sinyal merah di lehernya.
Ciumanku perlahan ubah ke leher kiri sambil kedua tanganku mengangkat bajunya ke atas. Ia mengangkat kedua tangannya ke atas memudahkan bajunya dilepaskan keatas. Bajunya kulemparkan ke kursi, saya lalu mengakses bajuku sendiri.
Aku selalu berdiri dibelakang Sheena, kini saya telah bertelanjang dada tengah tubuh bagian atas Sheena hanya mengenakan BH. Kembali kupeluk ia dari belakang, bibirku mencium telinganya, kedua tanganku bergerak naik dari perutnya kebawah buah dadanya. Perlahan jari-jari tanganku menyelip keatas kedalam BHnya, langsung menangkup kedua buah dadanya.
“Aduh.. Ari.. enak.. auuhh”
Tangan kiriku selalu tetap menyelip di dalam BHnya tengah tangan kananku bergerak nampak lalu ke punggungnya, melepas Klip BHnya. Lepaslah BHnya, kini kedua tanganku bebas memutar-mutar kedua putingnya secara bersamaan.
“Auh.. enghh..,” desisnya jadi menyadari terdengar. Sejenak lantas ia mendadak berbalik sehingga tanganku lepas dari buah dadanya. Ia lalu mencium dan melumat bibirku. Tanganku yang tadi lepas sekarang telah menemukan ulang kedua buah dadanya yang kini berada didepanku. Kuelus-elus kedua buah dadanya lalu kupencet lembut putingnya bersama ibu jari dan jari telunjukku.
Tanpa melepas ciumannya, tangan-tangan Sheena mengakses kuncir pinggangku dan membuangnya ke kursi. Resletingku diturunkan, otomatis Jeansku menjadi longgar, lalu Sheena turun berjongkok di depanku menurunkan Jeansku yang telah longgar itu. Batang kemaluanku telah mengeras, ujung kepalanya nongol sedikit dari atas celana dalamku yang berwarna merah. Ia lalu menempelkan hidungnya ke batang kemaluanku dari luar celana dalamku sambil jari telunjuk kanannya disentuh-sentuhkan keujung kepala kemaluanku yang nongol dari celana dalamku.
Dengan telunjuknya itu, ia oles-oleskan cairan beningku sampai merata ke topi bajaku, lalu dipelorotkan celana dalamku akibatnya batang kemaluanku mental kedepan layaknya pegas dan berkenaan hidungnya. Ia mendongak dan memundurkan sedikit hidungnya sambil mengakses mulutnya, otomatis kepala kemaluanku jatuh kedalam mulutnya. Ia lalu menutup mulutnya dan menghisap kepala kemaluanku sambil melirik keatas menatap mataku.
Oh.. nikmat sekali hisapan mulutnya itu. Tanpa memegang batang kemaluanku, ia tetap menghisap, mengulum dan pelan-pelan memasuk-keluarkan kemaluanku. Sulit kunyatakan enaknya kuluman dan hisapannya. Setidaknya 15 menit saya terlena dalam keadaan berdiri. Selang sebagian sementara saya ingin gantian kerjain dia, kuangkat, kugendong lalu kurebahkan tubuhnya terlentang diatas ranjang. Aku telah dalam keadaan telanjang namun ia tetap Mengenakan celana panjang walau bagian atasnya telah tanpa pakaian lagi.
Aku lalu berjongkok disisi bawah daerah tidur, mengakses kuncir pinggangnya, menurunkan resletingnya lalu menarik lepas Jeansnya. Celana dalamnya terlihat agak lembab, langsung saya tarik turun lewat kakinya. kini lengkaplah telah ia telanjang bulat dihadapanku. Kutarik kakinya sehingga pantatnya rata bersama tepi daerah tidur dimana saya berjongkok.
Ia telah mampu menebak apa yang dapat kulakukan makanya iapun mengakses kedua pahanya. Aku menyadari kemaluannya telah ingin dijilati dan digelitiki oleh lidahku, tetapi saya memulainya bersama menjilati pangkal pahanya dulu, yang kanan lalu yang kiri, lantas tambah naik keperut. Pantatnya bergerak-gerak, iapun menggeliat dan mengerang, “Emmhh.. uusshh”
Aku tetap belum rela menjilati vaginanya. Sambil menciumi perutnya, kusibak bulu-bulu kemaluannya sehingga terlihat belahan bibirnya. Jari telunjuk kananku kumasukkan pelan-pelan kedalam lubangnya lalu pelan-pelan kuputar-putar namun ciumanku tetap bergerak naik kedadanya.
“Auh.. aduh.. Ari.. anda gila..”
Akupun menjadi jadi bernafsu, kusedot puting kanannya namun puting yang kiri kujepit bersama jari-jari tangan kiriku sementara jari telunjuk tangan kananku tetap tenggelam di dalam lubang kemaluannya. Sesekali kurasakan cincin vaginanya menjepit jariku. Meski dalam keadaan terangsang, saya tetap mampu terkagum-kagum, bagaimana kemungkinan jari telunjukku sekecil ini mampu dijepit sekeras ini. Kalau tidak merasakan sendiri rasanya saya sulit percaya. Puting susunya tetap kelumat, sedot dan di dalam mulutku kujilati ujungnya. Sheena hanya mampu memegang rambut dan kepalaku sambil menghindar kenikmatan yang menderanya.
Kini kurasakan telah saatnya mulutku kuturunkan dari buah dadanya, sasarannya adalah celah satu diantara kedua pahanya. Kubuka kedua pahanya lebih lebar ulang sehingga belahan vaginanya ikut sedikit membuka. Segera kubenamkan lidahku membelah celahnya. Kali ini ia langsung menjerit “Awh.. uh..” mengejang, tak menyadari badannya agak bangun membungkuk keatas. Lidahku lalu menyapu belahannya itu keatas dan kebawah sambil kedua tanganku mengelus-elus pangkal pahanya dan kira-kira lubang kemaluanya, sesekali kutekan-tekan gundukan bibir kemaluannya.
“Ouh.. Ari.. tetap sayang.. uuhh.. sayang.. aduhh”
Seranganku kutingkatkan lagi, bersama jari-jari tanganku kubuka lebih lebar ulang belahan vaginanya sampai kulihat bagian dalam kemaluannya yang kemerahan. Segera kusapu ulang bersama lidahku.
“Aawww.. Ri.. aduh.. tetap sayang..terus..aduh.. gila anda Ri..”
Rasanya nyaris 20 menit mulut dan lidahku melekat dan menyapu lubang kemaluannya, telah waktunya bagiku untuk memasukkan penisku kedalam lubang kemaluannya ini. Kemaluanku pun telah mengeluarkan cairan bening dari tadi. Aku lalu bangun berdiri tetapi agak berkunang-kunang dikarenakan amat lama jongkok. Tanpa buang sementara lagi, kuarahkan penisku ke lubangnya yang telah basah akibat liurku dan cairan vaginanya. Bless.. masuklah batang kemaluanku ke dalam vaginanya. Rupanya ia sesungguhnya sengaja tidak ‘mengunci’ cincinnya itu bersama begitu tidak amat sulit untuk menembusnya.
Dengan selalu berdiri di tepi ranjang, saya bergerak memompa maju mundur. Lagi-lagi ia tetap belum rela manfaatkan cincinnya itu sehingga saya tetap mampu memompa maju mundur bersama cepat, tetapi erangannya jadi keras terdengar setiap batangku melesak masuk. Aku tetap memompa bersama cepat tanpa istirahat, saya berharap benar bersama gaya baru kali ini saya mampu membuatnya ‘keluar’ lebih dahulu. Harapanku rupanya hanya selalu menjadi harapan, telah lewat 25 menit sejak kumasukkan kemaluanku dan bergerak non-stop mengocoknya begini, tetap belum ada tanda-tanda ia dapat ‘keluar’.
Karena ‘olah raga memompa maju mundur’ ini kulakukan terus menerus sembil berdiri, keringatku mulai nampak membasahi tubuhku, pinggangku mulai capek, tetapi kumantapkan niatku untuk bertahan mengocoknya. Aku lalu bilang padanya, “Masih bandel juga ya? Aku ingin liat, anda atau saya yang nampak duluan.”
Baru selesai omong, tiba-tiba kurasakan sulit untuk maju mundur dikarenakan batangku layaknya dicengkram oleh cincin vaginanya. Auhh.. kini giliran saya yang keenakan. Rupanya saya omong amat sesumbar sehingga ia ingin ‘memberi pelajaran’ padaku. Batang kemaluanku amat layaknya dicengkram dan diremas, seret sekali masuk keluarnya. 15 menit ulang lewat, kini penisku telah mulai berdenyut-denyut rasanya kali ini kok saya dapat nggak kuat menghindar jepitannya.
“Kamu lelah Say? sekarang gantian ya, lepas dulu dong, lalu anda naik kesini sambil sandaran kedinding ya.” Akupun mencabut batang kemaluanku dari vaginanya. Tanganku ditariknya sehingga saya naik ke ranjang. Ia lalu bantu mendorong sehingga saya bergerak menyandar ketembok dibelakang daerah tidur.
Setelah saya duduk disisi atas daerah tidur sambil bersandar ketembok Sheena naik ke pahaku, berjongkok lalu memasukkan batangku ke vaginanya, lalu pelan-pelan menurunkan tubuhnya sampai duduk di selangkanganku. Ujung kemaluanku rasanya layaknya mentok ke dinding rahimnya.
Ia melingkarkan kedua tangannya ke belakang leherku lalu bibirnya mencium dan melumat bibirku, kedua buah dadanya mulai menghimpit dadaku. Kurasakan batang kemaluanku yang tengah terbenam menjadi tambah mengeras dan berdenyut dalam kemaluannya. Cengkraman cincinnya ulang mendera batang kemaluanku, kini iapun tingkatkan serangannya bersama menaikturunkan tubuhnya sambil ‘cincin’ vaginanya menjepit kemaluanku tengah mulutnya mengunci mulutku. Kedua buah dadanya menghimpit dan menggesek dadaku.
Dalam tidak cukup dari 15 menit saya telah dibuat megap-megap menghindar serangannya. Iapun berhenti naik turun untuk meberi saya napas, tetapi cincin vaginanya selalu ia rapatkan. Aku sungguh heran, bagaimana ia mampu mempertahankan kontraksi cincinnya non-stop selama itu. Ia tersenyum penuh kemenangan, katanya “Kalau saya rela sekarang ini anda telah kalah”
Dalam hati saya mengakui bahwa ia benar. Akupun menjawab, “Ok, kelanjutannya anda menang.”
Aku tetap heran kok saya mampu dikalahkan dalam keseluruhan sementara hanya kira-kira 1 jam 30 menit, padahal kebanyakan ‘pertarungan’ku bersama Sheena kebanyakan capai keseluruhan 4 atau 5 jam, itupun selalu berakhir seri 1 – 1 dikarenakan serupa serupa sepakat mengalah untuk ‘keluar’. Aku tetap belum menyadari bahwa saya telah mulai kena flu sejak tiba di Airport tadi dan sampai sekarang belum istirahat.
Sheena mencium keningku, pipiku dan bibirku, sambil tetap mempermainkan cincin vaginanya. Jepit, longgar, jepit, longgar, kemungkinan istilahnya empot ayam. Ia tidak menaikturunkan pantatnya dikarenakan ia menyadari dapat kondisiku yang nyaris di puncak, tetapi ia rela sehingga saya merasakan nimatnya ‘proses ke puncak’ tanpa sampai ‘kelewatan’.
“Udahan dulu ya, kita mandi yuk, kan dari Jakarta sampai sekarang belum mandi,” tawarnya.
“Boleh.. biar istirahat dikit.. anda nyalain dulu airnya ya biar bath-tub nya terisi,” kataku.
Ia tingkatkan pantatnya melepas batang kemaluanku dari vaginanya lalu turun dari daerah tidur menuju kamar mandi dan memunculkan kran air di bath-tub. Aku lantas bangkit juga menuju ke kamar mandi. Kulihat ia tengah duduk di closet bersihkan vaginanya yang basah bersama campuran cairan beningku dan lendir vaginanya.
Meski air dalam bath-tub belum amat dalam, saya langsung masuk dan duduk berendam sambil bersandar terhadap dinding bath-tub. Batang kemaluanku yang tetap keras itu pelan-pelan melemas setelah terendam dalam air. Sheenapun masuk ke bath-tub dan ikutan duduk berendam. Iseng-iseng tangannya mengelus-elus batang kemaluanku untuk bersihkan lendir yang melekat di batang kemaluanku. Elusan jari-jari tangannya menyebabkan kemaluanku ulang menegang. Ia tertawa kecil sementara merasakan ‘anuku’ berdenyut mengeras di tangannya. Setelah dilihatnya kemaluanku telah bersih, ia bilang, “Coba mundur dikit dong”. Akupun bergerak mundur dan bersandar terhadap ujung bath-tub untuk memberi ruang yang lebih panjang baginya.
Ia lalu mencabut sumbat bath-tub sehingga airnya pelan-pelan berkurang. Setelah airnya nyaris habis, turun sampai setinggi biji kemaluanku, sumbatnya dipasang lagi. Kini batang kemaluanku berada di atas permukaan air namun biji kemaluanku 1/2 tenggelam. Tangannya ulang mengelus-elus batangku, lalu ia mengambil alih posisi nungging di depanku. Pelan-pelan kepalanya diturunkan dan mulutnya diarahkan ke kepala kemaluanku. Mulutnya mengakses lalu mencaplok kepala kemaluanku, tangan dan siku kirinya dipakai membantu tubuhnya sehingga selalu menungging tengah jari-jari tangan kanannya mengocok batang kemaluanku maju mundur. Mulutnya sampai kempot menyedot kepala kemaluanku. Aduhh.. rasanya sungguh luar biasa.
Sesaat kemudian, jari-jari tangan kanannya bergerak maju memegang pangkal batang kemaluanku sambil mulutnya bergerak maju-mundur. Nikmat yang kualami sungguh tak terbilang.. ini adalah oral seks yang ternikmat dalam hidupku. Sampai sementara ini tetap yang ternikmat bagiku. Mulutnya tetap maju mundur sampai batangku terlihat memerah, lantas fokusnya dialihkan ke kira-kira leher kemaluanku. Dihisap-hisapnya kepala kemaluanku sampai dilehernya, digigit-gigit kecil belakang topi bajaku, lidahnya disapu-sapukan kelilingnya, lalu kepala kemaluanku dicaplok dan disedot bersama kuat lalu dikulum-kulum. Lidahnya menari-nari dalam mulutnya menyentuh-nyentuh lubang pipisku. Setelah itu ulang ia maju mundurkan mulutnya tetapi hanya sampai dilehernya saja, tidak sampai kepala kemaluanku keluar.
Rupanya Sheena ingin tunjukkan bahwa tidak hanya vaginanya saja yang mampu ‘mengalahkanku’, ia ingin ‘mengalahkanku’ bersama mulutnya. Ia terus menerus menjilat, mengulum dan menghisap batang kemaluanku sampai saya amat merem melek dibuatnya. Tetapi terhadap dasarnya saya sesungguhnya tidak dulu mampu ‘keluar’ dimulut wanita jika tidak kupaksakan sendiri untuk ‘keluar’ (Istriku dulu menyedotku selama 45 menit sampai lehernya pegal dan saya selalu tidak keluar), tetapi Sheena tak menyadari dapat kebiasaanku ini sehingga ia berpikir saya pasti ‘keluar’ oleh serangannya.
Setelah nyaris 20 menit non-stop menyerangku, ia melirikku lalu melepas mulutnya dari kepala kemaluanku.
“Enak nggak?” tanyanya sambil tangan kanannya selalu memegang batangku.
“Ini yang paling sedap dari semuanya,” kataku.
“Naik ulang ke daerah tidur yuk.. tetapi gendong ya.. lelah sih,” katanya.
Aku nampak dari bath-tub lalu menariknya sehingga bangun lantas menggendongnya ke ranjang. Kami telah tidak perduli ulang bahwa tubuh kita tetap 1/2 basah.
Aku ulang berada diatasnya bersama posisi push-up, ia membimbing batang kemaluanku masuk ke lubangnya, bless.. masuklah batangku. Ia memekik, “Awk..” agak sakit dikarenakan tetap seret. Aku tetap memacu pantatku menyodok lubang kemaluanku. Disetiap hentakan pantatku ia selalu heboh “Awww..awww..”
Rasanya 15 menit berlalu, kemaluanku rasanya telah berdenyut-denyut lagi, bermakna saya telah nyaris di puncak. Agar tidak kalah, saya kurangi ke cepatanku lalu saya minta ubah posisi.
Sambil merawat sehingga kemaluanku tidak lepas, kita berbalik, kini ia berada diatasku. Sejenak ia hanya duduk saja diatasku tidak bergerak. Ia rupanya nikmati denyutan batang kemaluanku. Kurasakan jepitan vaginanya meningkat seakan-akan memeras batangku. Setelah nyaris 10 menit kemudian. Ia menyaksikan saya telah ‘hampir sekarat’ dikarenakan permainan jepitan vaginanya, ia lalu tempatkan kedua lenganku ke atas kepalaku dan dipegangnya bersama kedua tangan kanannya yang juga untuk membantu tubuhnya. Mulutnya diturunkan mencium bibirku sambil pantatnya mulai dinaik-turunkan. Puting buah dadanya yang bergantung-gantung menggesek-gesek dadaku tingkatkan sensasi nikmat serangannya. Saat kemaluannya ditarik sampai ke leher kemaluanku jepitannya dilonggarkan, sementara rela diturunkan dikeraskan ulang dan seterusnya.film semi klik disini
Kini saya amat ‘sudah sekarat’. Ia justru mempercepat gerak naik turun pantatnya. Aku mencoba mati-matian bertahan, setiap kali pantatnya diturunkan, saya mengejang dan mendengus “Enghh.. enghh.. enghh.. enghh,” tetapi saya tidak mampu bertahan lagi. Rasanya tidak cukup dari 5 menit setelah ia mempercepat naik-turun sambil menjepit, kemaluanku berdenyut-denyut dan akhirnya, “Uhh..” pertahananku jebol, saya muncrat di dalam lubang kemaluannya. Disaat kemaluanku berdenyut menyemprot air maniku, ia tetap naik turun dan mengeraskan cincin vaginanya. Lemaslah tubuhku, seluruh otot-ototku rasanya lepas dari tulangku, kenikmatannya nyata-nyata enak.
Sheena tidak langsung bangkit, ia hanya berbaring di dadaku bersama batang kemaluanku tetap menancap di vaginanya. Pelan-pelan batang kemaluanku melemas. Campuran sperma dan lendirnya mengalir nampak dari lubangnya, meleleh ke selangkanganku dan ke sprei ranjang. Ia menggeliat ke telingaku dan berbisik “Satu nol ya..,” sambil tersenyum.
Pembaca, itulah hari pertama kita di Kuala Lumpur. Tubuhku rasanya agak lemah, tetapi saya tetap saja berpikir “Ah tidak apa-apa, kemungkinan sebentar ulang juga pulih.” Hari kedua dan selanjutnya kita selalu hangat bercinta. Sesekali saya tetap mampu “menang” tetapi lebih banyak “kalah”.
Tubuhku telah tambah lemah, saya kelanjutannya menyadari telah jatuh sakit. Di hari ke delapan paling akhir sesaat sebelum akan meninggalkan hotel menuju bandara, saya tetap nekat ‘menantangnya’ ulang bersama kemampuan terakhir, hasilnya saya ‘kalah’ lagi. Aku telah tak ingat berapa skor akhir kami, yang menyadari saya ‘kalah’.
Dibandara kita berpisah, pesawatku berangkat dahulu ulang ke Australia namun Sheena sejam lantas ulang ke Jakarta. Dipesawat suhu tubuhku kian naik, otot-otot tubuhku rasanya linu dan tidak bertenaga. 7 jam perjalanan hanya mampu di kursi saja tambah menyusahkan. Setibanya di rumah, saya amat jatuh sakit, sempat muntah-muntah pula. Untung sementara cuti kerjaku belum habis sehingga tidak mesti ditambah bersama cuti sakit lagi. Tetapi yang paling sebal, saya penasaran dikalahkan oleh Sheena, telak lagi. Seharusnya saya istirahat khususnya dahulu setelah tiba di Kuala Lumpur sampai flunya hilang dulu dan tidak langsung ngajak ‘perang’, toh tetap ada hari-hari esoknya. film semi klik disini
Sayangnya saya tidak mampu membalas kekalahanku dikarenakan itulah paling akhir kalinya saya berjumpa dengannya. Pada kedatanganku ke Jakarta yang berikutnya, saya tidak mampu menemuinya. Kini Ia telah ubah ke Kalimantan. “Sheena” if you read this story then you should know that I could be better. But any way, nomer excuses, I admit that you have won!”
Aku mempunyai rencana ulang ke Jakarta untuk urusan Imigrasi. Sheena gembira mendengar saya dapat ulang ke Jakarta. Tapi untuk ubah suasana, saya usulkan untuk bercinta di daerah lain yang kita berdua belum dulu kunjungi. Seteh pilih-pilih daerah dan sesuai bersama ukuran kantong kami, kita lalu menentukan Kuala Lumpur, sekalian meninjau Petronas Twin-Towers.

Jadilah saya terbang ke Jakarta. Setibanya di Jakarta, Sheena langsung kukabari tetapi dikarenakan Sheena tetap masuk kantor dan akupun repot urusan imigrasiku, kita baru mampu janjian ketemu terhadap hari sabtu, padahal esoknya hari minggu telah musti berangkat ke Kuala Lumpur. Bagi pembaca yang rela menyadari pertemuan kita ini bacalah kisah “Membuat Score Bersama” cerita sex
Singkat Cerita, kita berdua berjumpa di Cengkareng, tanpa ciuman dan gandeng tangan, kita menuju counter check-in, tak lama lantas kita berdua telah duduk di kursi pesawat yang siap berangkat ke Kuala Lumpur. Setelah pesawat mengudara dan seat-belt telah boleh dilepas, tangan Sheena singgah di pahaku, otomatis batangku menjadi tegang. Karena saya manfaatkan Jeans, batang kemaluanku menjadi agak sakit. Ia rupanya telah paham.
“Adikmu sakit ya Mas?” tanyanya bercanda sambil mengelus-elus pahaku. Batang kemaluanku menjadi jadi tegang. Aku lalu berharap selimut kepada awak cabin, bukan kedinginan dikarenakan AC, tetapi sehingga tidak ada yang menyaksikan saya melonggarkan kuncir pinggang dan menurunkan resletingku. Karena manfaatkan selimut tangan Sheena menjadi lebih berani masuk ke celah resletingku, kelanjutannya capai batang kemaluanku yang tetap ditutup celana dalamku yang telah basah setempat.
Meskipun Sheena sungguh pintar dalam memiliki rencana rangsangan, posisi kursi pesawat tidak amat mungkin berbuat macam-macam tanpa ‘bikin heboh’. Dengan terpaksa kutahan nafsu birahiku, tetapi saya selalu rela balas biar iapun menjadi ‘susah’. Dari dalam selimut, tanganku mengelus-elus dadanya. Sengaja saya tidak memasukkan jari-jariku ke dalam bajunya, memadai kuelus dari luarnya saja. Setelah kulihat Sheena menjadi agak “tidak tenang”. Ia mendengus pelan, “Enghh.. hh..”
Tanganku kuturunkan ke pahanya dan tetap ke antara kedua pahanya. Aku berhasil membuatnya merasakan rangsangan birahi yang saya menyadari tak mampu disalurkan. Ia hanya mampu mendesah, “Hhh.. hh.. hh..”
Setengah perjalanan telah berlalu, kita berdua tetap tetap saling meraba bersama target merangsang pasangan tiap-tiap sehingga terhadap ‘nggak tahan’ lagi. Tapi tiba tiba mesti kita stop dikarenakan ada seorang wanita berharap bantuan, rupanya TKW yang tidak menyadari cara isi kartu registrasi kehadiran untuk bandara Kuala Lumpur. Karena terganggu nafsu kita menjadi hilang dan kita berdua menjadi senyum-senyum sendiri.
Tiba di Kuala Lumpur, kita langsung menuju hotel MLA di kira-kira jantung kota Kuala Lumpur. Seperti kebanyakan check-in, diantar oleh pelayan hotel ke kamar, pakai sinyal DO NOT DISTURB di gagang pintu, kunci pintu.
“Sayang.. kelanjutannya sampai juga ya,” mengakses keheningan.
Aku mulai badanku agak hangat dan sendi-sendiku agak linu layaknya rela sakit flu. Soalnya baru perjalanan jauh dari Brisbane ditambah kemarin (Sabtu, baca kisah “Membuat Score Bersama”) baru saja ML ‘keluar bareng’ di Jakarta.
“Ehm..”
Aku menyadari kalu ia telah malas ngomong bermakna saya mesti menyadari diri jangan kaya NATO (No Action Talk Only) yang dulu. Kupeluk ia bersama lembut dan mesra dari belakang, kedua telapak tanganku menelungkupi kedua buah dadanya, kucium belakang telinganya lalu turun ke leher kanan, kukecup dan kusedot lehernya.
“Enghh.. sshh..,” ia mulai mendesis, ia tak cemas ulang dapat sinyal merah di lehernya.
Ciumanku perlahan ubah ke leher kiri sambil kedua tanganku mengangkat bajunya ke atas. Ia mengangkat kedua tangannya ke atas memudahkan bajunya dilepaskan keatas. Bajunya kulemparkan ke kursi, saya lalu mengakses bajuku sendiri.
Aku selalu berdiri dibelakang Sheena, kini saya telah bertelanjang dada tengah tubuh bagian atas Sheena hanya mengenakan BH. Kembali kupeluk ia dari belakang, bibirku mencium telinganya, kedua tanganku bergerak naik dari perutnya kebawah buah dadanya. Perlahan jari-jari tanganku menyelip keatas kedalam BHnya, langsung menangkup kedua buah dadanya.
“Aduh.. Ari.. enak.. auuhh”
Tangan kiriku selalu tetap menyelip di dalam BHnya tengah tangan kananku bergerak nampak lalu ke punggungnya, melepas Klip BHnya. Lepaslah BHnya, kini kedua tanganku bebas memutar-mutar kedua putingnya secara bersamaan.
“Auh.. enghh..,” desisnya jadi menyadari terdengar. Sejenak lantas ia mendadak berbalik sehingga tanganku lepas dari buah dadanya. Ia lalu mencium dan melumat bibirku. Tanganku yang tadi lepas sekarang telah menemukan ulang kedua buah dadanya yang kini berada didepanku. Kuelus-elus kedua buah dadanya lalu kupencet lembut putingnya bersama ibu jari dan jari telunjukku.
Tanpa melepas ciumannya, tangan-tangan Sheena mengakses kuncir pinggangku dan membuangnya ke kursi. Resletingku diturunkan, otomatis Jeansku menjadi longgar, lalu Sheena turun berjongkok di depanku menurunkan Jeansku yang telah longgar itu. Batang kemaluanku telah mengeras, ujung kepalanya nongol sedikit dari atas celana dalamku yang berwarna merah. Ia lalu menempelkan hidungnya ke batang kemaluanku dari luar celana dalamku sambil jari telunjuk kanannya disentuh-sentuhkan keujung kepala kemaluanku yang nongol dari celana dalamku.
Dengan telunjuknya itu, ia oles-oleskan cairan beningku sampai merata ke topi bajaku, lalu dipelorotkan celana dalamku akibatnya batang kemaluanku mental kedepan layaknya pegas dan berkenaan hidungnya. Ia mendongak dan memundurkan sedikit hidungnya sambil mengakses mulutnya, otomatis kepala kemaluanku jatuh kedalam mulutnya. Ia lalu menutup mulutnya dan menghisap kepala kemaluanku sambil melirik keatas menatap mataku.
Oh.. nikmat sekali hisapan mulutnya itu. Tanpa memegang batang kemaluanku, ia tetap menghisap, mengulum dan pelan-pelan memasuk-keluarkan kemaluanku. Sulit kunyatakan enaknya kuluman dan hisapannya. Setidaknya 15 menit saya terlena dalam keadaan berdiri. Selang sebagian sementara saya ingin gantian kerjain dia, kuangkat, kugendong lalu kurebahkan tubuhnya terlentang diatas ranjang. Aku telah dalam keadaan telanjang namun ia tetap Mengenakan celana panjang walau bagian atasnya telah tanpa pakaian lagi.
Aku lalu berjongkok disisi bawah daerah tidur, mengakses kuncir pinggangnya, menurunkan resletingnya lalu menarik lepas Jeansnya. Celana dalamnya terlihat agak lembab, langsung saya tarik turun lewat kakinya. kini lengkaplah telah ia telanjang bulat dihadapanku. Kutarik kakinya sehingga pantatnya rata bersama tepi daerah tidur dimana saya berjongkok.
Ia telah mampu menebak apa yang dapat kulakukan makanya iapun mengakses kedua pahanya. Aku menyadari kemaluannya telah ingin dijilati dan digelitiki oleh lidahku, tetapi saya memulainya bersama menjilati pangkal pahanya dulu, yang kanan lalu yang kiri, lantas tambah naik keperut. Pantatnya bergerak-gerak, iapun menggeliat dan mengerang, “Emmhh.. uusshh”
Aku tetap belum rela menjilati vaginanya. Sambil menciumi perutnya, kusibak bulu-bulu kemaluannya sehingga terlihat belahan bibirnya. Jari telunjuk kananku kumasukkan pelan-pelan kedalam lubangnya lalu pelan-pelan kuputar-putar namun ciumanku tetap bergerak naik kedadanya.
“Auh.. aduh.. Ari.. anda gila..”
Akupun menjadi jadi bernafsu, kusedot puting kanannya namun puting yang kiri kujepit bersama jari-jari tangan kiriku sementara jari telunjuk tangan kananku tetap tenggelam di dalam lubang kemaluannya. Sesekali kurasakan cincin vaginanya menjepit jariku. Meski dalam keadaan terangsang, saya tetap mampu terkagum-kagum, bagaimana kemungkinan jari telunjukku sekecil ini mampu dijepit sekeras ini. Kalau tidak merasakan sendiri rasanya saya sulit percaya. Puting susunya tetap kelumat, sedot dan di dalam mulutku kujilati ujungnya. Sheena hanya mampu memegang rambut dan kepalaku sambil menghindar kenikmatan yang menderanya.
Kini kurasakan telah saatnya mulutku kuturunkan dari buah dadanya, sasarannya adalah celah satu diantara kedua pahanya. Kubuka kedua pahanya lebih lebar ulang sehingga belahan vaginanya ikut sedikit membuka. Segera kubenamkan lidahku membelah celahnya. Kali ini ia langsung menjerit “Awh.. uh..” mengejang, tak menyadari badannya agak bangun membungkuk keatas. Lidahku lalu menyapu belahannya itu keatas dan kebawah sambil kedua tanganku mengelus-elus pangkal pahanya dan kira-kira lubang kemaluanya, sesekali kutekan-tekan gundukan bibir kemaluannya.
“Ouh.. Ari.. tetap sayang.. uuhh.. sayang.. aduhh”
Seranganku kutingkatkan lagi, bersama jari-jari tanganku kubuka lebih lebar ulang belahan vaginanya sampai kulihat bagian dalam kemaluannya yang kemerahan. Segera kusapu ulang bersama lidahku.
“Aawww.. Ri.. aduh.. tetap sayang..terus..aduh.. gila anda Ri..”
Rasanya nyaris 20 menit mulut dan lidahku melekat dan menyapu lubang kemaluannya, telah waktunya bagiku untuk memasukkan penisku kedalam lubang kemaluannya ini. Kemaluanku pun telah mengeluarkan cairan bening dari tadi. Aku lalu bangun berdiri tetapi agak berkunang-kunang dikarenakan amat lama jongkok. Tanpa buang sementara lagi, kuarahkan penisku ke lubangnya yang telah basah akibat liurku dan cairan vaginanya. Bless.. masuklah batang kemaluanku ke dalam vaginanya. Rupanya ia sesungguhnya sengaja tidak ‘mengunci’ cincinnya itu bersama begitu tidak amat sulit untuk menembusnya.
Dengan selalu berdiri di tepi ranjang, saya bergerak memompa maju mundur. Lagi-lagi ia tetap belum rela manfaatkan cincinnya itu sehingga saya tetap mampu memompa maju mundur bersama cepat, tetapi erangannya jadi keras terdengar setiap batangku melesak masuk. Aku tetap memompa bersama cepat tanpa istirahat, saya berharap benar bersama gaya baru kali ini saya mampu membuatnya ‘keluar’ lebih dahulu. Harapanku rupanya hanya selalu menjadi harapan, telah lewat 25 menit sejak kumasukkan kemaluanku dan bergerak non-stop mengocoknya begini, tetap belum ada tanda-tanda ia dapat ‘keluar’.
Karena ‘olah raga memompa maju mundur’ ini kulakukan terus menerus sembil berdiri, keringatku mulai nampak membasahi tubuhku, pinggangku mulai capek, tetapi kumantapkan niatku untuk bertahan mengocoknya. Aku lalu bilang padanya, “Masih bandel juga ya? Aku ingin liat, anda atau saya yang nampak duluan.”
Baru selesai omong, tiba-tiba kurasakan sulit untuk maju mundur dikarenakan batangku layaknya dicengkram oleh cincin vaginanya. Auhh.. kini giliran saya yang keenakan. Rupanya saya omong amat sesumbar sehingga ia ingin ‘memberi pelajaran’ padaku. Batang kemaluanku amat layaknya dicengkram dan diremas, seret sekali masuk keluarnya. 15 menit ulang lewat, kini penisku telah mulai berdenyut-denyut rasanya kali ini kok saya dapat nggak kuat menghindar jepitannya.
“Kamu lelah Say? sekarang gantian ya, lepas dulu dong, lalu anda naik kesini sambil sandaran kedinding ya.” Akupun mencabut batang kemaluanku dari vaginanya. Tanganku ditariknya sehingga saya naik ke ranjang. Ia lalu bantu mendorong sehingga saya bergerak menyandar ketembok dibelakang daerah tidur.
Setelah saya duduk disisi atas daerah tidur sambil bersandar ketembok Sheena naik ke pahaku, berjongkok lalu memasukkan batangku ke vaginanya, lalu pelan-pelan menurunkan tubuhnya sampai duduk di selangkanganku. Ujung kemaluanku rasanya layaknya mentok ke dinding rahimnya.
Ia melingkarkan kedua tangannya ke belakang leherku lalu bibirnya mencium dan melumat bibirku, kedua buah dadanya mulai menghimpit dadaku. Kurasakan batang kemaluanku yang tengah terbenam menjadi tambah mengeras dan berdenyut dalam kemaluannya. Cengkraman cincinnya ulang mendera batang kemaluanku, kini iapun tingkatkan serangannya bersama menaikturunkan tubuhnya sambil ‘cincin’ vaginanya menjepit kemaluanku tengah mulutnya mengunci mulutku. Kedua buah dadanya menghimpit dan menggesek dadaku.
Dalam tidak cukup dari 15 menit saya telah dibuat megap-megap menghindar serangannya. Iapun berhenti naik turun untuk meberi saya napas, tetapi cincin vaginanya selalu ia rapatkan. Aku sungguh heran, bagaimana ia mampu mempertahankan kontraksi cincinnya non-stop selama itu. Ia tersenyum penuh kemenangan, katanya “Kalau saya rela sekarang ini anda telah kalah”
Dalam hati saya mengakui bahwa ia benar. Akupun menjawab, “Ok, kelanjutannya anda menang.”
Aku tetap heran kok saya mampu dikalahkan dalam keseluruhan sementara hanya kira-kira 1 jam 30 menit, padahal kebanyakan ‘pertarungan’ku bersama Sheena kebanyakan capai keseluruhan 4 atau 5 jam, itupun selalu berakhir seri 1 – 1 dikarenakan serupa serupa sepakat mengalah untuk ‘keluar’. Aku tetap belum menyadari bahwa saya telah mulai kena flu sejak tiba di Airport tadi dan sampai sekarang belum istirahat.
Sheena mencium keningku, pipiku dan bibirku, sambil tetap mempermainkan cincin vaginanya. Jepit, longgar, jepit, longgar, kemungkinan istilahnya empot ayam. Ia tidak menaikturunkan pantatnya dikarenakan ia menyadari dapat kondisiku yang nyaris di puncak, tetapi ia rela sehingga saya merasakan nimatnya ‘proses ke puncak’ tanpa sampai ‘kelewatan’.
“Udahan dulu ya, kita mandi yuk, kan dari Jakarta sampai sekarang belum mandi,” tawarnya.
“Boleh.. biar istirahat dikit.. anda nyalain dulu airnya ya biar bath-tub nya terisi,” kataku.
Ia tingkatkan pantatnya melepas batang kemaluanku dari vaginanya lalu turun dari daerah tidur menuju kamar mandi dan memunculkan kran air di bath-tub. Aku lantas bangkit juga menuju ke kamar mandi. Kulihat ia tengah duduk di closet bersihkan vaginanya yang basah bersama campuran cairan beningku dan lendir vaginanya.
Meski air dalam bath-tub belum amat dalam, saya langsung masuk dan duduk berendam sambil bersandar terhadap dinding bath-tub. Batang kemaluanku yang tetap keras itu pelan-pelan melemas setelah terendam dalam air. Sheenapun masuk ke bath-tub dan ikutan duduk berendam. Iseng-iseng tangannya mengelus-elus batang kemaluanku untuk bersihkan lendir yang melekat di batang kemaluanku. Elusan jari-jari tangannya menyebabkan kemaluanku ulang menegang. Ia tertawa kecil sementara merasakan ‘anuku’ berdenyut mengeras di tangannya. Setelah dilihatnya kemaluanku telah bersih, ia bilang, “Coba mundur dikit dong”. Akupun bergerak mundur dan bersandar terhadap ujung bath-tub untuk memberi ruang yang lebih panjang baginya.
Ia lalu mencabut sumbat bath-tub sehingga airnya pelan-pelan berkurang. Setelah airnya nyaris habis, turun sampai setinggi biji kemaluanku, sumbatnya dipasang lagi. Kini batang kemaluanku berada di atas permukaan air namun biji kemaluanku 1/2 tenggelam. Tangannya ulang mengelus-elus batangku, lalu ia mengambil alih posisi nungging di depanku. Pelan-pelan kepalanya diturunkan dan mulutnya diarahkan ke kepala kemaluanku. Mulutnya mengakses lalu mencaplok kepala kemaluanku, tangan dan siku kirinya dipakai membantu tubuhnya sehingga selalu menungging tengah jari-jari tangan kanannya mengocok batang kemaluanku maju mundur. Mulutnya sampai kempot menyedot kepala kemaluanku. Aduhh.. rasanya sungguh luar biasa.
Sesaat kemudian, jari-jari tangan kanannya bergerak maju memegang pangkal batang kemaluanku sambil mulutnya bergerak maju-mundur. Nikmat yang kualami sungguh tak terbilang.. ini adalah oral seks yang ternikmat dalam hidupku. Sampai sementara ini tetap yang ternikmat bagiku. Mulutnya tetap maju mundur sampai batangku terlihat memerah, lantas fokusnya dialihkan ke kira-kira leher kemaluanku. Dihisap-hisapnya kepala kemaluanku sampai dilehernya, digigit-gigit kecil belakang topi bajaku, lidahnya disapu-sapukan kelilingnya, lalu kepala kemaluanku dicaplok dan disedot bersama kuat lalu dikulum-kulum. Lidahnya menari-nari dalam mulutnya menyentuh-nyentuh lubang pipisku. Setelah itu ulang ia maju mundurkan mulutnya tetapi hanya sampai dilehernya saja, tidak sampai kepala kemaluanku keluar.
Rupanya Sheena ingin tunjukkan bahwa tidak hanya vaginanya saja yang mampu ‘mengalahkanku’, ia ingin ‘mengalahkanku’ bersama mulutnya. Ia terus menerus menjilat, mengulum dan menghisap batang kemaluanku sampai saya amat merem melek dibuatnya. Tetapi terhadap dasarnya saya sesungguhnya tidak dulu mampu ‘keluar’ dimulut wanita jika tidak kupaksakan sendiri untuk ‘keluar’ (Istriku dulu menyedotku selama 45 menit sampai lehernya pegal dan saya selalu tidak keluar), tetapi Sheena tak menyadari dapat kebiasaanku ini sehingga ia berpikir saya pasti ‘keluar’ oleh serangannya.
Setelah nyaris 20 menit non-stop menyerangku, ia melirikku lalu melepas mulutnya dari kepala kemaluanku.
“Enak nggak?” tanyanya sambil tangan kanannya selalu memegang batangku.
“Ini yang paling sedap dari semuanya,” kataku.
“Naik ulang ke daerah tidur yuk.. tetapi gendong ya.. lelah sih,” katanya.
Aku nampak dari bath-tub lalu menariknya sehingga bangun lantas menggendongnya ke ranjang. Kami telah tidak perduli ulang bahwa tubuh kita tetap 1/2 basah.
Aku ulang berada diatasnya bersama posisi push-up, ia membimbing batang kemaluanku masuk ke lubangnya, bless.. masuklah batangku. Ia memekik, “Awk..” agak sakit dikarenakan tetap seret. Aku tetap memacu pantatku menyodok lubang kemaluanku. Disetiap hentakan pantatku ia selalu heboh “Awww..awww..”
Rasanya 15 menit berlalu, kemaluanku rasanya telah berdenyut-denyut lagi, bermakna saya telah nyaris di puncak. Agar tidak kalah, saya kurangi ke cepatanku lalu saya minta ubah posisi.
Sambil merawat sehingga kemaluanku tidak lepas, kita berbalik, kini ia berada diatasku. Sejenak ia hanya duduk saja diatasku tidak bergerak. Ia rupanya nikmati denyutan batang kemaluanku. Kurasakan jepitan vaginanya meningkat seakan-akan memeras batangku. Setelah nyaris 10 menit kemudian. Ia menyaksikan saya telah ‘hampir sekarat’ dikarenakan permainan jepitan vaginanya, ia lalu tempatkan kedua lenganku ke atas kepalaku dan dipegangnya bersama kedua tangan kanannya yang juga untuk membantu tubuhnya. Mulutnya diturunkan mencium bibirku sambil pantatnya mulai dinaik-turunkan. Puting buah dadanya yang bergantung-gantung menggesek-gesek dadaku tingkatkan sensasi nikmat serangannya. Saat kemaluannya ditarik sampai ke leher kemaluanku jepitannya dilonggarkan, sementara rela diturunkan dikeraskan ulang dan seterusnya.film semi klik disini
Kini saya amat ‘sudah sekarat’. Ia justru mempercepat gerak naik turun pantatnya. Aku mencoba mati-matian bertahan, setiap kali pantatnya diturunkan, saya mengejang dan mendengus “Enghh.. enghh.. enghh.. enghh,” tetapi saya tidak mampu bertahan lagi. Rasanya tidak cukup dari 5 menit setelah ia mempercepat naik-turun sambil menjepit, kemaluanku berdenyut-denyut dan akhirnya, “Uhh..” pertahananku jebol, saya muncrat di dalam lubang kemaluannya. Disaat kemaluanku berdenyut menyemprot air maniku, ia tetap naik turun dan mengeraskan cincin vaginanya. Lemaslah tubuhku, seluruh otot-ototku rasanya lepas dari tulangku, kenikmatannya nyata-nyata enak.
Sheena tidak langsung bangkit, ia hanya berbaring di dadaku bersama batang kemaluanku tetap menancap di vaginanya. Pelan-pelan batang kemaluanku melemas. Campuran sperma dan lendirnya mengalir nampak dari lubangnya, meleleh ke selangkanganku dan ke sprei ranjang. Ia menggeliat ke telingaku dan berbisik “Satu nol ya..,” sambil tersenyum.
Pembaca, itulah hari pertama kita di Kuala Lumpur. Tubuhku rasanya agak lemah, tetapi saya tetap saja berpikir “Ah tidak apa-apa, kemungkinan sebentar ulang juga pulih.” Hari kedua dan selanjutnya kita selalu hangat bercinta. Sesekali saya tetap mampu “menang” tetapi lebih banyak “kalah”.
Tubuhku telah tambah lemah, saya kelanjutannya menyadari telah jatuh sakit. Di hari ke delapan paling akhir sesaat sebelum akan meninggalkan hotel menuju bandara, saya tetap nekat ‘menantangnya’ ulang bersama kemampuan terakhir, hasilnya saya ‘kalah’ lagi. Aku telah tak ingat berapa skor akhir kami, yang menyadari saya ‘kalah’.
Dibandara kita berpisah, pesawatku berangkat dahulu ulang ke Australia namun Sheena sejam lantas ulang ke Jakarta. Dipesawat suhu tubuhku kian naik, otot-otot tubuhku rasanya linu dan tidak bertenaga. 7 jam perjalanan hanya mampu di kursi saja tambah menyusahkan. Setibanya di rumah, saya amat jatuh sakit, sempat muntah-muntah pula. Untung sementara cuti kerjaku belum habis sehingga tidak mesti ditambah bersama cuti sakit lagi. Tetapi yang paling sebal, saya penasaran dikalahkan oleh Sheena, telak lagi. Seharusnya saya istirahat khususnya dahulu setelah tiba di Kuala Lumpur sampai flunya hilang dulu dan tidak langsung ngajak ‘perang’, toh tetap ada hari-hari esoknya. film semi klik disini
Sayangnya saya tidak mampu membalas kekalahanku dikarenakan itulah paling akhir kalinya saya berjumpa dengannya. Pada kedatanganku ke Jakarta yang berikutnya, saya tidak mampu menemuinya. Kini Ia telah ubah ke Kalimantan. “Sheena” if you read this story then you should know that I could be better. But any way, nomer excuses, I admit that you have won!”
Aku Di Kalahkan 2 Ronde Di Permainan
Reviewed by susan
on
Januari 09, 2019
Rating:



Tidak ada komentar: