Main Kuda-kudaan di Tengah Taman

cerita dewasa - Usiaku sudah nyaris menggapai tiga puluh lima, ya… kurang lebih 3 tahunan kembali lah. Aku tinggal bersama mertuaku yang sudah lama ditinggal mati suaminya akibat penyakit yang dideritanya. Dari itu istriku menghendaki saya tinggal di rumah supaya kami tetap berkumpul sebagai keluarga tidak terpisah. Di rumah itu kami tinggal 7 orang, ironisnya cuma saya dan anak laki-lakiku yang berumur 1 tahun berjenis kelamin cowok di rumah tersebut, lainnya cewek.

Jadi… begini nih ceritanya. Awal September selanjutnya saya tidak berkerja kembali dikarenakan mengundurkan diri. Hari-hari kuhabiskan di rumah bersama anakku, maklumlah dikala saya bekerja jarang sekali saya dekat bersama anakku tersebut. Hari demi hari kulalui tanpa tersedia keresahan untuk stok keperluan dapat dapat habis, saya cuek saja apalagi saya makin terbuai bersama kemalasanku.

Gambar terkait

Pagi kurang lebih pukul 9 wib, baru saya terbangun berasal dari tidur. Kulihat anak dan istriku tidak tersedia disamping, ah… mungkin kembali di teras cetusku di dalam hati. Saat saya berkenan turun berasal dari daerah tidur terdengar suara jeritan tangis anakku menuju arah pintu. saat itu juga itu pula pintu kamar terbuka bersama tergesanya. Oh… ternyata dia bersama tantenya Rosa yang tak lain adalah adik iparku, rupanya anakku berikut kembali pipis dicelana. Rosa mengganti celana anakku, “Kemana mamanya, Sa…?” tanyaku. “Lagi ke pasar Bang” jawabnya “Emang gak diberi tau, ya?” timpalnya lagi. Aku lihat Rosa pagi itu agak tidak benar tingkah, sebentar dia meihat kearah bawah selimut dan kemudian tidak benar memakaikan celana anakku. “Kenapa kamu?” tanyaku heran “hmm Anu bang…” sambil lihat kembali ke bawah.

“Oh… maaf ya, Sa?” terperanjat aku, rupanya selimut yang kupakai tidur sudah melorot 1/2 pahaku tanpa kusadari, saya kembali bugil. Hmmm… tadi malam abis tempur serupa sang istri sampai saya kelelahan dan lupa kenakan celana hehehe….

Anehnya, Rosa cuma tersenyum, bukan tersenyum malu, tambah beliau menyindir “Abis tempur ya, Bang. Mau dong…” Katanya tanpa ragu “Haaa…” Kontan aja saya terperanjat mendengar pengakuan itu. Malah kini saya jadi tidak benar tingkah dan berkeringat dingin dan bergegas ke toilet kamarku.

Dua hari setelah mengingat pengakuan Rosa kemarin pagi, saya tidak habis pikir kenapa dia mampu bicara seperti itu. Setahu saya tuh anak paling sopan tidak banyak bicara dan jarang bergaul. Ah… masa bodoh lah, jikalau tersedia kesempatan seperti itu kembali saya tidak dapat menyia-nyiakannya. Gimana gak saya sia-siakan, Tuh anak membawa badan yang benar-benar seksi, Kulit sawo matang, rambut lurus panjang. Bukannya sok bangga, dia identik kayak bintang film dan artis sinetron Titi kamal. Kembali moment yang kutunggu-tunggu datang, dikala itu rumah kami kembali sepi-sepinya. Istri, anak dan mertuaku pergi arisan ke daerah keluarga almahrum mertua laki sedang iparku satu kembali pas kuliah. Hanya saya dan Rosa di rumah. Sewaktu itu saya ke kamar mandi belakang untuk urusan “saluran air”, saya berpapasan bersama Rosa yang baru selesai mandi. Wow, dia cuma manfaatkan handuk menutupi buah dada dan separuh pahanya. Dia tersenyum akupun tersenyum, seperti mengisyaratkan sesuatu.

Selagi saya menyalurkan hajat tiba-tiba pintu kamar mandi tersedia yang menggedor.
“Siapa?” tanyaku
“Duhhhh… kan cuma kami berdua di rumah ini, bang” jawabnya.
“Oh iya, tersedia apa, Sa…?” tanyaku lagi
“Bang, lampu di kamar saya mati tuh”
“Cepatan dong!!”
“Oo… iya, bentar ya” balasku sambil mengkancingkan celana dan bergegas ke kamar Rosa.

Aku membawa kursi plastik untuk pijakan supaya saya mampu menggapai lampu yang dimaksud.
“Sa, kamu pegangin nih kursi ya?” perintahku “OK, bang” balasnya.
“Kok kamu belum pake baju?” tanyaku heran.
“Abisnya agak gelap, bang?”
“ooo…!?”
Aku mengusahakan menggapai lampu di atasku. Tiba-tiba saja entah bagaimana kursi plastik yang ku injak oleng ke arah Rosa. Dan… braaak saya jatuh ke ranjang, saya menekan Rosa..
“Ou…ou…” apa yang terjadi. Handuk yang menutupi bagian atas tubuhnya terbuka.
“Maaf, Sa”
“Gak apa-apa bang”
Anehnya Rosa tidak segera menutup handuk berikut saya masih berada diatas tubuhnya, malahan dia tersenyum kepadaku. Melihat perihal seperti itu, saya yakin dia merespon. Kontan aja barangku tegang.

Kami saling bertatap muka, entah energi apa mengalir ditubuh kami,
dengan berani kucium bibirnya, Rosa cuma terdiam dan tidak membalas.
“Kok kamu diam?”
“Ehmm… malu, Bang”
Aku paham dia belum dulu lakukan perihal ini. Terus saya melumat bibirnya yang tipis berbelah itu. Lama-kelamaan ia membalas juga, sampai bibir kami saling berpagutan. Kulancarkan serangan demi serangan, bersama bimbinganku Rosa jadi keluar mampu meladeni gempuranku. payudara miliknya kini jadi jajalanku, kujilati, kuhisap tambah kupelintir dikit.
“Ouhh… sakit, Bang. Tapi sedap kok”
“Sa… tubuh kamu bagus sekali, sayang… ouhmmm” Sembari saya melanjutkan kebagian perut, pusar dan kini nyaris dekat daerah kemaluannya. Rosa tidak melarang saya bertindak seperti itu, tambah ia makin gemas menjambak rambutku, sakit emang, tetapi saya diam saja.

Sungguh indah dan harum memeknya Rosa, maklum ia baru saja selesai mandi. Bulu terawat bersama potongan tipis. Kini saya menjulurkan lidahku memasuki liang vaginanya, ku hisap sekuatnya sangkin geramnya aku.
“Adauuu…. sakiiit” tentu saja ia melonjak kesakitan.
“Oh, maaf Sa”
“Jangan seperti itu dong” merintih ia
“Ayo lanjutin lagi” pintanya
“Tapi, giliran saya sekarang yang nyerang” aturnya kemudian

Tubuhku kini terlentang pasrah. Rosa segera saja menyerang daerah sensitifku, menjilatinya, menghisap dan mengocok bersama mulutnya.
“Ohhh… Sa, sedap kali sayang, ah…?” jikalau yang ini entah ia pelajari
dari mana, masa bodo ahh…!!
“Duh, gede benar-benar barang mu, Bang”
“Ohhh….”
“Bang, Rosa sudah tidak tahan, nih… masukin miliki mu, ya Bang”
“Terserah kamu sayang, abang termasuk tidak tahan” Rosa kini menyita posisi duduk di atas pas agak ke bawah perut ku. Ia jadi memegang kemaluanku dan mengarahkannya ke lubang vaginanya. awal mulanya agak sulit, tetapi setelah ia melumat dan membasahinya kembali baru agak sedikit ringan masuknya.
“Ouuu…ahhhhh….” … seluruh kemaluanku amblas di di dalam goa kenikmatan punya Rosa.
“Awwwh, Baaaang….. akhhhhh” Rosa jadi memompa bersama mendukung dadaku. Tidak cuma memompa kini ia jadi bersama gerakan maju mundur sambil meremas-remas payu daranya.

Hal berikut jadi perhatianku, saya tidak berkenan dia menikmatinya sendiri. Sambil bergoyang saya menyita posisi duduk, mukaku sudah menghadap payudaranya.Rosa makin histeris setelah kujilati kembali gunung indahnya.
“Akhhhh… saya sudah tidak tahan, bang. Mau keluar nih.
Awwwhhh??”
“Jangan dulu Sa, tahan ya bentar” cuma sekali balik kini saya sudah berada diatas tubuh Rosa genjotan demi genjotan kulesakkan ke memeknya. Rosa terjerit-jerit kesakitan sambil menekan pantatku bersama kedua tumit kakinya, seolah tidak cukup di dalam kembali kulesakkan.

“Ampuuuun…… ahhhh… trus, Bang”
“Baaang… goyangnya cepatin lagi, ahhhh… dah berkenan keluar nih”
Rosa tidak cuma merintih tetapi kini sudah menarik rambut dan meremas tubuhku.
“Oughhhhh… abang termasuk berkenan keluar, Zzhaa” kugoyang semangkin cepat, cepat dan benar-benar cepat sampai jeritku dan jerit Rosa membahana di ruang kamar.
Erangan panjang kami sudah jadi menampakan akhir pertandingan ini.
” ouughhhhh…. ouhhhhhh”
“Enak, Baaaangg….”
“Iya sayang…. ehmmmmmm” kutumpahkan spermaku seutuhnya ke di dalam vagina Rosa dan setelah itu ku sodorkan ****** ke mulutnya, kuminta ia supaya membersihkannya.
“mmmmmmuaaachhhhh…” dikecupnya punyaku setelah dibersihkannya dan itu tandanya permainan ini berakhir, kamipun tertidur lemas.

Kesempatan demi kesempatan kami lakukan, baik dirumah, kamar mandi, di hotel apalagi dikala sambil menggendongku anakku, dikala itu di ruang tamu. Dimanapu Rosa siap dan dimanapun saya siap

Akupun teringat omongan Pak Deran pas awal-awal saya berkenalan. dimana Pak Deran dulu bercerita sering wanita yang sudah bersuami di desanya dibuatnya kelenger oleh batang kemaluan, dan nama Deran adalah nama olok-oloknya kepanjangan berasal dari Gedi sak Jaran, sebesar miliki kuda, dan Pak Deran tak miliki daerah tinggal tetap supaya tidurnya berpindah-pindah di rumah teman-teman se desa nya yang tersedia di kotaku dan ia termasuk dulu bercerita padaku, istri temannya sering dia setubuhi pas suaminya tidur pulas.

Esok malamnya saya bersembunyi sebagian meter sebelum saat jalur masuk perumahanku dan sebagian pas kemudian berasal dari kejauhan kulihat Pak Deran tengah membonceng istriku bersama sepeda bututnya dan saya menyita posisi yang terlindung tetapi mampu lihat berasal dari dekat. Hatikupun berdegup kencang pas kulihat istriku bergayut menempelkan payudara kanannya ke pinggang Pak Deran dan kakiku nyaris tak mampu berdiri pas kulihat kedua tangan istriku tengah mengocok dan mengelus-elus batang kemaluan Pak Deran yang sebesar batang kemaluan kuda itu supaya saya sempat lihat jari-jari tangan istriku tak mampu menggenggam batang kemaluan Pak Deran.

Beberapa pas Pak Deran dan istriku berlalu, saya sedikit berlari supaya saya sampai di rumah sebelum saat istriku dan Pak Deran sampai bersama menyita jalur pintas, tetapi dikarenakan tidak cukup hati-hati saya terperosok dan kurasakan kakiku terkilir, supaya saya tak mampu berlangsung cepat. Akupun mengusahakan berlangsung bersama menyeret kakiku, dan akhirnya bersama ada problem payah saya sampai di rumah. Aku lewat pintu dapur dan kulihat sepeda Pak Deran tersedia di balik rerimbunan pintu samping.

Dengan perlahan saya masuk dan menuju ruang tamu bersama hati-hati dan kudengar suara “croop croop” berasal dari ruang tamu, akupun terhubung sedikit selambu yang menutup ruang tamu dan ruang tengah, matakupun seakan terlepas berasal dari tempatnya pas kulihat istriku tengah berjongkok di depan Pak Deran dan tengah mengulum batang kemaluan Pak Deran yang besar panjang dan berurat-urat sebesar cacing tanah supaya mulut istriku ada problem mengukum batang kemaluannya yang benar-benar besar itu, sedang tangan kanan Pak Deran menyusup di blouse kuning istriku tengah meremas-remas payudara kiri istriku dan tangan kanan Pak Deran membelaibelai rambut pendek istriku.

Punggung kaki kanan Pak Deran tengah menggosok-ngosok selangkangan istriku yang duduk jongkok terkangkang dan di atas meja tamu kulihat BH tipis cream dan celana di dalam merah istriku tergeletak di dekat tas kerja istriku.

“Oooooohhhhh. …eeuuunaak Bu Yatii ?!!!!!” kudengar Pak Deran mendesis, akupun benar-benar tak kuat mendukung tubuhku bersama satu kaki lihat istriku tengah “membayar” kebaikan Pak Deran untuk menjemputnya berasal dari jalur raya, supaya akupun jatuh tersungkur dan memicu istriku dan Pak Deran kaget.

“Bu Yati, mungkin suami ibu ..????” kudengar bisikan Pak Deran. Merekapun berlari mendapatiku tersungkur. “Kenapa, mas? tanya istriku. Aku tak menjawab dan merekapun paham kakiku terkilir dikarenakan celanaku berlepotan tanah.

Akhirnya akupun dipijat oleh Pak Deran dan sebetulnya agak berkurang sakitnya. Akupun disuruh Pak Deran beristirahat dan Pak Deran dapat kembali esok pagi. Pak Deran pun berpamitan dan Kudengar istriku mendesis pelan sebelum saat pintu depan ditutup.

Setelah pak Deran pergi, istriku menanyakanku darimana dan kujawab saya dapat menjemput nya tadi, tetapi ditengah jalur terjatuh.

Keesokkan paginya Pak Deran singgah dan memijitku kembali dan terakhir saya tak paham kenapa Pak Deran menusuk-nusuk batang kemaluanku bersama sarung kerisnya dan Pak Deran memberiku ramuan untuk diminumkan kepadaku oleh istriku.

Pagi itu istriku kenakan daster berasal dari kaos yang agak ketat, daster ini kesukaanku dikarenakan membawa resleting di depan sampai ke perut dan saya paham pagi itu istriku tak mengenakan BH dikarenakan kedua puting susu istriku yang besar menonjol berasal dari daster kaos ketatnya dan istriku merias diri seperti dapat berangkat kerja.

Istriku dan Pak Deran keluar berasal dari kamar, sambil menarik pintu kamar, dapat tetapi tidak tertutup rapat dan masih sedikit terbuka, setelah saya berpura-pura tidur supaya saya masih mampu mendengar percakapan mereka. “Sudah, Jeng Yati…..!!! ” terdengar kata Pak Deran menyebut istriku “Jeng”. “Aku masih takut, Pak ……!!!!” bisik istriku “Ayo dicoba saja, Jeng Yati…..!!! ,” bisik kembali Pak Deran.

Kemudian Istriku masuk kamar kembali dan saya sedikit kaget pas istriku mengelus elus batang kemaluanku dan saya pura-pura terbangun, pas batang kemaluanku segera bangun, kemudian istriku melewatkan celana di dalam nya. “Eeeeehhh… Diikkk, apa… Pak Deran sudah pulang….? tanyaku “Sudah…!!! ” istriku menjawab singkat dan kini mengocok batang kemaluan ku, sambil naik keatas daerah tidur dan mengkangkangkan kedua kaki di atas tubuhku, pas selangkangannya mendekati batang kemaluanku dan….. “Crot crot crot” tak tahan aku, air maniku lansung keluar pas melekat bulu-bulu kemaluan istriku. “Aaaaahhhhhh. ….maaasssss. …..!!!! !,” bisik istriku yang terus mengocok batang kemaluan ku dan tak lama kemudian mampu berdiri kembali dan untuk kedua kalinya airmaniku tersenbur kembali pas masih melekat di bulu-bulu kemaluan istriku . “Mas kok, begini terus. Sudah berapa bulan, mas. Aku sudah pingin sekali, mas. Aku pingin penyaluran.. !!” kata istriku sambil melap air maniku di bulu-bulu kemaluan nya. Kemudian Istriku keluar kamar dan kudengar bisikan Pak Deran “nanti malam…,yaaa. . , Jeng Yati…!!!”

Siangnya saya mencegah sakit di batang kemaluan dan utamanya di lubang kencingku sebelum saat istriku berangkat mengajar, saya tak mengatakan pada istriku dan akupun terkulai dan tertidur sampai kudengar pintu depan terbuka pas istriku pulang. “Pak Deran saya masih takut, aahhhh…..! !” terdengar bisikan istriku “Ayo, cepat, Jeng Yati,….” suara mendesak Pak Deran berbisik.

Aku menutup wajahku berpura pura tidur pas istriku masuk kamar dan kulihat istriku merias diri dan melewatkan seluruh yang melekat tubuh sintal istriku tak jikalau celana di dalam dan BHnya pun tak kembali di tempatnya dan menyita kaim panjang dan melilitkan ketubuh sintalnya supaya lekuk tubuh istriku dimana kedua payudara dan kedua puting nya menonjol di bagian dada dan pantat bahenol nya. “Mas mas ..!!!” istriku membangunkanku. “Eeeh ? tersedia apa, dik….?” tanyaku “Eee ? saya eeee ?. Pak Deran berkenan mijit saya mas?!!!” kata istriku terbata-bata. “Lho, kamu sakit atau terjatuh…. ?? tanyaku. “Eehh enggak mas, ee katanya dia mampu kurangi nafsuku ..!!!!” kata istriku mengagetkanku. Tapi lidahku kelu, tak mampu berbicara. “Maass kan tak mampu memuaskanku, sedang saya pingin sekali, Pak Deran mampu kurangi nafsuku, mas, bolehkan…. ????” saya cuma diam dan diam, istriku pun menganggapku setuju.

“Paaakk…Pak Deran, ayoo…masuk siniii…, pak..!!!” istriku memanggil Pak Deran. Pak Deran yang mengenakan sarung membawa tas plastik itupun masuk kamarku. Kemudian istriku tidur tengkurap diatas daerah tidur disampingku bersama posisinya berlawanan denganku supaya kaki istriku di dekat kepalaku dan Pak Deran duduk dipinggir ranjang, serta jadi memijat betis istriku, telapak kaki dan kemudian kedua tangan istriku. Kelihatan pijatan Pak Deran wajar-wajar saja, sampai akhirnya Pak Deran memijat tengkuk istriku dan kulihat mulutnya komat kamit seperti membaca sesuatu, kemudian Pak Deran meniup tengkuk istriku dan…..terdengar istriku mendesis “Eccch ?eeeeccchhhhh. …!!” 2 kali dan ke 3 kalinya istriku makin mendesis. “Dibalik badannya, Jeng….!!!! !!” perintah Pak Deran pada istriku dan Pak Deran memijat kedua tangan istriku dan kemudian kaki istriku.

Pak Deran akhirnya memijit punggung dan telapak kaki istriku dan istriku makin mendesis-desis dan tubuhnya jadi meregang. “Ini mulai, Jeng Yati,…!!!” kata Pak Deran makin intensif memijit telapak kaki istriku dan istriku makin lama makin meregangkan kedua kakinya dan kedua lututnya makin tertekuk. Begitu Pak Deran memijat kedua pergelangan kaki istriku, istriku segera mengkangkangkan kedua kakinya supaya keluar olehku selangkangan istriku yang ditumbuhi bulu-bulu lebat…. “Wuuh Jeng Yati benar-benar tinggi ini..!!!” kata Pak Deran dan tangan kanannya menggapai tas plastiknya dan kuingat Mbah Muklis, dan Pak Deran terhubung bungkusan yang memuat sarung keris sebesar batang kemaluan orang dewasa tetapi tanpa keris dan di tempatkan satu diantara kedua kaki istriku yang terkangkang tanpa sepengetahuan istriku.

Pak Deran berdiri dan mendudukkan istriku dan Pak Deran kemudian duduk bersila di belakang istriku, Pak Deran memijat tengku istriku kembali dan meniup niup tengkuk istriku dan kulihat kedua tangan istriku lunglai dan istriku mendesis desis sedang sarung keris itu merayap mendekato selangkangan istriku dimana istriku makin mengkangkangkan kedua kakinya. Istriku makin lunglai dan tubuh istriku rebah ke dada Pak Deran yang sudah mengkangkangkan kedua kaki di samping tubuh istriku “Paak apa ituuuu…paaakkkk? !!!!” istriku mendesis pas sarung keris sebesar batang kemaluan dewasa melekat di selangkangannya dan pantat bahenolnya pun bergetar. “Paaak apaaa oooooooccccchhhhh ….paaakkkk ?!!!!!!!” istriku merintih panjang. “Biar nafsumu keluar, Jeng…..!!! !” kata Pak Deran dan kulihat sarung keris sebesar batang kemaluan dewasa bergetar dan kudengar bunyi “kecepak di selangkangan istriku, sambil pantat bahenol bergetar.

Aku cuma mampu melotot lihat sarung keris sebesar batang kemaluan dewasa jadi menguak bibir vagina istriku dan memicu istriku mengkangkangkan kedua kaki nya lebih lebar-lebar lagi. “Paaaaak Deraaan ooooohhhhh.. ..kookkkk masuuuk?..paaakkkk. …!!!!!” istriku merintih dan kulihat sarung keris sebesar batang kemaluan dewasa itu jadi menembus masuk liang vagina istriku. “Apanya yang masuk, Jeng …..???? tanya Pak Deran berpura pura. “Nggak paham paaak..iiiii. ..oooooggggghhhh hhh…… paaakkkk. ….!!!!” istriku mendesis “Lho, masuk kemana…..? ” tanya kembali Pak Deran “EEEcccgggghhhhh. .. ke…keeee.. . amuuukuuuu?paaaakkkk ?!!!!” istriku merintih dan jadi menceracau tandanya nafsu nya sudah jadi naik. “Anu, apa Jeng Yati….? “OOcch anuu….kuuu. … paaaak,….! !!!” istriku merintih-rintih dan kedua tangan Pak Deran jadi turun ke kedua lengan istriku dan….. “Paaaak….jaaaa. …jaaangaannnn. ..paaaakkkkk. …aaaa.. ..aaaaaddaaa. .. ….ssuuuu.. suu….. uuuamikuuuu. .paaaakkkkkkk. ….!!!!! ” istriku mendesis panjang terputus-putus pas kedua tangan keriput Pak Deran jadi meremas-remas kedua payudaranya, “Anu apa, Jeng Yati…..? bisik Pak Deran di telinga kanan istriku dimana kepalanya terkulai dibahu kiri Pak Deran. Sementara itu, ujung tumpul sarung keris sebesar batang kemaluan dewasa itu berputar menggetarkan pantat bahenol istriku dan “Toroookkuuuuuu paaaaak adaa yang….maaaaa. .. maaaasuuk toroookkuuuu? !!” istriku meracau dan “Hhhhuuuuuaaaaggggg hhhhhh… .aaaaaaaddduuuuu uhhhhh… …beee.. beeesaaa arrrrr…… aaaammmmmaaaatttttt ….paaaakkkkkk ?..!!!!” rintih istriku dan sarung keris sebesar batang kemaluan dewasa menembus makin di dalam liang vagina nya. “Ayo….jeeengg. sambil… dilihat.. ..!!!!,” kata Pak Deran ringan sambil menyungkapkan kain panjang istriku sampai selangkangan istriku keluar dan Pak Deran menundukkan kepala istriku yang lunglai ke selangkangan nya, yang jadi dijejali sarung keris sebesar batang kemaluan dewasa itu. “Iiiiihhhhhhh. …aaaaappaaa iiiiniii…. paaaaaakkkkkk ?!!!!!” rintih istriku, kemudian… “Beeeuuuuzzzaaarrrr ..aaaaammaaaaatt tt….paaaakkkkk? .ooooo hhhh…paaakkkk. …!!!!!” istriku merintih pas dia lihat sarung keris sebesar batang kemaluan dewasa itu menembus masuk ke liang vaginanya dan kulihat bibir vagina istriku menggelembung seolah-olah ditiup, dikarenakan desakan sarung keris besar itu di di dalam liang vagina nya supaya dia makin mengkangkangkan kedua kaki nya lebar-lebar.

Istriku mengerang-erang keras cocok bersama meluncur keluar masuknya sarung keris berikut menembus liang vaginanya… “Nngngngaaaaaaaccch hhh ??beeezzaaaaaarrr hghghghghghhh ??!!!!!” sambil kepala nya lunglai bersandar di bahu kiri Pak Deran dan kedua tangan keriput Pak Deran menyusup ke kain panjang bagian atas istriku dan bersama gemasnya Pak Deran meremas-remas payudara istriku yang menggelinjang- gelinjang, pas mulut istriku merintih-rintih, mengerang dan menggeram, dan apalagi badannya kemudian mengejan-ngejan bersama keras dikarenakan sarung keris besar berikut jadi menghujam makin di dalam keluar masuk di liang vagina nya.

Sementara itu, Pak Deran berhasil melewatkan ikatan kain panjang istriku dan terkuaklah kedua payudara montok istriku, selanjutnya kedua tangan keriput Pak Deran jadi meremas remas kembali bersama ganas kedua payudara istriku dan jari-jari tangan Pak Deran memelintir sambil menarik-narik kedua puting susu istriku secara bergantian seolah Pak Deran tengah merempon sapi betina yang sudah waktunya mengeluarkan air susunya. “Paaaaaak ??oooooooohhhhh. …..paaaakkkk. ..!!!” rintih istriku pas mulut Pak Deran mencaplok payudara kanannya dan tak lama setelah itu bunyi “sreep sreep” terdengar tandanya air susu istriku sudah keluar akibat jilatan lidah Pak Deran di puting susu kanan istriku. Pak Deran membentangkan tangan kanan istriku yang lunglai supaya Pak Deran ringan mengempot payudara istriku dan kulihat istriku benar- benar menikmati perlakuan Pak Deran, penjaga malam itu, pas pantat bahenolnya bergoyang, berputar maju mundur akibat sarung keris yang keluar masuk di liang vagina nya dan tubuhnya terus bergetar hebat, nafas istriku mendengus-dengus oleh perbuatan Pak Deran di payudara nya dan sarung keris sebesar batang kemaluan dewasa yang menghujam keluar masuk makin cepat di liang vagina istriku memicu ia mandi keringat dan….. “Paaaak…paaaaakkk k Deraaaaaan.. .aaaaa… .aaaaaakuuu. …..oooccccchhh hh…paaaaaak ….aaa aa….aaaakuuu nggaaaaaak taahaaaan ? aaaa…aaakuuuu. ..keee… .keeeluaaaar ?paaaaakkkkk. …..!!!! ” istriku mengerang keras dan pantat bahenol istriku tersentak sentak bersama kuat dikala dia mengalami orgasme yang dasyaattt malam itu.

Rupanya sarung keris sebesar batang kemaluan dewasa di liang vagina nya tak berhenti termasuk keluar masuk di liang vagina nya dan apalagi makin cepat memicu nafas istriku makin mendengus-dengus seperti kuda betina yang digenjot tuannya untuk berlari kencang, dimana pantat bahenol nya tersentak-sentak dan terangkat angkat tak karuan dan Pak Deran yang sudah menggunakan air susu payudara kanan istriku, segera mencaplok dan mengempot dan menyedot nyedot payudara kiri istriku pas jari-jari tangan kanan Pak Deran tak henti-hentinya mremelintir sambil menarik-narik puting susu kanan istriku dan istrikupun mengangkat pinggulnya ke atas dannnn “Paaaaak…ooohhhhh ……… .aaaa…aaakuuuu u keluar lagiiiiiiiiii ??.paaakkkkk.. .. !!!!!” istriku mengerang menggapai orgasme keduanya. Pak Deran rupanya sudah tak sabar kembali dan dia menidurkan istriku yang sudah mengkangkangkan kedua kaki dan mulutnya komat kamit. Selanjutnya, sarung keris sebesar batang kemaluan dewasa itu pun keluar dan keluar berasal dari liang vagina istriku dan seolah paham perintah, sarung keris itu masuk ke tempatnya awal mulanya dan Pak Deran menutupkan sarungnya di kedua kaki istriku yang sudah kegatalan inginkan disetubuhi Pak Deran, penjaga malam perumahanku dan “Hgggggggggghhhhhh ??..aaaaaaagggghhhhhh hh……! !!!!!” kudengar suara istriku menggeram pas kulihat pantat Pak Deran jadi turun naik satu diantara kedua kaki istriku yang terkangkang lebar seolah punggung istriku digebuk keras. “ppppfffaaaak ?. amppffuuuuunnnn ?.beeezzzzzaaaaaarrr seeekaliiiiiii kontooolmuuu paaaaak ? hhhgggggggggghhhhhh h ?..rooobeeeeek naaatniiii liaaaangkuuuu paaaaaak hhhgggggggggghhhhhh ?.!!!!!” Kulihat kedua jari-jari tangan istriku yang lunglai itu mencengkeram lengan Pak Deran yang mendukung tubuhnya pas menggenjot batang kemaluan nya ke liang vagina istriku dan entah dikarenakan kebesaran kedua kaki istriku terkangkang lebar, supaya sarung Pak Deran pun tersingkap dan betapa kagetnya saya pas kulihat batang kemaluan Pak Deran sebesar kuda itu sudah separuh menjejali liang vagina istriku, dimana bibir vagina istriku seolah-olah ditiup menggelembung besar dikarenakan desakan batang kemaluan sebesar kuda Pak Deran itu.

Pak Deran berhenti menghujamkan batang kemaluan sebesar kuda nya pas istriku melenguh keras dan pingsan. Aku mengira Pak Deran dapat melewatkan batang kemaluannya yang sebesar kuda berasal dari liang vagina istriku yang pingsan, tetapi mulut Pak Deran komat kamit dan begitu muka istriku ditiup oleh Pak Deran, istriku pun tersadar kembali dan Pak Deran menjejalkan kembali batang kemaluan sebesar kuda nya ke liang vagina istriku supaya kudengar gemeletuk gigi istriku merasakan liang vagina seolah robek. Pak Deran kini mempermainkan kelentit istriku dan istriku jadi mengerang kembali beroleh kenikmatan keinginan seksualnya, supaya bunyi “cek cek” lendir vagina istriku terdengar kembali tandanya nafsu istriku jadi naik dan suara lendir vagina istriku makin keras dan seperti tak yakin kulihat batang kemaluan sebesar kuda Pak Deran jadi masuk ke di dalam liang vagina istriku perlahan tetapi pasti. “kontolmu besaaar ? kontolmu besaaar paaak eeeccch saya nggak pernaaaah merasakan uuummpppfff paaaakk akuuuu oooocccch paaaaaaakk engngngngngngngng ??.”istriku mengejan keras pas menggapai orgasme ketiganya malam itu dan perihal itu memudahkan batang kemaluan sebesar kuda Pak Deran makin masuk ke liang vagina istriku yang berlendir dikarenakan orgasmenya supaya tak kusangka batang kemaluan sebesar kuda Pak Deran amblas keseluruhan ke liang vagina istriku dan Pak Deran menindih tubuh istriku

Kulihat kedua tangan Pak Deran meremas remas kedua payudara istriku kembali, mulutnya mengulum bibir merah istriku dan istriku meladeni kuluman Pak Deran dan kulihat lidah Pak Deran menyusup ke rongga mulut istriku dan menjilati di dalam rongga istriku yang kian terangsang kembali dimana jari-jari tangan istriku meremas remas punggung Pak Deran dan Pak Deran jadi menggoyangkan pantatnya dan istriku mencengkeram punggung Pak Deran disertai nafas istriku mendengus- dengus dan tak lama kemudian pantat bahenol tersentak sentak menggapai orgasmenya ke empat. Malam itu, Pak Deran menyetubuhi istriku tanpa henti dan saya cuma mampu menghitung pantat bahenol istriku tersentak sentak lebih berasal dari enam kali dan akhirnya Pak Deran menggenjot pantatnya naik turun makin lama makin cepat dan menghujam kan batang kemaluan sebesar kuda diserati erangan panjang dan bunyi “preet preeet”berulang kembali berasal dari liang vagina istriku pas Pak Deran menumpahkan airmaninya di rahim istriku.

Keesokkan paginya Pak Deran baru pulang meninggalkan istriku yang nyaris pingsan dan seharian istriku tak mampu turun berasal dari daerah tidur dikarenakan liang vagina dan bibir vagina istriku membengkak.

Hari-hari berikutnya, istriku menolak bersama halus pas Pak Deran mengajak istriku bersetubuh dan sebagai gantinya sering kulihat istriku mengulum batang kemaluan sebesar kuda Pak Deran dan istriku tetap mengusahakan menelan air mani Pak Deran pas Pak Deran ejakulasi di mulut istriku .

Rupanya istriku nyaris tiap hari mengulum batang kemaluan sebesar kuda Pak Deran dan apalagi sering kulihat dua kali sehari dan perihal ini merontokkan kebugaran Pak Deran yang akhirnya jatuh sakit dan pulang ke desanya.

Main Kuda-kudaan di Tengah Taman Main Kuda-kudaan di Tengah Taman Reviewed by susan on Januari 10, 2019 Rating: 5

Tidak ada komentar: