Cerita dewasa - Aku sering menjumpai Laki-laki atau perempuan yang punya daya tarik dan pesona seksual yang terlalu luar biasa. Dalam kenyataannya mereka tidak senantiasa cantik atau tampan. Juga tak pandang tua atau muda, pendek atau jangkung, kurus atau gemuk. Juga tidak sebab status sosial, layaknya kaya atau miskin, terpelajar atau pengangguran, karyawan tinggi atau cuman satpam. Secara tampak nampaknya biasa-biasa saja. Aku juga nggak ngerti kenapa dan di mana penyebab pesonanya itu. Apabila kebetulan ketemu style macam itu rasanya apapun polah tingkahnya terlalu sedap dipandang mata.

Bisa diumpamakan kecuali Laki-laki macam Ryan Hidayat yang pemain sinetron dan bintang iklan atau kecuali perempuan macam Ike Nurjanah penyanyi dangdut yang kebetulan terlalu ‘macan’, manis dan cantik itu. Sangat erotik rasanya ‘ditaklukkan’ oleh Laki-laki ataupun perempuan macam itu untuk lantas melayani dan menjadi budaknya. Akan kuciumi sepatu dan kaos kakinya. Akan kucuci celana dalamnya bersama ludahku sampai larutan sisa kencing atau keringatnya larut dan bisa kutelan kembali. Aku bakal senang menceboki lubang-lubang pembuangannya sebagai tugas tiap-tiap pagiku. Aku bakal memandikannya bersama jilatan-jilatan lidahku sampai tak tersisa noda barang sedikitpun pada seluruh celah-celah tubuhnya.
Pada orang macam ini apapun yang muncul dari dia rasanya nikmat untuk kami lahap. Aku bakal dan juga merta telan jika dia melenyapkan ludah ke mulutku. Aku bakal menjilati lubang tainya sampai tak ada yang Tersisa. Aku bakal minum kencingnya. Aku bakal sodorkan mukaku lantas membuka mulutku untuk menampung kencingnya yang kuning pekat. Aku bisa membersihkan mukaku pula bersama cairannya itu.
Di kompleks rumahku adalah seorang Randi, pemuda 21 tahun, pengangguran jebolan SMU3, tingginya 182 cm dan berat badannya 68 kg. Jangkung dan langsing. Rambutnya yang lurus senantiasa terurai bergaya Bon Jovi. Pakaiannya itu-itu juga, kaos oblong lusuh, kadang kala dibungkus jeans kumel. Celana Khaki. Kerjanya luntang lantung, jalan sana jalan sini. Berdasarkan apa yang sering dialaminya Randi tahu banget bahwa banyak cewek lebih-lebih juga cowok yang naksir berat padanya.
Sejak masih di SMU dia udah sering diajak tidur serupa teman-teman ceweknya. Bahkan Bu gurunya, Bu Endang, terlalu tergila-gila padanya. Walaupun belum habis 3 bulan menikah Bu Endang dulu nekad mengajak Randi tidur di rumahnya kala suaminya tugas ke luar kota. Bu gurunya itu bilang bahwa ada mata pelajaran yang harus diulangi dan harus dilaksanakan di rumahnya. Dan semalaman itu Bu Endang berhasil melampiaskan kerinduan syahwatnya pada Randi. Saat waktunya pulang tak ada anggota tubuh Randi yang tanpa cupang-cupang bekas sedotan bibir Bu Endang. Pada kesempatan di bawah nanti biarlah Randi juga menceritakan apa yang dialaminya bersama Bu gurunya itu.
Randi tingal di kompleks Perumahan Sederhana Pondok Permai Jakarta Barat. Di tempat itu, dia terlalu didambakan oleh para gadis dan janda muda dan walaupun tidak senantiasa muncul terang-terangan para Ibu-ibu muda maupun setengah tua juga mengimpikan untuk memandikan bersama lidah dan bibir-bibir mereka yang mungil-mungil itu. Dari cara mereka lihat Randi pada kala berpapasan atau Kebetulan melalui di depan rumahnya muncul mereka dipenuhi idaman jika bisa bertelanjang Berasyik masyuk bersama Randi pada suatu disaat nanti.
Diantara ibu-ibu itu adalah Tante Wenny. Dia perempuan asal Sukabumi yang terlalu jelita. Kulitnya kuning langsat. Perawakannya langsing. Mungkin sekitar 165 cm-an. Usianya yang sekitar 42 tahun Namun nampaknya ada 10 tahun lebih muda. Suaminya, Oom Darto adalah karyawan di sebuah pabrik sepatu di Cilincing yang tiap-tiap hari pulang kerja sampai jam 9 malam. Tentu saja Tante Wenny banyak kala sepinya. Dia sering mengayalkan jika bisa ‘kelonan’ bersama Randi.
Tak jarang pada puncak sepinya dia lakukan masturbasi. Dengan dibantu ketimun Jepang yang hijau gede dan panjang Itu. Dia mengulum-ulum ketimun itu lantas memasukkannya ke liang vaginanya. Tante Wenny mengayalkan seakan kontol Randi sedang dia kulum lantas ngentot kemaluannya. Dan betapa Puasnya kala menjelang orgasme dia memanggil-manggil didalam bisik dan rintihannya.
“Acchh.. Randii.. Randii.. Keluarkan pejuhmu ke mulut tantee.. Yaa.. Keluarkan pejuuhhmmuu..”
Dan selanjutnya terjadilah momen itu. Suatu pagi, sekitar jam 9 pagi, bersama sebatang rokok di tangannya Randi jalan melalui rumah Tante Wenny. Saat itu Tante Wenny sedang menyiram dan memindah-mindah Pot tanaman anggrek kesukaannya. Ada pot besar yang dia nggak kuat mengangkatnya. Melihat Perempuan jelita macam Tante Wenny, tanpa diminta dan spontan Randi menopang mengangkat pot itu.
“Koq ngangkat-angkat sendiri. Irwan mana Tante?” Rando bertanya Irwan yang sahabatnya dan anak Tante Wenny yang cantik ini.
“Ah, Irwan mah tahunya beres. Tahu tuh, katanya tadi ke Depok negok kampusnya dan terus main kali”
Randi dan Irwan adalah kawan bermain kala di kompleks. Betapa terima kasih dan gembira hati Tante Wenny. Apalagi kala tahu bahwa yang menopang itu adalah Randi Laki-laki muda kawan anaknya yang mempesona hatinya dan senantiasa datang didalam khayal-khayal masturbasinya. Bagaimana kelanjutan cerita yang merangsang libido ini? Apa yang setelah itu dilaksanakan Tante Wendy? Bagaimana Randi merespon ulah tante jelita ini? Acchh.. Aku rasa lebih fair kecuali Randi sendiri yang cerita kepada para pembaca. OK? Dengarkan.. [Jilatan-jilatan Tante Wenny pada celah-celah tubuhku.]
“Hooh.. Cah Bagus (aku menjadi tersanjung bersama panggilannya itu).. Terima kasih yaa..”
Aku menopang menggeser pot itu dan saya merasa Tante Wenny memandangku sedemikan rupa gemas dan hausnya. Pada wajahnya muncul dia hendak mengeluarkan suatu hal pikiran. Aku merasa bahwa tante jelita ini cuma pengin menghambat sehingga saya lebih lama tinggal. Aku paham. Aku sebenarnya juga sering hadapi tante-tante genit macam ini. Mereka bilang bahwa Laki-laki macam saya pantas terima perlakuan macam bayi.
Melayani Laki-laki macam saya merupakan dambaan kenikmatan syahwat yang tak terkira. Mereka bilang apapun mauku bersama senang mereka bakal penuhi. Dia muncul berpikir dan…
“Oocchh.. Bisa minta tolong sekalian donk.. Sayang (dia terus melemparkan godaan padaku). Tante Mau pindah lemari di tempat tidur tante. Mau bantuin nggak??”
“Boleh saja…”
Aku tahu banget bahwa tante jelita ini juga tante yang ‘gatal’ dan sering mencuri-curi pandang tiap-tiap kali saya melalui atau berpapasan dengannya. Kali ini apa maunya??
“Ayolah masuk…” Tante Wenny mengajak saya masuk ke rumahnya, “Duduk dulu, yaa..”
Tante Wenny bergegas masuk ke kamarnya. Aku agak heran kenapa untuk menggeser lemari yang paling cuma semenit harus duduk dulu. Tetapi pikiranku langsung sirna kala lihat Tante Wenny udah ubah ‘short pant’ yang terlalu seksi kala ulang muncul dari kamarnya.
“Aku buatin minuman dulu, yaa…”
Ucchh mata tante genit itu melirik belalak sambil membebaskan senyuman dari pipinya yang ranum perlihatkan kejelitaannya. Aroma parfumnya terlalu menggoda libidoku. Untuk membesarkan hatinya saya melototkan mataku lihat lekuk liku tubuhnya bersama penuh kekaguman Birahi. Aku makin percaya bahwa ini seluruh cuma ulah Tante Wenny untuk menghambat sehingga saya tidak cepat menghilang dari pandangan matanya. Ah, biarlah. Siapa tahu bisa rejeki nomplok.
Dengan 2 buah gelas besar penuh Coca Cola di tangan Tante Wenny muncul dan mengimbuhkan segelas bikin Aku.
“Ambil Cah Bagus…” sapanya bergaya akrab, “Ayo minum… nggak harus buru-buru khan?”
Duduk di seberang depanku mata Tante Wenny sebentar-sebentar mengamati penuh idaman birahi padaku. Aku percaya kecuali kuminta menjilati lubang pantatku tentu dan juga merta dia bakal lakukan bersama sepenuh obsesinya. Aku tahu pula dia isteri yang kesepian sebab selama hari ditinggal kerja suaminya.
“Kamu koq bagus banget ssehh Ran..? Dulu mama anda makan apa bisa melahirkan cah bagus Macam ini..?” lempar goda yang begitu berani dan agresif dari tante genit padaku. Aku nggak tahu harus jawab apa. Aku diam saja. Aku harus berlagak acuh dan ‘cool’.
“Jadi nggak menggeser lemari, Tante?”
“Oohh, pastii.. Sekarang?” dia berdiri.
Yang aneh tangannya disodorkan untuk kuraih dan yang terjadi lantas adalah dia menarikku ke kamar tidurnya.
“Mari kutunjukkan lemarinya,” sambil terus menggelandang aku.
“Yang ini Cah Bagus.. Digeser ke kanan sedikit. Tante senang cerminnya mengarah ke tempat tidur sampai kecuali Oom serupa Tante tidur bisa sambil berkaca. Gituu..!” katanya sambil melempar senyum manisnya bersama penuh arti.
Aku baru capai tepian lemari untuk merasa mendorong kala tiba-tiba bibir Tante Wenny memagut lenganku lantas melata dan menyedot punggung tanganku. Duuhh.. Aku sepertinya disambar stroom listrik ribuan watt. Seluruh tubuhku langsung menggelinjang. Aku merasakan betapa haus dan sepinya Perempuan STW (setengah tua) ini. Tak kupungkiri sedotan bibir Tante Wenny langsung menyambar gairah syahwatku. Kontolku udah ngaceng kala tangan Tante Wenny tak bisa kuhindari merabai celah-celah selangkanganku.
“Cc.. Cah Baguuss.. Ayolah.. Jangan acuh.. Cium aku.. Atau.. L.. Ludahi akuu.. Aku terlalu Rindu sayaanngg…” sambil tangannya berusaha capai dan merangkul leherku berikut bibirnya Yang menantang bibirku. Aku masih bergaya acuh dan ‘cool’.
“Ayoo.. Ludahi saya Randii.. Ludahi tante..”. Matanya itu.. Ahh.. Mata yang sungguh terlalu Kehausan.
“Tolong Randii.. Tolong tante inii.. Ayoo.. Mana ludahmuu..”
Dia merangsek berusaha memagut bibirku tetapi saya mengelak dan pagutan itu mendarat pada kulit leherku. Tante Wenny menjadi beringas, Dia memelukku keras sambil mengamukkan pagutannya pada leher, dagu, bawah kuping dan bahuku. Aku sebenarnya makin terbakar. Namun jenis acuh dan ‘cool’-ku senantiasa saya pertahankan.
Sungguh indah nikmati bagaimana perempuan bersama penuh haus mengerjain dan nikmati tubuhku. Akhirnya saya terdorong dan jatuh ke kasur. Tante Wenny tak ulang bisa kubendung.
“Nanti saja menggeser lemarinya ya sayaanngg…”
“Kasihan Cah Bagus. Kamu harus istirahat duluu yaa.. Mumpung Irwan nggak di rumah. Kamu Temenin Tante dulu yaa…” sambil tangan-tangannya terus menggerilya tubuhku.
“Acchh Tantee.. Jangan.. Nanti dicermati tetangga. Saat Randi masuk tadi khan ada pembantu Bu Kirno sebelah rumah sedang nyapu,”
“Ahh.. Jangan khawatir. Dia cuma babu blo’on. Nggak bakal berani ngomong apa-apa,” suara berbicara yang didera nafsu birahi menyebabkan Tante Wenny merendahkan pelayan sebelah rumahnya.
Tante Wenny yang jelita ini bergerak jongkok dan layaknya pelayan pada tuannya merasa melepasi sepatuku. Sebelumnya dia ciumi terutama dahulu ujung-ujung sepatuku sambil.
“Sabar ya Cah Bagus.. Uuhh.. Kenapa anda bagus banget sseehh..?”
Dia juga cium-cium kaos kakiku. Bahkan sementara dia sumpalkan sendiri pada mulutnya sambil membebaskan wajah senyumnya padaku. Sebelum merasa melepasi celanaku mama Irwan yang jelita ini mencium, melumat dan menggigiti telapak Kakiku.
“Sayaang.. Kakimu indah banget. Bikin tante ngiler banget ssiihh..”
Dia ciumi, jilati dan kulum jari-jari Kakiku. Lidahnya menjilati celah-celah di pada jari-jari itu. Nampak bibir indah tante Wenny demikian Lahap mengecupinya. Seluruh tubuhku layaknya terkena sengatan listrik. Ucchh.. Nikmatnya sampai ke ubun-ubun. Hampir kutarik kakiku sebab tak tahan rasa geli yang merambati saraf-sarafku. Sementara libidoku langsung terdongkrak. Kontolku ngaceng mendesaki celanaku. Akhirnya tangannya berhasil membebaskan kancing celanaku dan menariknya merosot kebawah, membuangnya ke lantai sampai saya tinggal bercelana didalam saja.
“Dduhh.. Duuhh.. Randikuu.. Tante udah lama merindukan macam ini,” tante Wenny langsung membenamkan mukanya ke selangkanganku. Dia menggigiti celana dalamku yang menonjolkan Kemaluanku. Aku merasakan giginya mengigit kenyalnya kontolku yang sebenarnya udah ngaceng berat. Tetapi tidak lama.. Akhirnya Tante Wenny merosot melata ke lantai menyergap kakiku yang terjuntai dari tempat tidur untuk Langsung menciuminya telapak kakiku. Dia kulum dan jilati jari-jari kakiku. Lidahnya menusuki celah-celah Jariku. Dduhh.. Bukan main nikmatnya. Lidahnya yang hangat lembut itu berusaha membersihkan aroma kakiku yang tentu berbau kaos kaki atau sepatu yang menusuk.
Demikian kegilaan dia mencium dan menggigit anggota ini sebelum selanjutnya melata menuju betis-betisku. Gigi-giginya yang tajam kadang kala menggigit sakit sampai saya harus menghambat bersama mengaduh desah dan menghambat kepalanya. Namun seluruh itu justru menyebabkan Tante Wenny makin meliar. Didorongnya pahaku sampai saya terbalik tengkurap. Dalam posisi ini Tante Wenny ulang menyerang saya dari bawah. Lidah dan bibirnya mengecupi lipatan paha dan betisku. Uucch.. Rasanya tak tahan.. Aku tak dulu saya nikmati sentuhan seksual macam ini.
Tante Wenny yang usianya udah lebih 40 tahun ternyata nafsunya layaknya magma gunung berapi. Yang saya kaget adalah kala ciuman itu terus merambah ke paha belakangku dan bersama cepatnya naik sampai wajahnya langsung nyungsep ke belahan pantatku. Yaa ampuunn.. Dengan histeris tante Wenny mengusel-uselkan wajahnya ke celah bokongku. Tante Wenny tanpa sangsi menciumi pantatku. Bagi saya menjadi sensasi yang luar biasa kala lidahnya menggelitik dan menusuk-nusuk lubang pantatku ini. Sesekali bersama geregetan dia menggigit kecil Bibir-bibir analku. Lidahnya berusaha menggerilya lubang duburku sambil nafasnya terdengar demikian memburu. Rasanya dia didalam suasana birahi yang penuh kegilaan. Yang tak mungkin saya bisa menghentikannya. Dia udah tenggelam didalam kejaran syahwatnya sendiri.
“Hecchh.. Huuchmm.. Rr, rra.. Andd.. Ii,” gumamnya didalam tenggelam sambil bersama histeris lidahnya terus mencari-cari. Tanpa kusadari saya tertuntun untuk nungging tinggi. Naluriku adalah membuka celah bokongku sehingga wajah Tante Yenny bisa lebih tenggelam dan lidahnya menemukan lubang analku.
“Acchh.. Rr.. Randd.. Ddii..”
Berpegang pada bokongku sapuan dan sedotan lidah dan bibirnya di Lubang duburku makin nikmat kurasakan. Entah kenikmatan macam apa yang didapatkan Tante Wenny dari analku ini. Mungkin aroma analku membuatnya mabuk kepayang padaku. Kubayangkan bagaimana jika Irwan yang sahabatku lihat bagaimana mamanya menjilati lubang taiku. Haa.. Haa.. Aku tertahan sampai menjelang makan siang.
Tante Wenny berhasil merangsang libidoku sampai saya tak bisa menghambat air maniku tumpah ke mulutnya. Kulihat betapa rakus dia menjilati spermaku sampai bersih tanpa bekas. Yang tercecer di rambut kemaluanku, pahaku, batang dan pangkal kemaluanku bersih macam kena cuci saja. Uuchh.. Sangat nikmat merasai jilatan dan sedotan bibir ayu milik Tante Wenny Ini.
Yang lebih tak kumengerti adalah kala saya permisi ke kamar mandi untuk kencing. Saat pancuran kencingku mancur Tante Wenny menyusul masuk ke kamar mandi. Kupikir dia cuma hendak mengambil Sesuatu. Ternyata dia merangkul pinggulku dan bergerak jongkok menyambut pancuran kencingku. Sambil matanya melirik ke aku, dia menengadahkan dan membuka mulutnya menampung cairan kuning pekat kencingku. Tanpa bisa kucegah dia memegangi kedua kakiku dan minum menenggak cairan pekatku itu.
“Jangan Tantee… jangaann..!,” tetapi saya tak bisa mencegahnya.
Juga saya tak bisa menghentikan kencingku yang sebenarnya udah terlalu mendesaki kandungannya. Sungguh mempesona lihat tante Wenny yang jelita setengah gelagapan bersama mulutnya yang sga-nga terima pancuran kencing kuning pekat yang muncul dari penisku. Terdengar suara jatuhnya pancuran air kencing didalam rongga mulutnya itu. Sebagiannya dia minum seakan menjadi penawar Hausnya dan sesekali dia raupi wajahnya layaknya orang membersihkan wajah bersama kencingku ini.
“Tante sebenarnya udah mengimpikan kencingmu sayaanngg.. Nikmat banget rasanya.. Tante suka Banget niihh…” katanya sambil mengusap raup wajahnya bersama air kencing yang dia tampung pada Kedua tangannya.
Demikianlah cerita sekilas pengalaman Randi yang sebenarnya punya pesona seksual luar biasa itu. Tante Wenny yang jelitapun bertekuk lutut bersama senang untuk menjilati pantat dan minum air kencingnya.
*****
Ini terjadi sekitar 2 tahun yang selanjutnya kala saya masih duduk di kelas 2 SMU top di Kebayoran. Waktu itu usiaku masih 16 tahun. Walaupun banyak cewek kawan kelas maupun kakak kelasku yang sering merayu, mengajak kencan atau terang-terangan bilang naksir padaku, lebih-lebih mendambakan tidur bersama saya tetapi saya masih senantiasa perjaka ‘ting-ting’ dan terlalu ‘idjo’ didalam perihal seksual.
Cewek-cewek itu bilang bahwa saya adalah pemuda paling seksi di sekolahku. Bahkan mereka juga bilang mungkin se-Kebayoran cuma kepadakulah mereka mendambakan tidur denganku. Lebih gila ulang ada yang bilang terlalu suka hati untuk menerimanya jika saya senang melenyapkan air ludahku ke mulutnya. Edann.. Ternyata bukan cuma kawan sekolahku yang pengin ngajak tidur aku. Dan ini baru saya menyadari sehabis saya berada di rumahnya di mana saya tak bisa ulang menghindar.
Dia adalah Bu Endang guru matematika SMU Kebayoran. Bu Endang adalah guru yang paling cantik di SMU-ku. Anak-anak bilang dia serupa bersama Desy Ratnasari itu artis sinetron asal Sukabumi. Yang saya heran bahwa Bu Endang ini baru saja menikah sekitar 3 minggu yang lalu. Bahkan orang tuaku datang kala pernikahannya itu. Suaminya adalah seorang PNS Departemen Dalam Negeri. Sesekali suaminya itu bertugas meninjau ke daerah-daerah di tanah air. Dengan alasan banyak pekerjaanku yang salah kala bel pulang kelas berbunyi, sekitar jam 12.30 siang Bu Endang menahanku sehingga tidak pulang dulu.
“Kamu harus memperbaiki PR-mu. Aku nggak senang dibikin repot. Kamu bawa seluruh buku-buku ini ke rumah ibu. Nanti anda ibu ajari bagaimana mengerjakan PR bersama benar,” katanya bersama suara kesal atau marah padaku.
Siang itu saya tidak boleh pulang dan harus studi matematika pada Bu Endang di rumahnya. Dengan Honda bebek-nya Bu Endang meluncur pulang lebih dahulu. Aku harus menyusul naik kendaraan umum sambil mempunyai buku-bukunya yang memadai berat ini. Ah, mungkin inilah hukamanku sebab pekerjaanku yang tidak bener itu. Anehnya sesampainya di rumahnya, Bu Endang menyambut saya bersama terlalu ramah. Wajah marah atau kesal di kelas tadi serupa sekali tak muncul lagi.
“Sini Randi. Kamu taruh tuh buku-buku ibu di meja. Jangan malu-malu. Kamu makan siang dulu, ya, serupa ibu. Bapak ulang dinas ke Kalimantan, menjadi ibu sendirian koq. Mau minum apa?”
Dia rangkul pinggulku menuju meja makan. Ah, ini mah lebih dari ramah. Rangkulannya itu demikian mesra menyebabkan saya langsung merinding bergetar. Rasanya saya belum dulu dirangkul perempuan macam begini. Tangannya yang lembut itu mengelusi pinggulku. Bahkan ada sekali sedikit mencubit aku. Nampaknya seluruh itu merupakan sinyal atau sinyal yang dilepas Bu Endang padaku. Karena saya nggak tahu harus bagaimana, menjadi yaa… ngikut saja kemauannya. Yang kupikirkan cuman mudah-mudahan matematikaku cepet benar dan saya bisa lekas pulang.
Selesai makan dia ulang merangkul mesra dan membimbing saya ke sofa ruang tamunya. Dan ternyata hari itu serupa sekali tak ada matematika di rumah Bu Endang. Sejak awal duduk di sofanya, Bu Endang langsung mengelusi pahaku. Dia bilang.
“Randii… anda menjadi dambaan banyak cewek di sekolah. Kamu tentu tahu, khan? Sudahlah, matematikamu nanti biar ibu yang bantu benerinnya. Ibu pengin istirahat sambil ngobrol dulu serupa kamu. OK?” Bu Endang menutup kata-katanya sambil tangannya mengambil tanganku dan meremasi jari-jariku.
Edan… nggak tahu kenapa tanpa tahu saya membalas remasannya. Akibatnya Bu Endang langsung menjadi liar. Pasti dia berpikir bahwa saya merespon apa yang dia mau. Duduk di sofa saling berhimpitan Bu Endang makin merapatkan tubuhnya pada tubuhku. Remasan tangannya menjalar menjadi cemolan di pahaku. Greenng.. Saraf birahiku bangkit dan tak ayal ulang kemaluanku ngaceng mendesaki celana SMU-ku.
Uucchh.. Aku malu banget kecuali sampai Bu Endang melihatnya. Tetapi dia sebenarnya udah melihatnya.
“Nggak usah malu Randi.. Ini pertanda anda normal dan sehat. Baru kesenggol sedikit saja langsung tegang berdiri.. Hii.. Hii.. Hii…” canda Bu Endang bersama senyumannya yang terlalu menawan yang menyebabkan suasana menjadi lebih mencair.
Namun mukaku senantiasa berasa kemerahan sebab malu. Aku cepat tahu pula rupanya Bu Endang sebenarnya udah berencana perjumpaan macam ini denganku. Aku merasa blo’on banget, walaupun pada dasarnya saya suka bersama apa yang sedang terjadi ini. Aku menengokkan wajahku. Acchh.. Wajah-wajah kami ternyata udah begitu berdekatan.
Mata Bu Endang rasanya menusuki kedalaman mataku untuk mendapatkan kepastian. Dan saya senantiasa blo’on kala tiba-tiba bibirnya udah menyentuh dan langsung menyedot kecil bibirku. Itulah pembukaan yang dilaksanakan Bu Endang padaku. Mengerti kecuali selanjutnya saya diam dan ‘cool’ Bu Endang ulang meliar. Dia peluk dan pagut aku. Bibir lembutnya melumat bibirku. Aku sedikit gelagapan dan hampir terjatuh dari sofa tempat dudukku. Situasi itu menyebabkan saya merangkul Bu Endang secara reflek. Dan itulah yang ditungu-tunggunya.
Dia mendesah, “Hhaacchh.. Hheecchh.. Rranddii…” bersama semuanya kini memeluk tubuhku.
Kurasakan remasan tangan-tangan halusnya pada punggung mengiringi lumatan bibirnya pada bibirku. Aku merem melek kaget tetapi uucchh.. Nikmatnyaa.. Aroma wangi-wangian Bu Endang menyergap hidungku dan saya merasa berasa melayang didalam nikmatnya berasyikmasyuk bersama perempuan ayu macam Bu Endang yang didalam pelukanku pula kini.
“Bapak nanti bagaimana Bu..??”
“Sshh.. Jj.. Jangan berbicara itu sayangg.. Aku terlalu rindu kamu.. Aku terlalu mendambakan kamu.. Ayoo Randi.. Peluk ibu yang lebih erat lagii…” rupanya dia tak senang saya berbicara perihal suaminya.
Ah.. Urusannyalah. Dan Bu Endang manfaatkan kesempatan bersama saya ini bersama sepenuh kerinduan bakal belaian syahwatnya. Dia hempaskan saya ke sofa dan tindih tubuhku.
Dia meracau, “Randii.. Kamu tampan banget siihh.. Aku sayang anda Randii.. Boleh ya? Bolehh.. Khan?? Randii.. Hhcchh…” terdengar nafasnya yang memburu dan suaranya serak menghambat gelora nafsunya.
Dan tangan-tangannya yang lentik itu merasa tak sabar merasa melepasi kancing kemeja SMU-ku. Aku menjadi bengong juga bakal nafsunya yang demikian menggebu padaku.
“Randii.. Ibu sayang kkhaamuu.. Randii, oohhcch Ran.. Ddii…” racau Bu Endang tak henti-hentinya.
Saat kancing kemejaku udah terlepas mukanya langsung merangsek dadaku. Kurasakan bibirnya merasa bersama halus melumat buah dadaku. Lidahnya menyapu dan lantas disusul bersama bibirnya yang mengecupi dan mengigit penuh haus pada pentil-pentilku. Aku taka tahan menghambat gelinjangku, saya juga mengeluarangan desahan dan erangan. Tangan Bu Endang meremasi punggung dan turun ke pinggulku.
Duuhh.. Sungguh dahsyat birahi ini.. Kutengok perempuan cantik se usia bibiku ini layaknya ular sanca yang sedang menancapkan taringnya pada dadaku. Kepalanya bergeleng untuk mengetatkan gigitannya. Lumatan bibirnya menyebabkan saya melayang didalam lambung nikmat tak terkira. Bu Endang rasanya udah melupakan semuanya juga pada suaminya yang baru menikahinya 3 minggu yang lalu. Kemudian mulut ular sanca itu melata dan merambah perutku dan terus turun lagi.
Saat bibirnya menyentuh kuncir pinggangku taringnya ulang menggigit sehingga tidak melepaskannya. Tangan-tangan Bu Endang bersama sigap melepasi kuncir pingang dan kancing celanaku. Dengan tak sabar dia tarik dan dorong celanaku ke bawah sampai betisku. Wajahnya langsung menenggelamkan ke celana didalam dan selangkanganku. Dia menciumi bersama ganasnya. Oocchh.. Perempuan ayuu.. Begitu buas dia merangsekkan mukanya. Dia hirup aroma-aroma yang menebar dari selangkangan dan celana dalamku.
“Raanddii.. Uucchh.. Raa.. Nddii.. Ibuu saayngg.. Kkaamuu…” racaunya yang terus membising.
Aku sebenarnya tak bisa menghambat gelinjangku. Syaraf-syaraf peka yang tertebar pada pori selangkangan dan pahaku menyebabkan saya merasakan kegatalan shyawat yang terlalu dahsyat. Kucabik-cabik rambut Bu Endang dan kuremas-remas bersama terlalu kerasnya. Jilatan dan lumatan bibir Bu Endang menyebabkan saya menggeliat-geliat tanpa menghambat diri. Seluruh syaraf-syaraf birahiku terbangkit merambatkan kegelian tak tehingga.
“Ampuunn.. Buu.. Ooiicchh.. Jj.. Jangaann…” entah ngomong apa ulang aku.
Rasanya asal bersuara. Aku perlu saluran emosiku yang menggelegak sebab ulah Bu Guru cantikku ini. Rambut Bu guruku yang cantik itu langsung awut-awutan, tetapi Bu Endang tidak mengeluh. Dia terus menggilakan wajahnya men-‘dusel-dusel’ ke selangkanganku. Kemaluanku menjadi tegak keras layaknya tongkat mahoni. Bu Endang tanpa sangsi menciumi dan menjilatinya. Basah precum di ujung penis dia jilati bersama rakus. Nampak wajahnya menyeringai didalam matanya yang setengah terbeliak larut didalam puncak nikmatnya yang tak bertara. Aku tak bisa menahannya.
“Adduhh.. Bb.. Bu.. Saya nggak ttahann.. Ggelii.. Bbuu..”
Kuseret tubuh Bu Endang ke atas sampai tubuhnya menindih tubuhku. Kurangkul bersama ketat bahunya dan kucium bibirnya. Aku melumat penuh kegilaan sambil menyedoti ludah-ludahnya. Kami bergelut bak dua ular yang sedang memperebutkan mangsa. Pada kala bersamaan tangan Bu Endang capai kemaluanku untuk diarahkan ke kemaluannya. Aku tahu, dia senang saya memasukan batang kemaluanku ke rongga kemaluannya.
Terus terang tiba-tiba rasa was-was menyergap aku. Aku was-was Bu Endang hamil. Aku was-was Bu Endang bakal memaksa saya menjadi suaminya sebab kehamilannya itu. Aku was-was dia bakal memperkarakan ke pengadilan dan mempermalukan aku, mempermaukan orang tuaku. Aku was-was menjadi berita di koran Pos Kota atau Lampu Merah atau berpuluh tabloid lainnya yang banyak beredar di Jakarta kala ini. Aku was-was tak ulang menyandang predikat pemuda atau perjaka. Lucu juga ketakutanku macam itu pada kala itu.. Tetapi Bu Endang tak habis cara. Tetap melayani pagutanku, bersama tubuhnya yang setengah duduki selangkanganku bersama penisku yang tegang kaku bersama cepat terjadilah..
Blezz..
Seluruh batang kemaluanku udah amblas ditelan kemaluan Bu Endang. Tak ada kesempatan untukku. Bu Endang langsung bergerak naik turun memompakan pantatnya yang mendorong memek atau vaginanya menelani batang keras penisku ini. Ascchh.. Akhirnya.. Hanya Bu Endanglah yang berhasil capai keperjakaanku. Dan nikmat yang kuterima.. Sungguh tak bisa kulukiskan.. Batang penisku terjepit oleh dinding hangat yang legit. Memek Bu Endang menyedot-nyedot urat-urat peka yang tersebar di seluruh permukaan batang penisku.
Kenikmatan itu demikian bergerak penuh perubahan tiap-tiap Bu Endang menarik atau mendorong pantatnya yang menopang kemaluannya melahapi kenisku. Ammppunn.. Buu.. Enaakk bangett.. Ssiihh.. Kini saya lihat bagaimana seorang perempuan yang demikian kehausan di serang orgasmenya. Mula-mula mata di wajah cantiknya itu mendelik dan membeliak bersama kelopak yang menelan bulatan hitam matanya dan menyisakan warna putih pinggirnya.
Keadaan itu disertai bersama desah keras yang terlalu mengenaskan sebagaimana kijang yang sekarat didalam terkaman pemangsanya. Dengan tangannya yang hampir mencekik leherku Bu Endang menancapkan cakarnya pada bahu samping leherku itu. Dengan keringat yang deras mengucur dia tekan lebih membenam kemaluannya untuk menelan kemaluanku lebih dalam. Pada detik-detik itu kurasakan kedutan-kedutan keras menggilas-gilas batang penisku. Yang lantas terdengar adalah auman atau teriakan tanpa tertahan dari mulut ayu Bu Endang.
“Rr.. Aanndii.. Tt.. Toloonngg.. Ranndii.. Ampunii ibbuu.. Yaa.. Rranddii.. Ii,” lantas ‘bruukk’ tubuhnya jatuh terhempas ke dadaku. Tubuh penuh keringat itu langsung berkejat-kejat lebih dari satu kala sebelum selanjutnya diam dan beku kecuali menyisakan tarikan nafas yang cepat dan tersengal. Aku langsung merasa iba dan tanganku muncul mengusap-usap punggungnya.
“Haacchh.. Maafin ibu yaa.. Randdii…” tubuhnya merosot ke kasur bersama lunglai.
Tangannya ulang jatuh ke dadaku. Situasi hening lebih dari satu saat. Aku menyesuaikan niat Bu Endang. Aku tak bergerak dan membebaskan dia membebaskan lelahnya. Hari itu saya pulang jam 5 sore. Bu Endang memuasi saya bersama mulutnya yang mengulum-kulum penisku. Dia minum spermaku.
“Randi, inilah sinyal ibu sayang serupa kamu. Pada papa (suaminya) saya nggak dulu lakukan begini. Aku rasanya geli. Jijik begitu. Tetapi pada anda Randi, justru saya senantiasa mengimpikannya. Aku senantiasa mengayalkan bagaimana rasanya menelan air manimu. Auucchh.. Terima kasih banget yy.. Sayaanngg..”
Sebelum saya pulang Bu Endang memberi saya duwit tetapi kutolak. Apa jadinya nanti.. Bu Endang meminta saya mampir ulang selama suaminya belum pulang. Namun saya tak dulu mampir lagi. Aku senantiasa saja was-was kecuali Bu Endang hamil sebab ulahku. Sekali saya kepergok dengannya kala ada pesta olah raga antar sekolah.
Pada kala itu usai pertandingan di sekolah (aku pemain volley SMU-ku) saya tertinggal pulang sehingga saya terjadi memadai jauh sebelum ketemu halte angkutan kota. Tiba-tiba sebuah mobil menepi pas di sampingku. Bu Endang membuka kaca pintunya dan menyilahkan masuk. Aku nggak sedap untuk menolaknya. Rupanya dia berkesempatan mempunyai mobil suaminya.
“Apa kabar Randi?” sambil meremas selangkanganku yang menyebabkan kontolku langsung ngaceng berdiri.
Tidak langsung menggerakkan mobilnya Bu Endang justru menepi, “Ibu kangen ini Randi, boleh yaa…”
Sebelum saya menjawabnya tangan-tangannya yang cantik gemulai itu udah menarik resluiting celanaku dan lebih-lebih langsung merogoh dan lantas membetot muncul kontolku. Tangannya lebih dari satu kala mengurut-urut sampai saya memperdengarkan desahanku. Dengan mesin senantiasa menyala sehingga ruangan mobil senantiasa dingin ber-AC Bu Endang langsung merunduk dan menyosor.
Kontolku di emut-emut dan kulum-kulum sampai spermaku muncrat. Menjelang muncrat kuraih kepalanya yang nampaknya rapi ditata salon rambutnya. Kuremasi tatanan rambut itu sampai awut-awutan. Menjelang muncrat saya berteriak tertahan. Kutekan kepala Bu Endang sehingga menelam lebih dalam. 6 atau 7 kedutan besar kemaluanku memuncratkan cairan hangat air maniku ke haribaan mulut Bu Endang. Nampaknya di tersedak-sedak. Namun dia ucapkan terima kasih tak habis-habisnya padaku sebelum saya diturunkan di halte angkutan kota tidak jauh dari sekolahku.

Bisa diumpamakan kecuali Laki-laki macam Ryan Hidayat yang pemain sinetron dan bintang iklan atau kecuali perempuan macam Ike Nurjanah penyanyi dangdut yang kebetulan terlalu ‘macan’, manis dan cantik itu. Sangat erotik rasanya ‘ditaklukkan’ oleh Laki-laki ataupun perempuan macam itu untuk lantas melayani dan menjadi budaknya. Akan kuciumi sepatu dan kaos kakinya. Akan kucuci celana dalamnya bersama ludahku sampai larutan sisa kencing atau keringatnya larut dan bisa kutelan kembali. Aku bakal senang menceboki lubang-lubang pembuangannya sebagai tugas tiap-tiap pagiku. Aku bakal memandikannya bersama jilatan-jilatan lidahku sampai tak tersisa noda barang sedikitpun pada seluruh celah-celah tubuhnya.
Pada orang macam ini apapun yang muncul dari dia rasanya nikmat untuk kami lahap. Aku bakal dan juga merta telan jika dia melenyapkan ludah ke mulutku. Aku bakal menjilati lubang tainya sampai tak ada yang Tersisa. Aku bakal minum kencingnya. Aku bakal sodorkan mukaku lantas membuka mulutku untuk menampung kencingnya yang kuning pekat. Aku bisa membersihkan mukaku pula bersama cairannya itu.
Di kompleks rumahku adalah seorang Randi, pemuda 21 tahun, pengangguran jebolan SMU3, tingginya 182 cm dan berat badannya 68 kg. Jangkung dan langsing. Rambutnya yang lurus senantiasa terurai bergaya Bon Jovi. Pakaiannya itu-itu juga, kaos oblong lusuh, kadang kala dibungkus jeans kumel. Celana Khaki. Kerjanya luntang lantung, jalan sana jalan sini. Berdasarkan apa yang sering dialaminya Randi tahu banget bahwa banyak cewek lebih-lebih juga cowok yang naksir berat padanya.
Sejak masih di SMU dia udah sering diajak tidur serupa teman-teman ceweknya. Bahkan Bu gurunya, Bu Endang, terlalu tergila-gila padanya. Walaupun belum habis 3 bulan menikah Bu Endang dulu nekad mengajak Randi tidur di rumahnya kala suaminya tugas ke luar kota. Bu gurunya itu bilang bahwa ada mata pelajaran yang harus diulangi dan harus dilaksanakan di rumahnya. Dan semalaman itu Bu Endang berhasil melampiaskan kerinduan syahwatnya pada Randi. Saat waktunya pulang tak ada anggota tubuh Randi yang tanpa cupang-cupang bekas sedotan bibir Bu Endang. Pada kesempatan di bawah nanti biarlah Randi juga menceritakan apa yang dialaminya bersama Bu gurunya itu.
Randi tingal di kompleks Perumahan Sederhana Pondok Permai Jakarta Barat. Di tempat itu, dia terlalu didambakan oleh para gadis dan janda muda dan walaupun tidak senantiasa muncul terang-terangan para Ibu-ibu muda maupun setengah tua juga mengimpikan untuk memandikan bersama lidah dan bibir-bibir mereka yang mungil-mungil itu. Dari cara mereka lihat Randi pada kala berpapasan atau Kebetulan melalui di depan rumahnya muncul mereka dipenuhi idaman jika bisa bertelanjang Berasyik masyuk bersama Randi pada suatu disaat nanti.
Diantara ibu-ibu itu adalah Tante Wenny. Dia perempuan asal Sukabumi yang terlalu jelita. Kulitnya kuning langsat. Perawakannya langsing. Mungkin sekitar 165 cm-an. Usianya yang sekitar 42 tahun Namun nampaknya ada 10 tahun lebih muda. Suaminya, Oom Darto adalah karyawan di sebuah pabrik sepatu di Cilincing yang tiap-tiap hari pulang kerja sampai jam 9 malam. Tentu saja Tante Wenny banyak kala sepinya. Dia sering mengayalkan jika bisa ‘kelonan’ bersama Randi.
Tak jarang pada puncak sepinya dia lakukan masturbasi. Dengan dibantu ketimun Jepang yang hijau gede dan panjang Itu. Dia mengulum-ulum ketimun itu lantas memasukkannya ke liang vaginanya. Tante Wenny mengayalkan seakan kontol Randi sedang dia kulum lantas ngentot kemaluannya. Dan betapa Puasnya kala menjelang orgasme dia memanggil-manggil didalam bisik dan rintihannya.
“Acchh.. Randii.. Randii.. Keluarkan pejuhmu ke mulut tantee.. Yaa.. Keluarkan pejuuhhmmuu..”
Dan selanjutnya terjadilah momen itu. Suatu pagi, sekitar jam 9 pagi, bersama sebatang rokok di tangannya Randi jalan melalui rumah Tante Wenny. Saat itu Tante Wenny sedang menyiram dan memindah-mindah Pot tanaman anggrek kesukaannya. Ada pot besar yang dia nggak kuat mengangkatnya. Melihat Perempuan jelita macam Tante Wenny, tanpa diminta dan spontan Randi menopang mengangkat pot itu.
“Koq ngangkat-angkat sendiri. Irwan mana Tante?” Rando bertanya Irwan yang sahabatnya dan anak Tante Wenny yang cantik ini.
“Ah, Irwan mah tahunya beres. Tahu tuh, katanya tadi ke Depok negok kampusnya dan terus main kali”
Randi dan Irwan adalah kawan bermain kala di kompleks. Betapa terima kasih dan gembira hati Tante Wenny. Apalagi kala tahu bahwa yang menopang itu adalah Randi Laki-laki muda kawan anaknya yang mempesona hatinya dan senantiasa datang didalam khayal-khayal masturbasinya. Bagaimana kelanjutan cerita yang merangsang libido ini? Apa yang setelah itu dilaksanakan Tante Wendy? Bagaimana Randi merespon ulah tante jelita ini? Acchh.. Aku rasa lebih fair kecuali Randi sendiri yang cerita kepada para pembaca. OK? Dengarkan.. [Jilatan-jilatan Tante Wenny pada celah-celah tubuhku.]
“Hooh.. Cah Bagus (aku menjadi tersanjung bersama panggilannya itu).. Terima kasih yaa..”
Aku menopang menggeser pot itu dan saya merasa Tante Wenny memandangku sedemikan rupa gemas dan hausnya. Pada wajahnya muncul dia hendak mengeluarkan suatu hal pikiran. Aku merasa bahwa tante jelita ini cuma pengin menghambat sehingga saya lebih lama tinggal. Aku paham. Aku sebenarnya juga sering hadapi tante-tante genit macam ini. Mereka bilang bahwa Laki-laki macam saya pantas terima perlakuan macam bayi.
Melayani Laki-laki macam saya merupakan dambaan kenikmatan syahwat yang tak terkira. Mereka bilang apapun mauku bersama senang mereka bakal penuhi. Dia muncul berpikir dan…
“Oocchh.. Bisa minta tolong sekalian donk.. Sayang (dia terus melemparkan godaan padaku). Tante Mau pindah lemari di tempat tidur tante. Mau bantuin nggak??”
“Boleh saja…”
Aku tahu banget bahwa tante jelita ini juga tante yang ‘gatal’ dan sering mencuri-curi pandang tiap-tiap kali saya melalui atau berpapasan dengannya. Kali ini apa maunya??
“Ayolah masuk…” Tante Wenny mengajak saya masuk ke rumahnya, “Duduk dulu, yaa..”
Tante Wenny bergegas masuk ke kamarnya. Aku agak heran kenapa untuk menggeser lemari yang paling cuma semenit harus duduk dulu. Tetapi pikiranku langsung sirna kala lihat Tante Wenny udah ubah ‘short pant’ yang terlalu seksi kala ulang muncul dari kamarnya.
“Aku buatin minuman dulu, yaa…”
Ucchh mata tante genit itu melirik belalak sambil membebaskan senyuman dari pipinya yang ranum perlihatkan kejelitaannya. Aroma parfumnya terlalu menggoda libidoku. Untuk membesarkan hatinya saya melototkan mataku lihat lekuk liku tubuhnya bersama penuh kekaguman Birahi. Aku makin percaya bahwa ini seluruh cuma ulah Tante Wenny untuk menghambat sehingga saya tidak cepat menghilang dari pandangan matanya. Ah, biarlah. Siapa tahu bisa rejeki nomplok.
Dengan 2 buah gelas besar penuh Coca Cola di tangan Tante Wenny muncul dan mengimbuhkan segelas bikin Aku.
“Ambil Cah Bagus…” sapanya bergaya akrab, “Ayo minum… nggak harus buru-buru khan?”
Duduk di seberang depanku mata Tante Wenny sebentar-sebentar mengamati penuh idaman birahi padaku. Aku percaya kecuali kuminta menjilati lubang pantatku tentu dan juga merta dia bakal lakukan bersama sepenuh obsesinya. Aku tahu pula dia isteri yang kesepian sebab selama hari ditinggal kerja suaminya.
“Kamu koq bagus banget ssehh Ran..? Dulu mama anda makan apa bisa melahirkan cah bagus Macam ini..?” lempar goda yang begitu berani dan agresif dari tante genit padaku. Aku nggak tahu harus jawab apa. Aku diam saja. Aku harus berlagak acuh dan ‘cool’.
“Jadi nggak menggeser lemari, Tante?”
“Oohh, pastii.. Sekarang?” dia berdiri.
Yang aneh tangannya disodorkan untuk kuraih dan yang terjadi lantas adalah dia menarikku ke kamar tidurnya.
“Mari kutunjukkan lemarinya,” sambil terus menggelandang aku.
“Yang ini Cah Bagus.. Digeser ke kanan sedikit. Tante senang cerminnya mengarah ke tempat tidur sampai kecuali Oom serupa Tante tidur bisa sambil berkaca. Gituu..!” katanya sambil melempar senyum manisnya bersama penuh arti.
Aku baru capai tepian lemari untuk merasa mendorong kala tiba-tiba bibir Tante Wenny memagut lenganku lantas melata dan menyedot punggung tanganku. Duuhh.. Aku sepertinya disambar stroom listrik ribuan watt. Seluruh tubuhku langsung menggelinjang. Aku merasakan betapa haus dan sepinya Perempuan STW (setengah tua) ini. Tak kupungkiri sedotan bibir Tante Wenny langsung menyambar gairah syahwatku. Kontolku udah ngaceng kala tangan Tante Wenny tak bisa kuhindari merabai celah-celah selangkanganku.
“Cc.. Cah Baguuss.. Ayolah.. Jangan acuh.. Cium aku.. Atau.. L.. Ludahi akuu.. Aku terlalu Rindu sayaanngg…” sambil tangannya berusaha capai dan merangkul leherku berikut bibirnya Yang menantang bibirku. Aku masih bergaya acuh dan ‘cool’.
“Ayoo.. Ludahi saya Randii.. Ludahi tante..”. Matanya itu.. Ahh.. Mata yang sungguh terlalu Kehausan.
“Tolong Randii.. Tolong tante inii.. Ayoo.. Mana ludahmuu..”
Dia merangsek berusaha memagut bibirku tetapi saya mengelak dan pagutan itu mendarat pada kulit leherku. Tante Wenny menjadi beringas, Dia memelukku keras sambil mengamukkan pagutannya pada leher, dagu, bawah kuping dan bahuku. Aku sebenarnya makin terbakar. Namun jenis acuh dan ‘cool’-ku senantiasa saya pertahankan.
Sungguh indah nikmati bagaimana perempuan bersama penuh haus mengerjain dan nikmati tubuhku. Akhirnya saya terdorong dan jatuh ke kasur. Tante Wenny tak ulang bisa kubendung.
“Nanti saja menggeser lemarinya ya sayaanngg…”
“Kasihan Cah Bagus. Kamu harus istirahat duluu yaa.. Mumpung Irwan nggak di rumah. Kamu Temenin Tante dulu yaa…” sambil tangan-tangannya terus menggerilya tubuhku.
“Acchh Tantee.. Jangan.. Nanti dicermati tetangga. Saat Randi masuk tadi khan ada pembantu Bu Kirno sebelah rumah sedang nyapu,”
“Ahh.. Jangan khawatir. Dia cuma babu blo’on. Nggak bakal berani ngomong apa-apa,” suara berbicara yang didera nafsu birahi menyebabkan Tante Wenny merendahkan pelayan sebelah rumahnya.
Tante Wenny yang jelita ini bergerak jongkok dan layaknya pelayan pada tuannya merasa melepasi sepatuku. Sebelumnya dia ciumi terutama dahulu ujung-ujung sepatuku sambil.
“Sabar ya Cah Bagus.. Uuhh.. Kenapa anda bagus banget sseehh..?”
Dia juga cium-cium kaos kakiku. Bahkan sementara dia sumpalkan sendiri pada mulutnya sambil membebaskan wajah senyumnya padaku. Sebelum merasa melepasi celanaku mama Irwan yang jelita ini mencium, melumat dan menggigiti telapak Kakiku.
“Sayaang.. Kakimu indah banget. Bikin tante ngiler banget ssiihh..”
Dia ciumi, jilati dan kulum jari-jari Kakiku. Lidahnya menjilati celah-celah di pada jari-jari itu. Nampak bibir indah tante Wenny demikian Lahap mengecupinya. Seluruh tubuhku layaknya terkena sengatan listrik. Ucchh.. Nikmatnya sampai ke ubun-ubun. Hampir kutarik kakiku sebab tak tahan rasa geli yang merambati saraf-sarafku. Sementara libidoku langsung terdongkrak. Kontolku ngaceng mendesaki celanaku. Akhirnya tangannya berhasil membebaskan kancing celanaku dan menariknya merosot kebawah, membuangnya ke lantai sampai saya tinggal bercelana didalam saja.
“Dduhh.. Duuhh.. Randikuu.. Tante udah lama merindukan macam ini,” tante Wenny langsung membenamkan mukanya ke selangkanganku. Dia menggigiti celana dalamku yang menonjolkan Kemaluanku. Aku merasakan giginya mengigit kenyalnya kontolku yang sebenarnya udah ngaceng berat. Tetapi tidak lama.. Akhirnya Tante Wenny merosot melata ke lantai menyergap kakiku yang terjuntai dari tempat tidur untuk Langsung menciuminya telapak kakiku. Dia kulum dan jilati jari-jari kakiku. Lidahnya menusuki celah-celah Jariku. Dduhh.. Bukan main nikmatnya. Lidahnya yang hangat lembut itu berusaha membersihkan aroma kakiku yang tentu berbau kaos kaki atau sepatu yang menusuk.
Demikian kegilaan dia mencium dan menggigit anggota ini sebelum selanjutnya melata menuju betis-betisku. Gigi-giginya yang tajam kadang kala menggigit sakit sampai saya harus menghambat bersama mengaduh desah dan menghambat kepalanya. Namun seluruh itu justru menyebabkan Tante Wenny makin meliar. Didorongnya pahaku sampai saya terbalik tengkurap. Dalam posisi ini Tante Wenny ulang menyerang saya dari bawah. Lidah dan bibirnya mengecupi lipatan paha dan betisku. Uucch.. Rasanya tak tahan.. Aku tak dulu saya nikmati sentuhan seksual macam ini.
Tante Wenny yang usianya udah lebih 40 tahun ternyata nafsunya layaknya magma gunung berapi. Yang saya kaget adalah kala ciuman itu terus merambah ke paha belakangku dan bersama cepatnya naik sampai wajahnya langsung nyungsep ke belahan pantatku. Yaa ampuunn.. Dengan histeris tante Wenny mengusel-uselkan wajahnya ke celah bokongku. Tante Wenny tanpa sangsi menciumi pantatku. Bagi saya menjadi sensasi yang luar biasa kala lidahnya menggelitik dan menusuk-nusuk lubang pantatku ini. Sesekali bersama geregetan dia menggigit kecil Bibir-bibir analku. Lidahnya berusaha menggerilya lubang duburku sambil nafasnya terdengar demikian memburu. Rasanya dia didalam suasana birahi yang penuh kegilaan. Yang tak mungkin saya bisa menghentikannya. Dia udah tenggelam didalam kejaran syahwatnya sendiri.
“Hecchh.. Huuchmm.. Rr, rra.. Andd.. Ii,” gumamnya didalam tenggelam sambil bersama histeris lidahnya terus mencari-cari. Tanpa kusadari saya tertuntun untuk nungging tinggi. Naluriku adalah membuka celah bokongku sehingga wajah Tante Yenny bisa lebih tenggelam dan lidahnya menemukan lubang analku.
“Acchh.. Rr.. Randd.. Ddii..”
Berpegang pada bokongku sapuan dan sedotan lidah dan bibirnya di Lubang duburku makin nikmat kurasakan. Entah kenikmatan macam apa yang didapatkan Tante Wenny dari analku ini. Mungkin aroma analku membuatnya mabuk kepayang padaku. Kubayangkan bagaimana jika Irwan yang sahabatku lihat bagaimana mamanya menjilati lubang taiku. Haa.. Haa.. Aku tertahan sampai menjelang makan siang.
Tante Wenny berhasil merangsang libidoku sampai saya tak bisa menghambat air maniku tumpah ke mulutnya. Kulihat betapa rakus dia menjilati spermaku sampai bersih tanpa bekas. Yang tercecer di rambut kemaluanku, pahaku, batang dan pangkal kemaluanku bersih macam kena cuci saja. Uuchh.. Sangat nikmat merasai jilatan dan sedotan bibir ayu milik Tante Wenny Ini.
Yang lebih tak kumengerti adalah kala saya permisi ke kamar mandi untuk kencing. Saat pancuran kencingku mancur Tante Wenny menyusul masuk ke kamar mandi. Kupikir dia cuma hendak mengambil Sesuatu. Ternyata dia merangkul pinggulku dan bergerak jongkok menyambut pancuran kencingku. Sambil matanya melirik ke aku, dia menengadahkan dan membuka mulutnya menampung cairan kuning pekat kencingku. Tanpa bisa kucegah dia memegangi kedua kakiku dan minum menenggak cairan pekatku itu.
“Jangan Tantee… jangaann..!,” tetapi saya tak bisa mencegahnya.
Juga saya tak bisa menghentikan kencingku yang sebenarnya udah terlalu mendesaki kandungannya. Sungguh mempesona lihat tante Wenny yang jelita setengah gelagapan bersama mulutnya yang sga-nga terima pancuran kencing kuning pekat yang muncul dari penisku. Terdengar suara jatuhnya pancuran air kencing didalam rongga mulutnya itu. Sebagiannya dia minum seakan menjadi penawar Hausnya dan sesekali dia raupi wajahnya layaknya orang membersihkan wajah bersama kencingku ini.
“Tante sebenarnya udah mengimpikan kencingmu sayaanngg.. Nikmat banget rasanya.. Tante suka Banget niihh…” katanya sambil mengusap raup wajahnya bersama air kencing yang dia tampung pada Kedua tangannya.
Demikianlah cerita sekilas pengalaman Randi yang sebenarnya punya pesona seksual luar biasa itu. Tante Wenny yang jelitapun bertekuk lutut bersama senang untuk menjilati pantat dan minum air kencingnya.
*****
Ini terjadi sekitar 2 tahun yang selanjutnya kala saya masih duduk di kelas 2 SMU top di Kebayoran. Waktu itu usiaku masih 16 tahun. Walaupun banyak cewek kawan kelas maupun kakak kelasku yang sering merayu, mengajak kencan atau terang-terangan bilang naksir padaku, lebih-lebih mendambakan tidur bersama saya tetapi saya masih senantiasa perjaka ‘ting-ting’ dan terlalu ‘idjo’ didalam perihal seksual.
Cewek-cewek itu bilang bahwa saya adalah pemuda paling seksi di sekolahku. Bahkan mereka juga bilang mungkin se-Kebayoran cuma kepadakulah mereka mendambakan tidur denganku. Lebih gila ulang ada yang bilang terlalu suka hati untuk menerimanya jika saya senang melenyapkan air ludahku ke mulutnya. Edann.. Ternyata bukan cuma kawan sekolahku yang pengin ngajak tidur aku. Dan ini baru saya menyadari sehabis saya berada di rumahnya di mana saya tak bisa ulang menghindar.
Dia adalah Bu Endang guru matematika SMU Kebayoran. Bu Endang adalah guru yang paling cantik di SMU-ku. Anak-anak bilang dia serupa bersama Desy Ratnasari itu artis sinetron asal Sukabumi. Yang saya heran bahwa Bu Endang ini baru saja menikah sekitar 3 minggu yang lalu. Bahkan orang tuaku datang kala pernikahannya itu. Suaminya adalah seorang PNS Departemen Dalam Negeri. Sesekali suaminya itu bertugas meninjau ke daerah-daerah di tanah air. Dengan alasan banyak pekerjaanku yang salah kala bel pulang kelas berbunyi, sekitar jam 12.30 siang Bu Endang menahanku sehingga tidak pulang dulu.
“Kamu harus memperbaiki PR-mu. Aku nggak senang dibikin repot. Kamu bawa seluruh buku-buku ini ke rumah ibu. Nanti anda ibu ajari bagaimana mengerjakan PR bersama benar,” katanya bersama suara kesal atau marah padaku.
Siang itu saya tidak boleh pulang dan harus studi matematika pada Bu Endang di rumahnya. Dengan Honda bebek-nya Bu Endang meluncur pulang lebih dahulu. Aku harus menyusul naik kendaraan umum sambil mempunyai buku-bukunya yang memadai berat ini. Ah, mungkin inilah hukamanku sebab pekerjaanku yang tidak bener itu. Anehnya sesampainya di rumahnya, Bu Endang menyambut saya bersama terlalu ramah. Wajah marah atau kesal di kelas tadi serupa sekali tak muncul lagi.
“Sini Randi. Kamu taruh tuh buku-buku ibu di meja. Jangan malu-malu. Kamu makan siang dulu, ya, serupa ibu. Bapak ulang dinas ke Kalimantan, menjadi ibu sendirian koq. Mau minum apa?”
Dia rangkul pinggulku menuju meja makan. Ah, ini mah lebih dari ramah. Rangkulannya itu demikian mesra menyebabkan saya langsung merinding bergetar. Rasanya saya belum dulu dirangkul perempuan macam begini. Tangannya yang lembut itu mengelusi pinggulku. Bahkan ada sekali sedikit mencubit aku. Nampaknya seluruh itu merupakan sinyal atau sinyal yang dilepas Bu Endang padaku. Karena saya nggak tahu harus bagaimana, menjadi yaa… ngikut saja kemauannya. Yang kupikirkan cuman mudah-mudahan matematikaku cepet benar dan saya bisa lekas pulang.
Selesai makan dia ulang merangkul mesra dan membimbing saya ke sofa ruang tamunya. Dan ternyata hari itu serupa sekali tak ada matematika di rumah Bu Endang. Sejak awal duduk di sofanya, Bu Endang langsung mengelusi pahaku. Dia bilang.
“Randii… anda menjadi dambaan banyak cewek di sekolah. Kamu tentu tahu, khan? Sudahlah, matematikamu nanti biar ibu yang bantu benerinnya. Ibu pengin istirahat sambil ngobrol dulu serupa kamu. OK?” Bu Endang menutup kata-katanya sambil tangannya mengambil tanganku dan meremasi jari-jariku.
Edan… nggak tahu kenapa tanpa tahu saya membalas remasannya. Akibatnya Bu Endang langsung menjadi liar. Pasti dia berpikir bahwa saya merespon apa yang dia mau. Duduk di sofa saling berhimpitan Bu Endang makin merapatkan tubuhnya pada tubuhku. Remasan tangannya menjalar menjadi cemolan di pahaku. Greenng.. Saraf birahiku bangkit dan tak ayal ulang kemaluanku ngaceng mendesaki celana SMU-ku.
Uucchh.. Aku malu banget kecuali sampai Bu Endang melihatnya. Tetapi dia sebenarnya udah melihatnya.
“Nggak usah malu Randi.. Ini pertanda anda normal dan sehat. Baru kesenggol sedikit saja langsung tegang berdiri.. Hii.. Hii.. Hii…” canda Bu Endang bersama senyumannya yang terlalu menawan yang menyebabkan suasana menjadi lebih mencair.
Namun mukaku senantiasa berasa kemerahan sebab malu. Aku cepat tahu pula rupanya Bu Endang sebenarnya udah berencana perjumpaan macam ini denganku. Aku merasa blo’on banget, walaupun pada dasarnya saya suka bersama apa yang sedang terjadi ini. Aku menengokkan wajahku. Acchh.. Wajah-wajah kami ternyata udah begitu berdekatan.
Mata Bu Endang rasanya menusuki kedalaman mataku untuk mendapatkan kepastian. Dan saya senantiasa blo’on kala tiba-tiba bibirnya udah menyentuh dan langsung menyedot kecil bibirku. Itulah pembukaan yang dilaksanakan Bu Endang padaku. Mengerti kecuali selanjutnya saya diam dan ‘cool’ Bu Endang ulang meliar. Dia peluk dan pagut aku. Bibir lembutnya melumat bibirku. Aku sedikit gelagapan dan hampir terjatuh dari sofa tempat dudukku. Situasi itu menyebabkan saya merangkul Bu Endang secara reflek. Dan itulah yang ditungu-tunggunya.
Dia mendesah, “Hhaacchh.. Hheecchh.. Rranddii…” bersama semuanya kini memeluk tubuhku.
Kurasakan remasan tangan-tangan halusnya pada punggung mengiringi lumatan bibirnya pada bibirku. Aku merem melek kaget tetapi uucchh.. Nikmatnyaa.. Aroma wangi-wangian Bu Endang menyergap hidungku dan saya merasa berasa melayang didalam nikmatnya berasyikmasyuk bersama perempuan ayu macam Bu Endang yang didalam pelukanku pula kini.
“Bapak nanti bagaimana Bu..??”
“Sshh.. Jj.. Jangan berbicara itu sayangg.. Aku terlalu rindu kamu.. Aku terlalu mendambakan kamu.. Ayoo Randi.. Peluk ibu yang lebih erat lagii…” rupanya dia tak senang saya berbicara perihal suaminya.
Ah.. Urusannyalah. Dan Bu Endang manfaatkan kesempatan bersama saya ini bersama sepenuh kerinduan bakal belaian syahwatnya. Dia hempaskan saya ke sofa dan tindih tubuhku.
Dia meracau, “Randii.. Kamu tampan banget siihh.. Aku sayang anda Randii.. Boleh ya? Bolehh.. Khan?? Randii.. Hhcchh…” terdengar nafasnya yang memburu dan suaranya serak menghambat gelora nafsunya.
Dan tangan-tangannya yang lentik itu merasa tak sabar merasa melepasi kancing kemeja SMU-ku. Aku menjadi bengong juga bakal nafsunya yang demikian menggebu padaku.
“Randii.. Ibu sayang kkhaamuu.. Randii, oohhcch Ran.. Ddii…” racau Bu Endang tak henti-hentinya.
Saat kancing kemejaku udah terlepas mukanya langsung merangsek dadaku. Kurasakan bibirnya merasa bersama halus melumat buah dadaku. Lidahnya menyapu dan lantas disusul bersama bibirnya yang mengecupi dan mengigit penuh haus pada pentil-pentilku. Aku taka tahan menghambat gelinjangku, saya juga mengeluarangan desahan dan erangan. Tangan Bu Endang meremasi punggung dan turun ke pinggulku.
Duuhh.. Sungguh dahsyat birahi ini.. Kutengok perempuan cantik se usia bibiku ini layaknya ular sanca yang sedang menancapkan taringnya pada dadaku. Kepalanya bergeleng untuk mengetatkan gigitannya. Lumatan bibirnya menyebabkan saya melayang didalam lambung nikmat tak terkira. Bu Endang rasanya udah melupakan semuanya juga pada suaminya yang baru menikahinya 3 minggu yang lalu. Kemudian mulut ular sanca itu melata dan merambah perutku dan terus turun lagi.
Saat bibirnya menyentuh kuncir pinggangku taringnya ulang menggigit sehingga tidak melepaskannya. Tangan-tangan Bu Endang bersama sigap melepasi kuncir pingang dan kancing celanaku. Dengan tak sabar dia tarik dan dorong celanaku ke bawah sampai betisku. Wajahnya langsung menenggelamkan ke celana didalam dan selangkanganku. Dia menciumi bersama ganasnya. Oocchh.. Perempuan ayuu.. Begitu buas dia merangsekkan mukanya. Dia hirup aroma-aroma yang menebar dari selangkangan dan celana dalamku.
“Raanddii.. Uucchh.. Raa.. Nddii.. Ibuu saayngg.. Kkaamuu…” racaunya yang terus membising.
Aku sebenarnya tak bisa menghambat gelinjangku. Syaraf-syaraf peka yang tertebar pada pori selangkangan dan pahaku menyebabkan saya merasakan kegatalan shyawat yang terlalu dahsyat. Kucabik-cabik rambut Bu Endang dan kuremas-remas bersama terlalu kerasnya. Jilatan dan lumatan bibir Bu Endang menyebabkan saya menggeliat-geliat tanpa menghambat diri. Seluruh syaraf-syaraf birahiku terbangkit merambatkan kegelian tak tehingga.
“Ampuunn.. Buu.. Ooiicchh.. Jj.. Jangaann…” entah ngomong apa ulang aku.
Rasanya asal bersuara. Aku perlu saluran emosiku yang menggelegak sebab ulah Bu Guru cantikku ini. Rambut Bu guruku yang cantik itu langsung awut-awutan, tetapi Bu Endang tidak mengeluh. Dia terus menggilakan wajahnya men-‘dusel-dusel’ ke selangkanganku. Kemaluanku menjadi tegak keras layaknya tongkat mahoni. Bu Endang tanpa sangsi menciumi dan menjilatinya. Basah precum di ujung penis dia jilati bersama rakus. Nampak wajahnya menyeringai didalam matanya yang setengah terbeliak larut didalam puncak nikmatnya yang tak bertara. Aku tak bisa menahannya.
“Adduhh.. Bb.. Bu.. Saya nggak ttahann.. Ggelii.. Bbuu..”
Kuseret tubuh Bu Endang ke atas sampai tubuhnya menindih tubuhku. Kurangkul bersama ketat bahunya dan kucium bibirnya. Aku melumat penuh kegilaan sambil menyedoti ludah-ludahnya. Kami bergelut bak dua ular yang sedang memperebutkan mangsa. Pada kala bersamaan tangan Bu Endang capai kemaluanku untuk diarahkan ke kemaluannya. Aku tahu, dia senang saya memasukan batang kemaluanku ke rongga kemaluannya.
Terus terang tiba-tiba rasa was-was menyergap aku. Aku was-was Bu Endang hamil. Aku was-was Bu Endang bakal memaksa saya menjadi suaminya sebab kehamilannya itu. Aku was-was dia bakal memperkarakan ke pengadilan dan mempermalukan aku, mempermaukan orang tuaku. Aku was-was menjadi berita di koran Pos Kota atau Lampu Merah atau berpuluh tabloid lainnya yang banyak beredar di Jakarta kala ini. Aku was-was tak ulang menyandang predikat pemuda atau perjaka. Lucu juga ketakutanku macam itu pada kala itu.. Tetapi Bu Endang tak habis cara. Tetap melayani pagutanku, bersama tubuhnya yang setengah duduki selangkanganku bersama penisku yang tegang kaku bersama cepat terjadilah..
Blezz..
Seluruh batang kemaluanku udah amblas ditelan kemaluan Bu Endang. Tak ada kesempatan untukku. Bu Endang langsung bergerak naik turun memompakan pantatnya yang mendorong memek atau vaginanya menelani batang keras penisku ini. Ascchh.. Akhirnya.. Hanya Bu Endanglah yang berhasil capai keperjakaanku. Dan nikmat yang kuterima.. Sungguh tak bisa kulukiskan.. Batang penisku terjepit oleh dinding hangat yang legit. Memek Bu Endang menyedot-nyedot urat-urat peka yang tersebar di seluruh permukaan batang penisku.
Kenikmatan itu demikian bergerak penuh perubahan tiap-tiap Bu Endang menarik atau mendorong pantatnya yang menopang kemaluannya melahapi kenisku. Ammppunn.. Buu.. Enaakk bangett.. Ssiihh.. Kini saya lihat bagaimana seorang perempuan yang demikian kehausan di serang orgasmenya. Mula-mula mata di wajah cantiknya itu mendelik dan membeliak bersama kelopak yang menelan bulatan hitam matanya dan menyisakan warna putih pinggirnya.
Keadaan itu disertai bersama desah keras yang terlalu mengenaskan sebagaimana kijang yang sekarat didalam terkaman pemangsanya. Dengan tangannya yang hampir mencekik leherku Bu Endang menancapkan cakarnya pada bahu samping leherku itu. Dengan keringat yang deras mengucur dia tekan lebih membenam kemaluannya untuk menelan kemaluanku lebih dalam. Pada detik-detik itu kurasakan kedutan-kedutan keras menggilas-gilas batang penisku. Yang lantas terdengar adalah auman atau teriakan tanpa tertahan dari mulut ayu Bu Endang.
“Rr.. Aanndii.. Tt.. Toloonngg.. Ranndii.. Ampunii ibbuu.. Yaa.. Rranddii.. Ii,” lantas ‘bruukk’ tubuhnya jatuh terhempas ke dadaku. Tubuh penuh keringat itu langsung berkejat-kejat lebih dari satu kala sebelum selanjutnya diam dan beku kecuali menyisakan tarikan nafas yang cepat dan tersengal. Aku langsung merasa iba dan tanganku muncul mengusap-usap punggungnya.
“Haacchh.. Maafin ibu yaa.. Randdii…” tubuhnya merosot ke kasur bersama lunglai.
Tangannya ulang jatuh ke dadaku. Situasi hening lebih dari satu saat. Aku menyesuaikan niat Bu Endang. Aku tak bergerak dan membebaskan dia membebaskan lelahnya. Hari itu saya pulang jam 5 sore. Bu Endang memuasi saya bersama mulutnya yang mengulum-kulum penisku. Dia minum spermaku.
“Randi, inilah sinyal ibu sayang serupa kamu. Pada papa (suaminya) saya nggak dulu lakukan begini. Aku rasanya geli. Jijik begitu. Tetapi pada anda Randi, justru saya senantiasa mengimpikannya. Aku senantiasa mengayalkan bagaimana rasanya menelan air manimu. Auucchh.. Terima kasih banget yy.. Sayaanngg..”
Sebelum saya pulang Bu Endang memberi saya duwit tetapi kutolak. Apa jadinya nanti.. Bu Endang meminta saya mampir ulang selama suaminya belum pulang. Namun saya tak dulu mampir lagi. Aku senantiasa saja was-was kecuali Bu Endang hamil sebab ulahku. Sekali saya kepergok dengannya kala ada pesta olah raga antar sekolah.
Pada kala itu usai pertandingan di sekolah (aku pemain volley SMU-ku) saya tertinggal pulang sehingga saya terjadi memadai jauh sebelum ketemu halte angkutan kota. Tiba-tiba sebuah mobil menepi pas di sampingku. Bu Endang membuka kaca pintunya dan menyilahkan masuk. Aku nggak sedap untuk menolaknya. Rupanya dia berkesempatan mempunyai mobil suaminya.
“Apa kabar Randi?” sambil meremas selangkanganku yang menyebabkan kontolku langsung ngaceng berdiri.
Tidak langsung menggerakkan mobilnya Bu Endang justru menepi, “Ibu kangen ini Randi, boleh yaa…”
Sebelum saya menjawabnya tangan-tangannya yang cantik gemulai itu udah menarik resluiting celanaku dan lebih-lebih langsung merogoh dan lantas membetot muncul kontolku. Tangannya lebih dari satu kala mengurut-urut sampai saya memperdengarkan desahanku. Dengan mesin senantiasa menyala sehingga ruangan mobil senantiasa dingin ber-AC Bu Endang langsung merunduk dan menyosor.
Kontolku di emut-emut dan kulum-kulum sampai spermaku muncrat. Menjelang muncrat kuraih kepalanya yang nampaknya rapi ditata salon rambutnya. Kuremasi tatanan rambut itu sampai awut-awutan. Menjelang muncrat saya berteriak tertahan. Kutekan kepala Bu Endang sehingga menelam lebih dalam. 6 atau 7 kedutan besar kemaluanku memuncratkan cairan hangat air maniku ke haribaan mulut Bu Endang. Nampaknya di tersedak-sedak. Namun dia ucapkan terima kasih tak habis-habisnya padaku sebelum saya diturunkan di halte angkutan kota tidak jauh dari sekolahku.
Sensual Seksku yang penuh pesona
Reviewed by susan
on
Januari 10, 2019
Rating:



Tidak ada komentar: