cerita dewasa - ini terjadi dikala aku masih umur 14 tahun. Aku yang baru saja lulus SD bingung sudi kemana, melanjutkan sekolah nggak mungkin sebab Bapakku telah satu tahun yang selanjutnya meninggal. Sedangkan Ibuku cuma penjual nasi bungkus di universitas dan ke-2 kakakku pergi entah bagaimana kabarnya. Sebab sejak pamitan sudi merantau ke Pulau Bali nggak dulu ada kabar bahkan hingga Bapak meninggalpun juga nggak tahu. Adik perempuanku yang masih kelas dua SD juga memerlukan biaya.
Akhirnya aku cuma bisa main-main saja sebab meski aku anak laki-laki hanya satu aku sudi kerja masih belum kuat dan kuatir untuk pergi merantau tanpa ada yang mengajak. Suatu dikala ada saudara Bapakku yang berkunjung bersama seorang tamu laki-laki. Kata pamanku dia memerlukan orang yang sudi menjaga rumahnya dan menjaga taman. Setelah aku berpikir panjang aku selanjutnya sudi bersama mempertimbangkan kondisi Ibuku.

Berangkatlah aku ke kota Jember tepatnya di perumahan daerah kampus. Aku terkagum-kagum bersama tempat tinggal juragan baruku ini, disamping rumahnya besar halamannya juga luas. Juraganku sebut saja namanya Pak Beni, Ia Jajaran direksi Bank ternama di kota Jember, Ia mempunya dua Anak Perempuan yang satu baru saja berkeluarga dan yang bungsu kelas 3 SMA namanya Kristin, usianya kira-kira 18 tahun. Sedangkan istrinya membuka usaha sebuah toko busana yang juga terbilang berhasil di kota tersebut, dan masih ada satu pembantu perempuan Pak Beni namanya Bik Miatun usianya kira-kira 27 tahun.
Teman Kristin banyak sekali tiap-tiap malam minggu selamanya berkunjung kerumah kadang pulang hingga larut malam, hingga aku tak bisa tidur sebab harus nunggu rekan Non Kristin pulang untuk mengunci gerbang, kadang juga bergadang hingga pukul 04.00. Mungkin kacapekan atau sebetulnya ngantuk usai bergadang malam minggu, yang jelas pagi itu kamar Non Kristin masih terkunci berasal dari dalam. Aku nggak peduli sebab bagiku bukan tugasku untuk membuka kamar Non Kristin, aku cuma ditugasi jaga tempat tinggal dikala Pak Beni dan Istrinya Pergi kerja dan menjaga tamannya saja.
Pagi itu Pak Beni dan Istrinya pamitan sudi terlihat kota, katanya baru pulang minggu malam agar dirumah itu tinggal aku, Bik Miatun dan Non Kristin. Jam telah menunjukkan pukul 08.00 namun Non Kristin masih belum bangun juga dan Bik Miatun telah selesai memasak.
“Jono, aku sudi membeli tolong pintu gerbang dikunci.”
“Iya Bik!” jawabku sambil menyiram tanaman didepan rumah. Setelah Bik Miatun pergi aku mengunci pintu gerbang.
Setelah selesai menyiram taman yang sebetulnya memadai luas aku berniat mematikan kran yang ada di belakang. Sesampai didepan kamar mandi aku mendengar ada suara air berkecipung kulihat kamar Non Kristin sedikit terbuka bermakna yang mandi Non Kristin. Tiba-tiba timbul tekad untuk mengintip. Aku mencoba mengintip berasal dari lubang kunci, ternyata tubuh Non Kristin mulus dan susunya terlampau kenyal, kuamati terus sementara Non Kristin menyiramkan air ke tubuhnya, bersama perasaan berdegap aku masih belum beranjak berasal dari tempatku semula.
Baru pertama ini aku menyaksikan tubuh perempuan tanpa tertutup sehelai benang. Sambil terus mengintip, tanganku juga memegangi penisku yang sebetulnya telah tegang, kulihat Non Kristin membersihkan sabun keseluruh badannya aku nggak melepaskan begitu saja sambil tanganku terus memegangi penis. Aku cepat-cepat pergi, sebab Non Kristin telah selesai mandinya namun sebab gugup aku segera masuk ke kamar WC yang sebetulnya berada berdampingan bersama kamar mandi, disitu aku sembunyi sambil terus memegangi penisku yang berasal dari tadi masih tegang.
Cukup lama aku di di dalam kamar WC sambil terus mengayalkan yang baru saja kulihat, sambil terus merasakan nikmat aku tidak jelas kalau Bik Miatun berada didepanku. Aku baru jelas sementara Bik Miatun menegurku,
“Ayo.. ngapain kamu.”
Aku terperanjat cepat-cepat kututup resleting celanaku, betapa malunya aku.
“Ng.. nggak Bik..” kataku sambil cepat-cepat keluat berasal dari kamar WC. Sialan aku lupa ngunci pintunnya, gerutuku sambil cepat-cepat pergi.
Esoknya usai aku menyiram taman, aku berniat ke belakang untuk mematikan kran, namun sebab ada Bik Miatun membersihkan kuurungkan tekad itu.
“Kenapa kok kembali?” tanya Bik Miatun.
“Ah.. enggak Bik..” jawabku sambil terus ngeloyor pergi.
“Lho kok nggak kenapa? Sini saja nemani Bibik mencuci, lagian kerjaanmu kan telah selesai, bantu aku menyiramkan air ke busana yang bakal dibilas,” pinta Bik Miatun.
Akhirnya akupun menuruti keinginan Bik Miatun. Entah sengaja memancing atau sebetulnya kebiasaan Bik Miatun tiap-tiap membersihkan busana selamanya tingkatkan jaritnya diatas lutut, menyaksikan pemandangan seperti itu, jantungku berdegap begitu cepat
“Begitu putihnya paha Bik Miatun ini” pikirku, selanjutnya bayanganku merasa nakal dan berimajinasi untuk bisa mengelus-ngelus paha putih Bik Miatun.
“Heh! kenapa menyaksikan begitu!” pertanyaan Bik Miatun membuyarkan lamunanku
“Eh.. ngg.. nggak Bik” jawabku bersama gugup.
“Sebentar Bik, aku sudi membuang air besar” kataku, selanjutnya aku segera masuk kedalam WC, namun kali ini aku tak lupa untuk mengunci pintunya.
Hobisex69 – Didalam WC aku cuma bisa mengayalkan paha mulus Bik Miatun sambil memegangi penisku yang sebetulnya telah menegang cuma sementara itu aku nggak merasakan apa-apa, cuma penis ini tegang saja. Akhirnya aku terlihat dan kulihat Bik Miatun masih asik bersama cucianya.
“Ngapain kamu tadi di dalam Jon?” tanya Bik Miatun.
“Ah.. nggak Bik cuma membuang air besar saja kok,” jawabku sambil menyiramkan air terhadap cuciannya Bik Miatun.
“Ah yang bener? Aku jelas kok, aku tadi sempat menguntit kamu, aku penasaran jangan-jangan kamu laksanakan seperti kemarin ee..nggak taunya benar,” kata Bik Miatun
“Hah..? menjadi Bibik mengintip aku?” tanyaku sambil menunduk malu.
Tanpa banyak berbicara aku segera pergi.
“Lho.. kok pergi?, sini Jon belum selesai nyucinya, tenang saja Jon aku nggak bakal cerita kepada siapa-siapa, kamu nggak usah malu mirip Bibik ” panggil Bik Biatun.
Kuurungkan niatku untuk pergi.
“Ngomong-ngomong gimana rasanya sementara kamu laksanakan seperti tadi Jon?” tanya Bik Miatun.
“Ah nggak Bik,”jawabku sambil malu-malu.
“Nggak gimana?” tanya Bik Miatun seolah-olah sudi menyelidiki aku.
“Nggak usah diteruskan Bik aku malu.”
“Malu mirip siapa? Lha wong di sini cuma kamu mirip aku kok, Non Kristin juga sekolah, Pak Beny kerja?” kata Bik Miatun.
“Iya malu mirip Bibik, sebab Bibik telah jelas milikku,” jawabku.
“Oalaah gitu aja kok malu, sebelum jelas milikmu aku telah dulu jelas pada mulanya punya mantan suamiku dulu, sedap ya?”
“Apanya Bik?” tanyaku
“Iya rasanya to..?” gurau Bik Miatun tanpa memperdulikan aku yang bingung dan malu padanya.
“Sini kamu..” kata Bik Miatun sambil menyuruhku untuk mendekat, tiba-tiba tangan tangan Bik Miatun memegang penisku.
“Jangan Bik..!!” sergahku sambil mengusahakan meronta, namun sebab pegangannya kuat rasanya sakit kalau terus kupaksakan untuk meronta.
Akhirnya aku cuma diam saja dikala Bik Miatun memegangi penisku yang masih di dalam celana pendekku. Pelan namun tentu aku merasa menikmati pegangan tangan Bik Miatun terhadap penisku. Aku cuma bisa diam sambil terus melek merem merasakan nikmatnya pegangan tangan Bik Miatun. selanjutnya Bik Miatun merasa melepaskan kancing celanaku dan melorotkanya kebawah. Penisku telah merasa tegang dan tanpa rasa jijik Bik Miatun Jongkok dihadapanku dan menjilati penisku.
“Ach.. Bik.. geli,” kataku sambil memegangi rambut Bik Miatun.
Bik Miatun nggak peduli dia terus saja mengulum penisku, Bik Miatun berdiri selanjutnya membuka kancing bajunya sendiri namun tidak semuanya, kulihat pemandangan yang menyembul didepanku yang masih terbungkus kain kutang bersama ragu-ragu kupegangi. Tanpa merasa malu, Bik Miatun membuka tali kutangnya dan melepaskan aku terus memegangi susu Bik Miatun, dia mendesah sambil tangannya terus memegangi penisku. Tanpa malu-malu kuemut pentil Bik Miatun.
“Ach.. Jon.. terus Jon..”
Aku masih terus laksanakan perintah Bik Miatun, sesudah itu Bik Miatun kembali memasukkan penisku kedalam mulutnya. aku cuma bisa mendesah sambil memegangi rambut Bik Miatun.
“Bik aku seperti sudi pipis,” selanjutnya Bik Miatun segera melepaskan kulumannya dan menyingkapkan jaritnya yang basah, kulihat Bik Miatun nggak Mengenakan celana dalam.
“Sini Jon..,” Bik Miatun mengambil posis duduk, selanjutnya aku mendekat.
“Sini.. masukkan penismu kesini.” sambil tangannya menunjuk bagian selakangannya.
Dibimbingnya penisku untuk masuk ke di dalam vagina Bik Miatun.
“Terus Jon tarik, dan masukkan kembali ya..”
“Iya Bik” kuturuti keinginan Bik Miatun, selanjutnya aku merasakan seperti pipis, namun rasanya nikmat sekali.
Setelah itu aku menyandarkan tubuhku terhadap tembok.
“Jon.. gimana, jelas kan rasanya sekarang?” tanya Bik Miatun sambil membenarkan tali kancingnya.
“Iya Bik..”jawabku.
Esoknya tiap-tiap isi tempat tinggal mobilisasi aktivitasnya, aku selamanya laksanakan adegan ini bersama Bik Miatun. Saat itu hari Sabtu, kami nggak nyangka kalau Non Kristin pulang pagi. Saat kami sedang asyik laksanakan kuda-kudaan bersama Bik Miatun, Non Kristin memergoki kami.
” Hah? Apa yang kalian lakukan! Kurang ajar! Awas nanti tak laporkan terhadap papa dan mama, kalian!”
Melihat Non Kristin kami gugup bingung, “Jangan Non.. ampuni kami Non,” rengek Bik Miatun.
“Jangan laporkan kami terhadap tuan, Non.”
Akupun juga kuatir kalau hingga dipecat, selanjutnya kami menangis di depan Non Kristin, mungkin Non Kristin iba juga menyaksikan rengekan kami berdua.
“Iya telah jangan diulangi kembali Bik!!” bentak Non Kristin.
“Iy.. iya Non,” jawab kami berdua.
Esoknya seperti biasa Non Kristin selamanya bangun siang kalau hari minggu, sementara itu Bik Miatun juga sedang membeli sedang Pak Beny dan Istrinya ke Gereja, sementara aku meyirami taman, berasal dari belakang kudengar Non Kristin memanggilku,
“Joon!! Cepat sini!!” teriaknya.
“Iya Non,” akupun bergegas kebelakang namun aku tidak menemukan Non Kristin.
“Non.. Non Kristin,” panggilku sambil mencari Non Kristin.
“Tolong ambilkan handuk dikamarku! Aku tadi lupa nggak membawa,” teriak Non Kristin yang ternyata berada di di dalam kamar mandi.
“Iya Non.”
Akupun pergi mengambilkan handuk dikamarnya, sesudah kuambilkan handuknya “Ini Non handuknya,” kataku sambil menunggu diluar.
“Mana cepat..”
“Iya Non, tapi..”
“Tapi apa!! Pintunya dikunci..”
Aku bingung gimana cara mengimbuhkan handuk ini terhadap Non Kristin yang ada didalam? Belum sempat aku berpikir, tiba-tiba kamar mandi terbuka. Aku terperanjat hampir tidak percaya Non Kristin telanjang bulat didepanku.
“Mana handuknya,” pinta Non Kristin.
“I.. ini Non,” kuberikan handuk itu terhadap Non Kristin.
“Kamu telah mandi?” tanya Non Kristin sambil mengambil handuk yang kuberikan.
“Be..belum Non.”
“Kalau belum, ya.. sini sekalian mandi bareng mirip aku,” kata Non Kristin.
Belum sempat aku terperanjat bakal ucapan Non Kristin, tiba-tiba aku telah berada di dalam satu kamar mandi bersama Non Kristin, aku cuma bengong dikala Non Kristin melucuti kancing bajuku dan membuka celanaku, aku baru jelas dikala Non Kristin memegang milikku yang berharga.
“Non..,” sergahku.
“Sudah mengikuti saja perintahku, kalau tidak sudi kulaporkan perbuatanmu bersama Bik Miatun terhadap papa,” ancamnya.
Aku nggak bisa berbuat banyak, sebagai Laki-laki normal tentu kelakuan Non Kristin menyebabkan birahiku, sambil tangan Non Kristin bergerilya di bawah perut, bibirnya mencium bibirku, akupun membalasnya bersama ciuman yang lembut. Lalu kuciumi buah dada Non Kristin yang singsat dan padat. Non Kristin mendesah, “Augh..”
Kuciumi, selanjutnya aku tertuju terhadap selakangan Non Kristin, kulihat bukit kecil satu diantara paha Non Kristin yang ditumbuhi bulu-bulu halus, belum begitu lebat aku coba untuk memegangnya. Non Kristin diam saja, selanjutnya aku arahkan bibirku satu diantara selakangan Non Kristin.
“Sebentar Jon..,” kata Non Kristin, selanjutnya Non Kristin mengambil posisi duduk dilantai kamar mandi yang sebetulnya memadai luas bersama kaki dilebarkan, ternyata Non Kristin berikan kelaluasaan padaku untuk terus menciumi vaginanya.
Melihat peluang itu tak kusia-siakan, aku segera melumat vaginanya kumainkan lidahku didalm vaginanya.
“Augh.. Jon.. Jon,” erangan Non Kristin, aku merasakan ada cairan yang mengalir berasal dari di dalam vagina Non Kristin. Melihat erangan Non Kristin kulepaskan ciuman bibirku terhadap vagina Non Kristin, seperti yang diajarkan Bik Miatun kumasukkan jemari tanganku terhadap vagina Non Kristin. Non Kristin makin mendesah, “Ugh Jon.. terus Jon..,” desah Non kristin. Lalu kuarahkan penisku terhadap vagina Non Kristin.
Bless.. bless.. Batangku bersama enteng masuk kedalam vagina Non Kristin, ternyata Non Kristin telah nggak perawan, kata Bik Miatun seorang dikatakan perawan kalau pertama kali laksanakan hubungan intim bersama Laki-laki berasal dari vaginanya mengeluarkan darah, sedang sementara kumasukkan penisku ke di dalam vagina Non Kristin tidak kutemukan darah.
Kutarik, kumasukkan kembali penisku seperti yang dulu kulakukan terhadap Bik Miatun sebelumnya. “Non.. aku.. sudi terlihat Non.”
“Keluarkan saja di dalam Jon..”
“Aggh.. Non.”
“Jon.. terus Jon..”
Saat aku telah merasa sudi keluar, kubenamkan seluruh batang penisku kedalam vagina Non Kristin, selanjutnya gerkkanku makin cepat dan cepat.
“Ough.. terus.. Jon..”
Kulihat Non Kristin menikmati gerakanku sambil memegangi rambutku, tiba-tiba kurasakan ada cairan hangat menyemprot ke penisku sementara itu juga aku juga merasakan ada yang terlihat berasal dari penisku nikmat rasanya. Kami berdua masih terus berangkulan keringat tubuh kami bersatu, selanjutnya Non Kristin menciumku.
“Terima kasih Jon kamu hebat,” bisik Non Kristin.
“Tapi aku kuatir Non,” kataku.
“Apa yang kamu takutkan, aku puas, kamu jangan takut, aku nggak bakal bilang mirip papa” kata Non Kristin. Lalu kami mandi berbarengan bersama tawa dan gurauan kepuasan.
Sejak sementara itu tiap-tiap hari aku harus melayani dua wanita, kalau di tempat tinggal cuma ada aku dan Bik Miatun, maka aku melakukannya bersama Bik Miatun. Sedang tiap-tiap Minggu aku harus melayani Non Kristin, bahkan kalau malam hari seluruh telah tidur, tak jarang Non Kristin mencariku di luar tempat tinggal daerah aku jaga dan di situ kami melakukannya.
Akhirnya aku cuma bisa main-main saja sebab meski aku anak laki-laki hanya satu aku sudi kerja masih belum kuat dan kuatir untuk pergi merantau tanpa ada yang mengajak. Suatu dikala ada saudara Bapakku yang berkunjung bersama seorang tamu laki-laki. Kata pamanku dia memerlukan orang yang sudi menjaga rumahnya dan menjaga taman. Setelah aku berpikir panjang aku selanjutnya sudi bersama mempertimbangkan kondisi Ibuku.

Berangkatlah aku ke kota Jember tepatnya di perumahan daerah kampus. Aku terkagum-kagum bersama tempat tinggal juragan baruku ini, disamping rumahnya besar halamannya juga luas. Juraganku sebut saja namanya Pak Beni, Ia Jajaran direksi Bank ternama di kota Jember, Ia mempunya dua Anak Perempuan yang satu baru saja berkeluarga dan yang bungsu kelas 3 SMA namanya Kristin, usianya kira-kira 18 tahun. Sedangkan istrinya membuka usaha sebuah toko busana yang juga terbilang berhasil di kota tersebut, dan masih ada satu pembantu perempuan Pak Beni namanya Bik Miatun usianya kira-kira 27 tahun.
Teman Kristin banyak sekali tiap-tiap malam minggu selamanya berkunjung kerumah kadang pulang hingga larut malam, hingga aku tak bisa tidur sebab harus nunggu rekan Non Kristin pulang untuk mengunci gerbang, kadang juga bergadang hingga pukul 04.00. Mungkin kacapekan atau sebetulnya ngantuk usai bergadang malam minggu, yang jelas pagi itu kamar Non Kristin masih terkunci berasal dari dalam. Aku nggak peduli sebab bagiku bukan tugasku untuk membuka kamar Non Kristin, aku cuma ditugasi jaga tempat tinggal dikala Pak Beni dan Istrinya Pergi kerja dan menjaga tamannya saja.
Pagi itu Pak Beni dan Istrinya pamitan sudi terlihat kota, katanya baru pulang minggu malam agar dirumah itu tinggal aku, Bik Miatun dan Non Kristin. Jam telah menunjukkan pukul 08.00 namun Non Kristin masih belum bangun juga dan Bik Miatun telah selesai memasak.
“Jono, aku sudi membeli tolong pintu gerbang dikunci.”
“Iya Bik!” jawabku sambil menyiram tanaman didepan rumah. Setelah Bik Miatun pergi aku mengunci pintu gerbang.
Setelah selesai menyiram taman yang sebetulnya memadai luas aku berniat mematikan kran yang ada di belakang. Sesampai didepan kamar mandi aku mendengar ada suara air berkecipung kulihat kamar Non Kristin sedikit terbuka bermakna yang mandi Non Kristin. Tiba-tiba timbul tekad untuk mengintip. Aku mencoba mengintip berasal dari lubang kunci, ternyata tubuh Non Kristin mulus dan susunya terlampau kenyal, kuamati terus sementara Non Kristin menyiramkan air ke tubuhnya, bersama perasaan berdegap aku masih belum beranjak berasal dari tempatku semula.
Baru pertama ini aku menyaksikan tubuh perempuan tanpa tertutup sehelai benang. Sambil terus mengintip, tanganku juga memegangi penisku yang sebetulnya telah tegang, kulihat Non Kristin membersihkan sabun keseluruh badannya aku nggak melepaskan begitu saja sambil tanganku terus memegangi penis. Aku cepat-cepat pergi, sebab Non Kristin telah selesai mandinya namun sebab gugup aku segera masuk ke kamar WC yang sebetulnya berada berdampingan bersama kamar mandi, disitu aku sembunyi sambil terus memegangi penisku yang berasal dari tadi masih tegang.
Cukup lama aku di di dalam kamar WC sambil terus mengayalkan yang baru saja kulihat, sambil terus merasakan nikmat aku tidak jelas kalau Bik Miatun berada didepanku. Aku baru jelas sementara Bik Miatun menegurku,
“Ayo.. ngapain kamu.”
Aku terperanjat cepat-cepat kututup resleting celanaku, betapa malunya aku.
“Ng.. nggak Bik..” kataku sambil cepat-cepat keluat berasal dari kamar WC. Sialan aku lupa ngunci pintunnya, gerutuku sambil cepat-cepat pergi.
Esoknya usai aku menyiram taman, aku berniat ke belakang untuk mematikan kran, namun sebab ada Bik Miatun membersihkan kuurungkan tekad itu.
“Kenapa kok kembali?” tanya Bik Miatun.
“Ah.. enggak Bik..” jawabku sambil terus ngeloyor pergi.
“Lho kok nggak kenapa? Sini saja nemani Bibik mencuci, lagian kerjaanmu kan telah selesai, bantu aku menyiramkan air ke busana yang bakal dibilas,” pinta Bik Miatun.
Akhirnya akupun menuruti keinginan Bik Miatun. Entah sengaja memancing atau sebetulnya kebiasaan Bik Miatun tiap-tiap membersihkan busana selamanya tingkatkan jaritnya diatas lutut, menyaksikan pemandangan seperti itu, jantungku berdegap begitu cepat
“Begitu putihnya paha Bik Miatun ini” pikirku, selanjutnya bayanganku merasa nakal dan berimajinasi untuk bisa mengelus-ngelus paha putih Bik Miatun.
“Heh! kenapa menyaksikan begitu!” pertanyaan Bik Miatun membuyarkan lamunanku
“Eh.. ngg.. nggak Bik” jawabku bersama gugup.
“Sebentar Bik, aku sudi membuang air besar” kataku, selanjutnya aku segera masuk kedalam WC, namun kali ini aku tak lupa untuk mengunci pintunya.
Hobisex69 – Didalam WC aku cuma bisa mengayalkan paha mulus Bik Miatun sambil memegangi penisku yang sebetulnya telah menegang cuma sementara itu aku nggak merasakan apa-apa, cuma penis ini tegang saja. Akhirnya aku terlihat dan kulihat Bik Miatun masih asik bersama cucianya.
“Ngapain kamu tadi di dalam Jon?” tanya Bik Miatun.
“Ah.. nggak Bik cuma membuang air besar saja kok,” jawabku sambil menyiramkan air terhadap cuciannya Bik Miatun.
“Ah yang bener? Aku jelas kok, aku tadi sempat menguntit kamu, aku penasaran jangan-jangan kamu laksanakan seperti kemarin ee..nggak taunya benar,” kata Bik Miatun
“Hah..? menjadi Bibik mengintip aku?” tanyaku sambil menunduk malu.
Tanpa banyak berbicara aku segera pergi.
“Lho.. kok pergi?, sini Jon belum selesai nyucinya, tenang saja Jon aku nggak bakal cerita kepada siapa-siapa, kamu nggak usah malu mirip Bibik ” panggil Bik Biatun.
Kuurungkan niatku untuk pergi.
“Ngomong-ngomong gimana rasanya sementara kamu laksanakan seperti tadi Jon?” tanya Bik Miatun.
“Ah nggak Bik,”jawabku sambil malu-malu.
“Nggak gimana?” tanya Bik Miatun seolah-olah sudi menyelidiki aku.
“Nggak usah diteruskan Bik aku malu.”
“Malu mirip siapa? Lha wong di sini cuma kamu mirip aku kok, Non Kristin juga sekolah, Pak Beny kerja?” kata Bik Miatun.
“Iya malu mirip Bibik, sebab Bibik telah jelas milikku,” jawabku.
“Oalaah gitu aja kok malu, sebelum jelas milikmu aku telah dulu jelas pada mulanya punya mantan suamiku dulu, sedap ya?”
“Apanya Bik?” tanyaku
“Iya rasanya to..?” gurau Bik Miatun tanpa memperdulikan aku yang bingung dan malu padanya.
“Sini kamu..” kata Bik Miatun sambil menyuruhku untuk mendekat, tiba-tiba tangan tangan Bik Miatun memegang penisku.
“Jangan Bik..!!” sergahku sambil mengusahakan meronta, namun sebab pegangannya kuat rasanya sakit kalau terus kupaksakan untuk meronta.
Akhirnya aku cuma diam saja dikala Bik Miatun memegangi penisku yang masih di dalam celana pendekku. Pelan namun tentu aku merasa menikmati pegangan tangan Bik Miatun terhadap penisku. Aku cuma bisa diam sambil terus melek merem merasakan nikmatnya pegangan tangan Bik Miatun. selanjutnya Bik Miatun merasa melepaskan kancing celanaku dan melorotkanya kebawah. Penisku telah merasa tegang dan tanpa rasa jijik Bik Miatun Jongkok dihadapanku dan menjilati penisku.
“Ach.. Bik.. geli,” kataku sambil memegangi rambut Bik Miatun.
Bik Miatun nggak peduli dia terus saja mengulum penisku, Bik Miatun berdiri selanjutnya membuka kancing bajunya sendiri namun tidak semuanya, kulihat pemandangan yang menyembul didepanku yang masih terbungkus kain kutang bersama ragu-ragu kupegangi. Tanpa merasa malu, Bik Miatun membuka tali kutangnya dan melepaskan aku terus memegangi susu Bik Miatun, dia mendesah sambil tangannya terus memegangi penisku. Tanpa malu-malu kuemut pentil Bik Miatun.
“Ach.. Jon.. terus Jon..”
Aku masih terus laksanakan perintah Bik Miatun, sesudah itu Bik Miatun kembali memasukkan penisku kedalam mulutnya. aku cuma bisa mendesah sambil memegangi rambut Bik Miatun.
“Bik aku seperti sudi pipis,” selanjutnya Bik Miatun segera melepaskan kulumannya dan menyingkapkan jaritnya yang basah, kulihat Bik Miatun nggak Mengenakan celana dalam.
“Sini Jon..,” Bik Miatun mengambil posis duduk, selanjutnya aku mendekat.
“Sini.. masukkan penismu kesini.” sambil tangannya menunjuk bagian selakangannya.
Dibimbingnya penisku untuk masuk ke di dalam vagina Bik Miatun.
“Terus Jon tarik, dan masukkan kembali ya..”
“Iya Bik” kuturuti keinginan Bik Miatun, selanjutnya aku merasakan seperti pipis, namun rasanya nikmat sekali.
Setelah itu aku menyandarkan tubuhku terhadap tembok.
“Jon.. gimana, jelas kan rasanya sekarang?” tanya Bik Miatun sambil membenarkan tali kancingnya.
“Iya Bik..”jawabku.
Esoknya tiap-tiap isi tempat tinggal mobilisasi aktivitasnya, aku selamanya laksanakan adegan ini bersama Bik Miatun. Saat itu hari Sabtu, kami nggak nyangka kalau Non Kristin pulang pagi. Saat kami sedang asyik laksanakan kuda-kudaan bersama Bik Miatun, Non Kristin memergoki kami.
” Hah? Apa yang kalian lakukan! Kurang ajar! Awas nanti tak laporkan terhadap papa dan mama, kalian!”
Melihat Non Kristin kami gugup bingung, “Jangan Non.. ampuni kami Non,” rengek Bik Miatun.
“Jangan laporkan kami terhadap tuan, Non.”
Akupun juga kuatir kalau hingga dipecat, selanjutnya kami menangis di depan Non Kristin, mungkin Non Kristin iba juga menyaksikan rengekan kami berdua.
“Iya telah jangan diulangi kembali Bik!!” bentak Non Kristin.
“Iy.. iya Non,” jawab kami berdua.
Esoknya seperti biasa Non Kristin selamanya bangun siang kalau hari minggu, sementara itu Bik Miatun juga sedang membeli sedang Pak Beny dan Istrinya ke Gereja, sementara aku meyirami taman, berasal dari belakang kudengar Non Kristin memanggilku,
“Joon!! Cepat sini!!” teriaknya.
“Iya Non,” akupun bergegas kebelakang namun aku tidak menemukan Non Kristin.
“Non.. Non Kristin,” panggilku sambil mencari Non Kristin.
“Tolong ambilkan handuk dikamarku! Aku tadi lupa nggak membawa,” teriak Non Kristin yang ternyata berada di di dalam kamar mandi.
“Iya Non.”
Akupun pergi mengambilkan handuk dikamarnya, sesudah kuambilkan handuknya “Ini Non handuknya,” kataku sambil menunggu diluar.
“Mana cepat..”
“Iya Non, tapi..”
“Tapi apa!! Pintunya dikunci..”
Aku bingung gimana cara mengimbuhkan handuk ini terhadap Non Kristin yang ada didalam? Belum sempat aku berpikir, tiba-tiba kamar mandi terbuka. Aku terperanjat hampir tidak percaya Non Kristin telanjang bulat didepanku.
“Mana handuknya,” pinta Non Kristin.
“I.. ini Non,” kuberikan handuk itu terhadap Non Kristin.
“Kamu telah mandi?” tanya Non Kristin sambil mengambil handuk yang kuberikan.
“Be..belum Non.”
“Kalau belum, ya.. sini sekalian mandi bareng mirip aku,” kata Non Kristin.
Belum sempat aku terperanjat bakal ucapan Non Kristin, tiba-tiba aku telah berada di dalam satu kamar mandi bersama Non Kristin, aku cuma bengong dikala Non Kristin melucuti kancing bajuku dan membuka celanaku, aku baru jelas dikala Non Kristin memegang milikku yang berharga.
“Non..,” sergahku.
“Sudah mengikuti saja perintahku, kalau tidak sudi kulaporkan perbuatanmu bersama Bik Miatun terhadap papa,” ancamnya.
Aku nggak bisa berbuat banyak, sebagai Laki-laki normal tentu kelakuan Non Kristin menyebabkan birahiku, sambil tangan Non Kristin bergerilya di bawah perut, bibirnya mencium bibirku, akupun membalasnya bersama ciuman yang lembut. Lalu kuciumi buah dada Non Kristin yang singsat dan padat. Non Kristin mendesah, “Augh..”
Kuciumi, selanjutnya aku tertuju terhadap selakangan Non Kristin, kulihat bukit kecil satu diantara paha Non Kristin yang ditumbuhi bulu-bulu halus, belum begitu lebat aku coba untuk memegangnya. Non Kristin diam saja, selanjutnya aku arahkan bibirku satu diantara selakangan Non Kristin.
“Sebentar Jon..,” kata Non Kristin, selanjutnya Non Kristin mengambil posisi duduk dilantai kamar mandi yang sebetulnya memadai luas bersama kaki dilebarkan, ternyata Non Kristin berikan kelaluasaan padaku untuk terus menciumi vaginanya.
Melihat peluang itu tak kusia-siakan, aku segera melumat vaginanya kumainkan lidahku didalm vaginanya.
“Augh.. Jon.. Jon,” erangan Non Kristin, aku merasakan ada cairan yang mengalir berasal dari di dalam vagina Non Kristin. Melihat erangan Non Kristin kulepaskan ciuman bibirku terhadap vagina Non Kristin, seperti yang diajarkan Bik Miatun kumasukkan jemari tanganku terhadap vagina Non Kristin. Non Kristin makin mendesah, “Ugh Jon.. terus Jon..,” desah Non kristin. Lalu kuarahkan penisku terhadap vagina Non Kristin.
Bless.. bless.. Batangku bersama enteng masuk kedalam vagina Non Kristin, ternyata Non Kristin telah nggak perawan, kata Bik Miatun seorang dikatakan perawan kalau pertama kali laksanakan hubungan intim bersama Laki-laki berasal dari vaginanya mengeluarkan darah, sedang sementara kumasukkan penisku ke di dalam vagina Non Kristin tidak kutemukan darah.
Kutarik, kumasukkan kembali penisku seperti yang dulu kulakukan terhadap Bik Miatun sebelumnya. “Non.. aku.. sudi terlihat Non.”
“Keluarkan saja di dalam Jon..”
“Aggh.. Non.”
“Jon.. terus Jon..”
Saat aku telah merasa sudi keluar, kubenamkan seluruh batang penisku kedalam vagina Non Kristin, selanjutnya gerkkanku makin cepat dan cepat.
“Ough.. terus.. Jon..”
Kulihat Non Kristin menikmati gerakanku sambil memegangi rambutku, tiba-tiba kurasakan ada cairan hangat menyemprot ke penisku sementara itu juga aku juga merasakan ada yang terlihat berasal dari penisku nikmat rasanya. Kami berdua masih terus berangkulan keringat tubuh kami bersatu, selanjutnya Non Kristin menciumku.
“Terima kasih Jon kamu hebat,” bisik Non Kristin.
“Tapi aku kuatir Non,” kataku.
“Apa yang kamu takutkan, aku puas, kamu jangan takut, aku nggak bakal bilang mirip papa” kata Non Kristin. Lalu kami mandi berbarengan bersama tawa dan gurauan kepuasan.
Sejak sementara itu tiap-tiap hari aku harus melayani dua wanita, kalau di tempat tinggal cuma ada aku dan Bik Miatun, maka aku melakukannya bersama Bik Miatun. Sedang tiap-tiap Minggu aku harus melayani Non Kristin, bahkan kalau malam hari seluruh telah tidur, tak jarang Non Kristin mencariku di luar tempat tinggal daerah aku jaga dan di situ kami melakukannya.
Majikan Ku Menodai Ku
Reviewed by susan
on
Januari 10, 2019
Rating:
Reviewed by susan
on
Januari 10, 2019
Rating:



Tidak ada komentar: