cerita dewasa - Usia aku 36 tahun, telah beristri dan membawa 3 orang anak. Rumah aku terletak di pinggiran kota Jakarta yang mampu disebut sebagai kampung. Orang tua aku tinggal di sebuah perumahan yang cukup elite tidak jauh berasal dari rumah saya. Orang tua aku memang mampu dibilang berkecukupan, sehingga mereka mampu mempekerjakan pembantu. Nah pembantu orang tua aku inilah yang menjadi ‘pemeran utama’ di dalam cerita aku ini.

Ayah aku baru dua bulan yang lantas meninggal dunia, menjadi sekarang ibu aku tinggal sendiri cuma ditemani Ine, pembantunya yang telah hampir 3 tahun bekerja disitu. Ine berumur 25 tahun, dia tetap belum bersuami. Wajahnya tidak cantik, walaupun tidak mampu disebut buruk juga. Tapi yang menarik berasal dari Ine ini adalah bodynya, seksi sekali. Tinggi kira-kira 165 cm, dengan pinggul yang bulat dan dada berukuran 36. Kulitnya agak cokelat. Sering sekali aku memperhatikan kemolekan tubuh pembantu ibu aku ini, sambil membandingkannya dengan tubuh istri aku yang telah agak mekar.
Hari itu, karena kurang enak badan, aku pulang berasal dari kantor jam 10.00, sampai di rumah, aku dapati rumah aku kosong. Rupanya istri aku pergi, sedang anak-anak aku pasti sedang sekolah semua. Saya pun coba ke rumah ibu saya, yang cuma berjarak 5 menit terjadi kaki berasal dari rumah saya. Biasanya kalau tidak tersedia di rumah, istri aku sering main ke rumah ibu saya, entah untuk semata-mata ngobrol dengan ibu aku atau menopang beliau kalau sedang sibuk apa saja.
Sampai di rumah ibu saya, ternyata disana pun kosong, cuma tersedia Ine, sedang memasak.
Saya tanya Ine, “Ne, Bu Ria (nama istri saya) kesini nggak?”
“Iya Pak, tadi kesini, namun tetap mirip temannya” jawab Ine.
“Terus Ibu sepuh (Ibu saya) kemana?” Tanya aku lagi.
“Tadi dijemput Bu Ratna (Adik saya) diajak ke sekolah Yoga (keponakan saya)”
“Oooh” sahutku pendek.
“Masak apa Ne?” tanya aku sambil mendekat ke dapur, dan seperti biasa, mata aku segera memandang tonjolan pinggul dan pantatnya terhitung dadanya yang aduhai itu.
“Ini Pak, sayur sop”
Rupanya dia ngerasa terhitung kalau aku sedang memperhatikan pantat dan dadanya.
“Pak Erwin ngeliatin apa sih?” Tanya Ine.
Karena sepanjang ini aku sering terhitung bercanda mirip dia, aku pun menjawab,
“Ngeliatin pantat kamu Ne. Kok mampu seksi begitu sih?”
“Iiih Bapak, kan Ibu Ria terhitung pantatnya gede”
“Iya sih, namun kan lain mirip pantat kamu Ne”
“Lain gimana sih Pak?” tanya Ine, sambil matanya melirik kearah saya.
Saya yakin, sementara itu memang Ine sedang memancing aku untuk kearah yang lebih hot lagi. Merasa mendapat angin, aku pun menjawab lagi,
“Iya, kalo Bu Ria kan cuma menang gede, namun tepos”
“Terus, kalo aku gimana Pak?” Tanyanya sambil melirik genit.
Kurang ajar, pikirku. Lirikannya segera membuat senjata aku berdiri. Langsung aku terjadi kearahnya, berdiri di belakang Ine yang tetap mengaduk ramuan sop itu di kompor.
“Kalo kamu kan, pinggulnya gede, bulat dan kayaknya tetap kencang”, jawabku sambil tangan aku meraba pinggulnya.
“Idih Bapak, emangnya aku motor mampu kencang” sahut Ine, namun tidak menolak sementara tangan aku meraba pinggulnya.
Mendengar itu, aku pun percaya bahwa Ine memang minta aku ‘apa-apain’. Saya pun maju sehingga titit aku yang telah berdiri berasal dari tadi itu menempel di pantatnya. Adduuhh, rasanya enak sekali karena Ine memakai rok berwarna abu-abu (seperti rok anak SMU) yang terbuat berasal dari bahan cukup tipis. Terasa sekali titit aku yang keras itu menempel di belahan pantat Ine yang, seperti aku duga, memang padat dan kencang.
“Apaan nih Pak, kok keras?” tanya Ine genit.
“Ini namanya soni, sodokan nikmat” sahutku.
Saat itu, rupanya sop yang dimasak telah matang. Ine pun mematikan kompor, dan dia bersandar ke dada saya, sehingga pantatnya mulai menghimpit titit saya. Saya tidak tahan ulang mendapat sambutan seperti ini, segera tangan aku ke depan, aku remas ke-2 buah dadanya. Alamaak, tangan aku bersua dengan dua bukit yang kenyal dan mulai hangat dibalik kaos dan branya.
Saat aku remas, Ine sedikit menggelinjang dan mendesah, “Aaahh, Pak” sambil kepalanya ditolehkan kebelakang sehingga bibir kita dekat sekali. Saya memandang matanya terpejam nikmati remasan saya. Saya kecup bibirnya, dia membalas kecupan saya. Tak lama kemudian, kita saling berpagutan, lidah kita saling belit di dalam gelora nafsu kami. Penis aku yang tegang aku tekan-tekankan ke pantatnya, mengakibatkan sensasi luar biasa untuk aku (saya percaya terhitung untuk Ine).
Sekitar 5 menit, aku menurunkan tangan kiri aku ke arah pahanya. Tanpa banyak susah aku pun menyentuh CDnya yang ternyata telah sedikit lembab di bagian memeknya. Saya sentuh memeknya dengan lembut berasal dari balik CDnya, dia mengeluh kenikmatan,
“Ssshh… aahhh…”
“Pak Erwin, paak… jangan di dapur dong Pak”
Dan aku pun menarik tangan Ine, aku ajak ke kamarnya, di bagian belakang rumah ibu saya. Sesampai di kamarnya, Ine segera memeluk aku dengan penuh nafsu.
“Pak, Ine telah lama lho ingin ngerasain miliki Bapak”
“Kok nggak bilang berasal dari dulu?” tanya aku sambil mengakses kaos dan roknya.
Dan… aku pun terpana memandang panorama menggairahkan di tubuh pembantu ibu aku ini. Kulitnya memang tidak putih, namun mulus sekali. Buah dadanya besar namun proporsional dengan tubuhnya. Sementara pinggang kecil dan pinggul besar disempurnakan bongkahan pantatnya bulat dan padat sekali. Rupanya Ine tidak senang melenyapkan waktu, dia pun segera mengakses kancing pakaian aku satu persatu, membebaskan pakaian aku dan segera membebaskan celana panjang saya.
Sekarang kita berdua cuma mengenakan pakaian di dalam saja, dia bra dan CD, sedangkan aku cuma CD saja. Kami berpelukan, dan ulang lidah kita berpagut di dalam gairah yang lebih besar lagi. Saya rasakan kehangatan kulit tubuh Ine meresap ke kulit tubuh saya. Kemudian lidah aku turun ke lehernya, aku gigit kecil lehernya, dia menggelinjang sambil mengeluarkan desahan yang tambah meningkatkan gairah saya,
“Aahh… Bapak…”
Tangan aku membebaskan kait branya, dan bebaslah ke-2 buah dada yang indah itu. Langsung aku ciumi, ke-2 bukit kenyal itu bergantian. Kemudian aku jilati puting Ine yang berwarna coklat, mulai padat dan kenyal, beda sekali dengan buah dada istri saya. Lalu aku gigit-gigit kecil putingnya dan lidah aku membuat gerakan memutar disekitar putingnya yang segera mengeras.
Saya rebahkan Ine di tempat tidurnya, dan aku lepaskan CDnya. Kembali aku tertegun memandang keindahan kemaluan Ine yang dimata aku sementara itu, sangat indah dan menggairahkan. Bulunya tidak sangat banyak, tersusun rapi dan yang paling mencolok adalah kemontokan vagina Ine. Kedua belah bibir vaginanya sangat tebal, sehingga klitorisnya agak tertutup oleh daging bibir tersebut. Warnanya kemerahan.
“Pak, jangan diliatin aja dong, Ine kan malu” Kata Ine.
Saya telah tidak membawa kekuatan untuk berkata lagi, melainkan aku tundukkan kepala aku dan bibir aku pun menyentuh vagina Ine yang walaupun kakinya dibuka lebar, namun selamanya nampak rapat, karena ketebalan bibir vaginanya itu. Ine menggelinjang, nikmati sentuhan bibir aku di klitorisnya. Saya tarik kepala aku sedikit kebelakang sehingga mampu memandang vagina yang sangat indah ini.
“Ine, memek kamu indah sekali, sayang”
“Pak Erwin bahagia mirip memek Ine?” tanya Ine.
“Iya sayang, memek kamu indah dan seksi, baunya terhitung enak” jawabku sambil ulang mencium dan menghirup aroma berasal dari vagina Ine.
“Mulai sekarang, memek Ine cuma untuk Pak Erwin” Kata Ine.
“Pak Erwin senang kan?”
“Siapa sih yang nggak senang memek kayak gini Ne?” tanya aku sambil menjilatkan lidah aku ke vaginanya kembali.
Ine nampak sangat nikmati jilatan aku di klitorisnya. Apalagi sementara aku gigit klitorisnya dengan lembut, lantas aku masukkan lidah aku ke liang kenikmatannya, dan sesekali aku sapukan lidah aku ke lubang anusnya.
“Oooh… sshhh… aahhh… Pak Erwin, enak sekali Pak. Terusin ya Pak Erwin sayang…”
Sepuluh menit, aku laksanakan aktivitas ini, sampai dia menghimpit kepala aku dengan kuat ke vaginanya, sehingga aku sulit bernafas.
”Pak Erwin… aaahh… Ine nggak kuat Pak… sshhh…”
Saya rasakan ke-2 paha Ine menjepit kepala saya, bersamaan dengan itu aku rasakan vagina Ine menjadi tambah basah. Ine telah menggapai orgasme yang pertama. Ine tetap menghentak-hentakkan vaginanya kemulut saya, sementara air maninya meleleh nampak berasal dari vaginanya. Saya hirup cairan kenikmatan Ine sampai habis. Dia nampak bahagia sekali, matanya menatap aku dengan penuh rasa menerima kasih. Saya bahagia sekali memandang dia menggapai kepuasan.
Tak lama kemudian dia bangkit sambil menggapai kemaluan aku yang tetap berdiri tegak seperti menantang dunia. Dia memasukkan kemaluan aku kedalam mulutnya, dan mulai menjilati kepala kemaluan saya. Ooouugh, nikmatnya… ternyata Ine sangat pintar memainkan lidahnya, aku rasakan sensasi yang sangat dahsyat sementara giginya perihal batang kemaluan saya. Agak sakit namun justru sangat nikmat. Ine tetap mengulum kemaluan saya, yang tambah lama tambah membengkak itu. Tangannya tidak tinggal diam, dikocoknya batang kemaluan saya, sambil lidah dan mulutnya tetap tetap mengirimkan getaran-getaran yang menggairahkan di sekujur batang kemaluan saya.
“Pak Erwin, Ine
masukin sekarang ya Pak?” pinta Ine.
Saya mengangguk, dan dia segera berdiri mengangkangi aku tepat di atas kemaluan saya. Digenggamnya batang kemaluan saya, lantas diturunkannya pantatnya. Di bibir vaginanya, dia menggosok-gosokkan kepala kemaluan saya, yang otomatis menyentuh klitorisnya juga. Kemudian dia arahkan kemaluan aku ke sedang lubang vaginanya. Dia menurunkan pantatnya, dan.. slleepp.. sepertiga kemaluan aku telah tertanam di vaginanya. Ine memejamkan matanya, dan nikmati penetrasi kemaluan saya.
Saya merasakan jepitan yang sangat erat di dalam kemaluan Ine. Saya kudu berjuang keras untuk memasukkan seluruh kemaluan aku ke di dalam kehangatan dan kelembapan vagina Ine. Ketika aku tekan agak keras, Ine sedikit meringis. Sambil mengakses matanya, dia berkata,
“Pelan dong Pak Erwin, sakit nih, namun enak banget”
Dia menggoyangkan pinggulnya sedikit-sedikit, sampai selanjutnya seluruh kemaluan aku lenyap ditelan keindahan vaginanya. Kami terdiam dulu, Ine menarik nafas lega sesudah seluruh kemaluan aku ‘ditelan’ vaginanya. Dia nampak konsentrasi, dan tiba-tiba.. aku mulai kemaluan aku seperti disedot oleh suatu tenaga yang tidak terlihat, namun sangat mulai dan enaak sekali. Luar Biasa! Kemaluan Ine menyedot kemaluan saya!
Belum sempat aku berkomentar perihal betapa enaknya vaginanya, Ine pun mulai membuat gerakan memutar pinggulnya. Mula-mula perlahan, tambah lama tambah cepat dan lincah gerakan Ine. Wow.. aku rasakan kepala aku hilang, sementara dia ‘mengulek’ kemaluan aku di di dalam vaginanya. Ine merebahkan badannya sambil selamanya memutar pinggulnya. Payudaranya yang besar menghimpit dada saya, dan astaga.. sedotan vaginanya tambah kuat, membuat aku hampir tidak bertahan.
Saya tidak senang orgasme dulu, aku idamkan nikmati pernah vagina Ine yang ternyata tersedia ‘empot ayamnya’ ini lebih lama lagi. Maka, aku dorong tubuh Ine ke atas, sambil aku suruh terlepas dulu, dengan alasan aku senang rubah posisi. Padahal aku was-was ‘kalah’ mirip dia.
Lalu aku suruh Ine tidur terlentang, dan segera aku arahkan kemaluan aku ke vaginanya yang telah siap menanti ‘kekasihnya’. Walaupun tetap agak sempit, namun karena telah banyak pelumasnya, lebih ringan kali ini kemaluan aku menerobos lembah kenikmatan Ine.
Saya mainkan pantat aku turun naik, sehingga penis aku nampak masuk di lorong sempit Ine yang sangat indah itu. Dan, sekali ulang aku pun merasakan sedotan yang mengagumkan berasal dari vagina Ine. Setelah 15 menit kita laksanakan gerakan sinkron yang sangat nikmat ini, aku mulai merasakan kedutan-kedutan di kepala penis saya.
“Ine, aku telah nggak kuat nih, senang keluar, sayang…” kata aku terhadap Ine.
“Iya Pak, Ine terhitung telah senang nampak ulang nih. Oohh… sshhh… aaahh… bareng ya Pak… cepetin dong genjotannya Pak…” pinta Ine.
Saya pun mempercepat genjotan aku terhadap lubang vagina Ine yang luar biasa itu, Ine mengimbanginya dengan ‘mengulek’ pantatnya dengan gerakan memutar yang sangat erotis, disempurnakan dengan sedotan alami di dalam vaginanya. Akhirnya aku tidak mampu bertahan lebih lama lagi, sambil mengerang panjang, tubuh aku mengejang.
“Ine… ahhh… hhh… aku nampak sayaang…”
Muncratlah air mani aku kedalam vaginanya. Disaat bersamaan, Ine pun mengejang sambil memeluk erat tubuh saya.
“Pak Erwiiin, Ine terhitung nampak paakk… sshhh… aaahh…”
Saya terkulai diatas tubuh Ine. Ine tetap memeluk tubuh aku dengan erat, sesekali pantatnya mengejang, tetap merasakan kenikmatan yang tiada taranya itu. Nafas kita memburu, keringat tak terhitung ulang banyaknya. Kami berciuman.
“Ine, menerima kasih yaa, memek kamu enak sekali” kata saya.
“Pak Erwin bahagia memek Ine?”
“Suka banget Ne, abis tersedia empot ayamnya sih” jawabku sambil mencium bibirnya. Kembali kita berpagutan.
“Dibandingin mirip Bu Ria, enakan mana Pak?” pancing Ine.
“Jauh lebih enak kamu sayang”
Ine tersenyum.
“Jadi, Pak Erwin senang ulang dong mirip Ine lain kali. Ine sayang mirip Pak Erwin”
Saya tidak menjawab, cuma tersenyum dan memeluk Ine. Pembantu ibu aku yang sekarang menjadi kekasih gelap saya.

Ayah aku baru dua bulan yang lantas meninggal dunia, menjadi sekarang ibu aku tinggal sendiri cuma ditemani Ine, pembantunya yang telah hampir 3 tahun bekerja disitu. Ine berumur 25 tahun, dia tetap belum bersuami. Wajahnya tidak cantik, walaupun tidak mampu disebut buruk juga. Tapi yang menarik berasal dari Ine ini adalah bodynya, seksi sekali. Tinggi kira-kira 165 cm, dengan pinggul yang bulat dan dada berukuran 36. Kulitnya agak cokelat. Sering sekali aku memperhatikan kemolekan tubuh pembantu ibu aku ini, sambil membandingkannya dengan tubuh istri aku yang telah agak mekar.
Hari itu, karena kurang enak badan, aku pulang berasal dari kantor jam 10.00, sampai di rumah, aku dapati rumah aku kosong. Rupanya istri aku pergi, sedang anak-anak aku pasti sedang sekolah semua. Saya pun coba ke rumah ibu saya, yang cuma berjarak 5 menit terjadi kaki berasal dari rumah saya. Biasanya kalau tidak tersedia di rumah, istri aku sering main ke rumah ibu saya, entah untuk semata-mata ngobrol dengan ibu aku atau menopang beliau kalau sedang sibuk apa saja.
Sampai di rumah ibu saya, ternyata disana pun kosong, cuma tersedia Ine, sedang memasak.
Saya tanya Ine, “Ne, Bu Ria (nama istri saya) kesini nggak?”
“Iya Pak, tadi kesini, namun tetap mirip temannya” jawab Ine.
“Terus Ibu sepuh (Ibu saya) kemana?” Tanya aku lagi.
“Tadi dijemput Bu Ratna (Adik saya) diajak ke sekolah Yoga (keponakan saya)”
“Oooh” sahutku pendek.
“Masak apa Ne?” tanya aku sambil mendekat ke dapur, dan seperti biasa, mata aku segera memandang tonjolan pinggul dan pantatnya terhitung dadanya yang aduhai itu.
“Ini Pak, sayur sop”
Rupanya dia ngerasa terhitung kalau aku sedang memperhatikan pantat dan dadanya.
“Pak Erwin ngeliatin apa sih?” Tanya Ine.
Karena sepanjang ini aku sering terhitung bercanda mirip dia, aku pun menjawab,
“Ngeliatin pantat kamu Ne. Kok mampu seksi begitu sih?”
“Iiih Bapak, kan Ibu Ria terhitung pantatnya gede”
“Iya sih, namun kan lain mirip pantat kamu Ne”
“Lain gimana sih Pak?” tanya Ine, sambil matanya melirik kearah saya.
Saya yakin, sementara itu memang Ine sedang memancing aku untuk kearah yang lebih hot lagi. Merasa mendapat angin, aku pun menjawab lagi,
“Iya, kalo Bu Ria kan cuma menang gede, namun tepos”
“Terus, kalo aku gimana Pak?” Tanyanya sambil melirik genit.
Kurang ajar, pikirku. Lirikannya segera membuat senjata aku berdiri. Langsung aku terjadi kearahnya, berdiri di belakang Ine yang tetap mengaduk ramuan sop itu di kompor.
“Kalo kamu kan, pinggulnya gede, bulat dan kayaknya tetap kencang”, jawabku sambil tangan aku meraba pinggulnya.
“Idih Bapak, emangnya aku motor mampu kencang” sahut Ine, namun tidak menolak sementara tangan aku meraba pinggulnya.
Mendengar itu, aku pun percaya bahwa Ine memang minta aku ‘apa-apain’. Saya pun maju sehingga titit aku yang telah berdiri berasal dari tadi itu menempel di pantatnya. Adduuhh, rasanya enak sekali karena Ine memakai rok berwarna abu-abu (seperti rok anak SMU) yang terbuat berasal dari bahan cukup tipis. Terasa sekali titit aku yang keras itu menempel di belahan pantat Ine yang, seperti aku duga, memang padat dan kencang.
“Apaan nih Pak, kok keras?” tanya Ine genit.
“Ini namanya soni, sodokan nikmat” sahutku.
Saat itu, rupanya sop yang dimasak telah matang. Ine pun mematikan kompor, dan dia bersandar ke dada saya, sehingga pantatnya mulai menghimpit titit saya. Saya tidak tahan ulang mendapat sambutan seperti ini, segera tangan aku ke depan, aku remas ke-2 buah dadanya. Alamaak, tangan aku bersua dengan dua bukit yang kenyal dan mulai hangat dibalik kaos dan branya.
Saat aku remas, Ine sedikit menggelinjang dan mendesah, “Aaahh, Pak” sambil kepalanya ditolehkan kebelakang sehingga bibir kita dekat sekali. Saya memandang matanya terpejam nikmati remasan saya. Saya kecup bibirnya, dia membalas kecupan saya. Tak lama kemudian, kita saling berpagutan, lidah kita saling belit di dalam gelora nafsu kami. Penis aku yang tegang aku tekan-tekankan ke pantatnya, mengakibatkan sensasi luar biasa untuk aku (saya percaya terhitung untuk Ine).
Sekitar 5 menit, aku menurunkan tangan kiri aku ke arah pahanya. Tanpa banyak susah aku pun menyentuh CDnya yang ternyata telah sedikit lembab di bagian memeknya. Saya sentuh memeknya dengan lembut berasal dari balik CDnya, dia mengeluh kenikmatan,
“Ssshh… aahhh…”
“Pak Erwin, paak… jangan di dapur dong Pak”
Dan aku pun menarik tangan Ine, aku ajak ke kamarnya, di bagian belakang rumah ibu saya. Sesampai di kamarnya, Ine segera memeluk aku dengan penuh nafsu.
“Pak, Ine telah lama lho ingin ngerasain miliki Bapak”
“Kok nggak bilang berasal dari dulu?” tanya aku sambil mengakses kaos dan roknya.
Dan… aku pun terpana memandang panorama menggairahkan di tubuh pembantu ibu aku ini. Kulitnya memang tidak putih, namun mulus sekali. Buah dadanya besar namun proporsional dengan tubuhnya. Sementara pinggang kecil dan pinggul besar disempurnakan bongkahan pantatnya bulat dan padat sekali. Rupanya Ine tidak senang melenyapkan waktu, dia pun segera mengakses kancing pakaian aku satu persatu, membebaskan pakaian aku dan segera membebaskan celana panjang saya.
Sekarang kita berdua cuma mengenakan pakaian di dalam saja, dia bra dan CD, sedangkan aku cuma CD saja. Kami berpelukan, dan ulang lidah kita berpagut di dalam gairah yang lebih besar lagi. Saya rasakan kehangatan kulit tubuh Ine meresap ke kulit tubuh saya. Kemudian lidah aku turun ke lehernya, aku gigit kecil lehernya, dia menggelinjang sambil mengeluarkan desahan yang tambah meningkatkan gairah saya,
“Aahh… Bapak…”
Tangan aku membebaskan kait branya, dan bebaslah ke-2 buah dada yang indah itu. Langsung aku ciumi, ke-2 bukit kenyal itu bergantian. Kemudian aku jilati puting Ine yang berwarna coklat, mulai padat dan kenyal, beda sekali dengan buah dada istri saya. Lalu aku gigit-gigit kecil putingnya dan lidah aku membuat gerakan memutar disekitar putingnya yang segera mengeras.
Saya rebahkan Ine di tempat tidurnya, dan aku lepaskan CDnya. Kembali aku tertegun memandang keindahan kemaluan Ine yang dimata aku sementara itu, sangat indah dan menggairahkan. Bulunya tidak sangat banyak, tersusun rapi dan yang paling mencolok adalah kemontokan vagina Ine. Kedua belah bibir vaginanya sangat tebal, sehingga klitorisnya agak tertutup oleh daging bibir tersebut. Warnanya kemerahan.
“Pak, jangan diliatin aja dong, Ine kan malu” Kata Ine.
Saya telah tidak membawa kekuatan untuk berkata lagi, melainkan aku tundukkan kepala aku dan bibir aku pun menyentuh vagina Ine yang walaupun kakinya dibuka lebar, namun selamanya nampak rapat, karena ketebalan bibir vaginanya itu. Ine menggelinjang, nikmati sentuhan bibir aku di klitorisnya. Saya tarik kepala aku sedikit kebelakang sehingga mampu memandang vagina yang sangat indah ini.
“Ine, memek kamu indah sekali, sayang”
“Pak Erwin bahagia mirip memek Ine?” tanya Ine.
“Iya sayang, memek kamu indah dan seksi, baunya terhitung enak” jawabku sambil ulang mencium dan menghirup aroma berasal dari vagina Ine.
“Mulai sekarang, memek Ine cuma untuk Pak Erwin” Kata Ine.
“Pak Erwin senang kan?”
“Siapa sih yang nggak senang memek kayak gini Ne?” tanya aku sambil menjilatkan lidah aku ke vaginanya kembali.
Ine nampak sangat nikmati jilatan aku di klitorisnya. Apalagi sementara aku gigit klitorisnya dengan lembut, lantas aku masukkan lidah aku ke liang kenikmatannya, dan sesekali aku sapukan lidah aku ke lubang anusnya.
“Oooh… sshhh… aahhh… Pak Erwin, enak sekali Pak. Terusin ya Pak Erwin sayang…”
Sepuluh menit, aku laksanakan aktivitas ini, sampai dia menghimpit kepala aku dengan kuat ke vaginanya, sehingga aku sulit bernafas.
”Pak Erwin… aaahh… Ine nggak kuat Pak… sshhh…”
Saya rasakan ke-2 paha Ine menjepit kepala saya, bersamaan dengan itu aku rasakan vagina Ine menjadi tambah basah. Ine telah menggapai orgasme yang pertama. Ine tetap menghentak-hentakkan vaginanya kemulut saya, sementara air maninya meleleh nampak berasal dari vaginanya. Saya hirup cairan kenikmatan Ine sampai habis. Dia nampak bahagia sekali, matanya menatap aku dengan penuh rasa menerima kasih. Saya bahagia sekali memandang dia menggapai kepuasan.
Tak lama kemudian dia bangkit sambil menggapai kemaluan aku yang tetap berdiri tegak seperti menantang dunia. Dia memasukkan kemaluan aku kedalam mulutnya, dan mulai menjilati kepala kemaluan saya. Ooouugh, nikmatnya… ternyata Ine sangat pintar memainkan lidahnya, aku rasakan sensasi yang sangat dahsyat sementara giginya perihal batang kemaluan saya. Agak sakit namun justru sangat nikmat. Ine tetap mengulum kemaluan saya, yang tambah lama tambah membengkak itu. Tangannya tidak tinggal diam, dikocoknya batang kemaluan saya, sambil lidah dan mulutnya tetap tetap mengirimkan getaran-getaran yang menggairahkan di sekujur batang kemaluan saya.
“Pak Erwin, Ine
masukin sekarang ya Pak?” pinta Ine.
Saya mengangguk, dan dia segera berdiri mengangkangi aku tepat di atas kemaluan saya. Digenggamnya batang kemaluan saya, lantas diturunkannya pantatnya. Di bibir vaginanya, dia menggosok-gosokkan kepala kemaluan saya, yang otomatis menyentuh klitorisnya juga. Kemudian dia arahkan kemaluan aku ke sedang lubang vaginanya. Dia menurunkan pantatnya, dan.. slleepp.. sepertiga kemaluan aku telah tertanam di vaginanya. Ine memejamkan matanya, dan nikmati penetrasi kemaluan saya.
Saya merasakan jepitan yang sangat erat di dalam kemaluan Ine. Saya kudu berjuang keras untuk memasukkan seluruh kemaluan aku ke di dalam kehangatan dan kelembapan vagina Ine. Ketika aku tekan agak keras, Ine sedikit meringis. Sambil mengakses matanya, dia berkata,
“Pelan dong Pak Erwin, sakit nih, namun enak banget”
Dia menggoyangkan pinggulnya sedikit-sedikit, sampai selanjutnya seluruh kemaluan aku lenyap ditelan keindahan vaginanya. Kami terdiam dulu, Ine menarik nafas lega sesudah seluruh kemaluan aku ‘ditelan’ vaginanya. Dia nampak konsentrasi, dan tiba-tiba.. aku mulai kemaluan aku seperti disedot oleh suatu tenaga yang tidak terlihat, namun sangat mulai dan enaak sekali. Luar Biasa! Kemaluan Ine menyedot kemaluan saya!
Belum sempat aku berkomentar perihal betapa enaknya vaginanya, Ine pun mulai membuat gerakan memutar pinggulnya. Mula-mula perlahan, tambah lama tambah cepat dan lincah gerakan Ine. Wow.. aku rasakan kepala aku hilang, sementara dia ‘mengulek’ kemaluan aku di di dalam vaginanya. Ine merebahkan badannya sambil selamanya memutar pinggulnya. Payudaranya yang besar menghimpit dada saya, dan astaga.. sedotan vaginanya tambah kuat, membuat aku hampir tidak bertahan.
Saya tidak senang orgasme dulu, aku idamkan nikmati pernah vagina Ine yang ternyata tersedia ‘empot ayamnya’ ini lebih lama lagi. Maka, aku dorong tubuh Ine ke atas, sambil aku suruh terlepas dulu, dengan alasan aku senang rubah posisi. Padahal aku was-was ‘kalah’ mirip dia.
Lalu aku suruh Ine tidur terlentang, dan segera aku arahkan kemaluan aku ke vaginanya yang telah siap menanti ‘kekasihnya’. Walaupun tetap agak sempit, namun karena telah banyak pelumasnya, lebih ringan kali ini kemaluan aku menerobos lembah kenikmatan Ine.
Saya mainkan pantat aku turun naik, sehingga penis aku nampak masuk di lorong sempit Ine yang sangat indah itu. Dan, sekali ulang aku pun merasakan sedotan yang mengagumkan berasal dari vagina Ine. Setelah 15 menit kita laksanakan gerakan sinkron yang sangat nikmat ini, aku mulai merasakan kedutan-kedutan di kepala penis saya.
“Ine, aku telah nggak kuat nih, senang keluar, sayang…” kata aku terhadap Ine.
“Iya Pak, Ine terhitung telah senang nampak ulang nih. Oohh… sshhh… aaahh… bareng ya Pak… cepetin dong genjotannya Pak…” pinta Ine.
Saya pun mempercepat genjotan aku terhadap lubang vagina Ine yang luar biasa itu, Ine mengimbanginya dengan ‘mengulek’ pantatnya dengan gerakan memutar yang sangat erotis, disempurnakan dengan sedotan alami di dalam vaginanya. Akhirnya aku tidak mampu bertahan lebih lama lagi, sambil mengerang panjang, tubuh aku mengejang.
“Ine… ahhh… hhh… aku nampak sayaang…”
Muncratlah air mani aku kedalam vaginanya. Disaat bersamaan, Ine pun mengejang sambil memeluk erat tubuh saya.
“Pak Erwiiin, Ine terhitung nampak paakk… sshhh… aaahh…”
Saya terkulai diatas tubuh Ine. Ine tetap memeluk tubuh aku dengan erat, sesekali pantatnya mengejang, tetap merasakan kenikmatan yang tiada taranya itu. Nafas kita memburu, keringat tak terhitung ulang banyaknya. Kami berciuman.
“Ine, menerima kasih yaa, memek kamu enak sekali” kata saya.
“Pak Erwin bahagia memek Ine?”
“Suka banget Ne, abis tersedia empot ayamnya sih” jawabku sambil mencium bibirnya. Kembali kita berpagutan.
“Dibandingin mirip Bu Ria, enakan mana Pak?” pancing Ine.
“Jauh lebih enak kamu sayang”
Ine tersenyum.
“Jadi, Pak Erwin senang ulang dong mirip Ine lain kali. Ine sayang mirip Pak Erwin”
Saya tidak menjawab, cuma tersenyum dan memeluk Ine. Pembantu ibu aku yang sekarang menjadi kekasih gelap saya.
Ine Si Pembantu Nakal
Reviewed by susan
on
Januari 10, 2019
Rating:



Tidak ada komentar: